Kamis, 10 Desember 2015

ikhlas



A.  Pendahuluan
Keikhlasan berarti memenuhi perintah Allah tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadi atau balasan apapun. Seseorang yang ikhlas akan berpaling kepada Allah dengan hatinya dan hanya ingin mendapatkan ridha-Nya atas setiap perbuatan, langkah, kata-kata, dan do’anya. Jadi, ia benar-benar yakin kepada Allah dan mencari kebajikan semata.
Dalam banyak ayat Al-Qur’an, ditekankan agar perbuatan baik itu dilakukan hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah. Akan tetapi, beberapa orang berusaha untuk mengabaikan kenyataan ini. Mereka tidak pernah berkaca pada kebersihan niat di dalam hari mereka saat melakukan suatu pekerjaan, memberi nasihat, menolong orang, atau berkorban. Mereka percaya bahwa perbutan mereka sudah cukup, dengan menganggap bahwa mereka telah menunaikan tugas agama. Di dalam makalah ini, kita akan mengetahui lebih jauh mengenai keutamaan ikhlas, dan bagaimana kita memperoleh keikhlasan yang selama ini belum kita peroleh secara utuh keihlasan tersebut. dan ketahuilah bahwa ihklas adalah sesuatu yang yang tak diketahui diri, tak bisa di catat malaikat, tak dapat disesatkan, serta tidak bisa disimpangkan hawa nafsu jika kita telah mendapatkan keikhlasan secara utuh dalam diri kita.

B.  Pengertian Ikhlas
Ikhlas, artinya bersih, murni, dan bening. Dalam suatau kalimat kita sering mendengarkan kata “ma’un khalis”, artinya air putih, jernih, tidak tercampur dengan apa-apa. Orang yang ikhlas disebut mukhlis. [1]
Ikhlas ialah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, dari berbagai tendensi pribadi. Ada pula yang berpendapat bahwa ikhlas adalah merefleksikan setiap tujuan semata hanya kepada Allah swt.[2]
Pendapat para ulama tentang esensi ikhlas, ikhlas adalah tidak mengharap ganti di dunia dan di akhirat. Ini mengisyaratkan bahwa bagian nafsu dan mengutamakan kehendak nafsu merupakan cacat ikhlas. Suatu amalan yang dilakukan agar nafsu bisa bersenang-senang di surga tidaklah ikhlas, bahkan cacat. Yang ikhlas itu amalan yang dilakukan demi Allah Ta’ala, bukan karena berharap mendapatkan kenikmatan surga atau terhindar dari siksa neraka. Oleh karena itu, ada seorang ‘arif yang ketika ditanya, “Apa yang paling berat bagi nafsu?” Ia menjawab, “Ikhlas. Karena nafsu tidak punya bagian dalam ikhlas.”[3]
Pendapat ulama lain mengenai ikhlas, ikhlas adalah beramal karena Allah dan tidak suka dipuji karena amal tersebut. ini juga menunjukkan pemurnian amal dari riya’, tak peduli apapun pujian orang lain atas amal tersebut. karena pujian merupakan salah satu faktor paling kuat yang menodai keikhlasan. Pendapat ini diceritakan dari Isa a.s. saat orang-orang Hawari bertanya tentang ikhlas kepada beliau. Al-Junayd juga dikisahkan pernah berkata, “Ikhlas adalah pemurnian amal dari berbagai noda.” Al-Fudhail berkata, “meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Yang ikhlas adalah yang dibebaskan Allah dari keduanya.” Ada pula yang berkata bahwa yang disebut ikhlas itu adalah terus-menerus muraqabah (merasa diawasi oleh Allah) dan melupakan seluruh keuntungan diri dari amalannya.”[4]
Dalam perbuatan dan ibadahnya, seorang mukmin sejati tidak pernah berusaha untuk mendapatkan cinta, kepuasan, penghargaan, perhatian, dan pujian dari siapapun kecuali Allah. Adanya keinginan untuk mendapatkan semua itu dari manusia adalah tanda bahwa ia gagal menghadapkan wajahnya kepada Allah dengan keikhlasan dan kesucian.[5] Dalam kenyataan, kita sering menemukan orang yang melakukan perbuatan-perbuatan baik atau melakukan ibadah untuk tujuan-tujuan lain selain mendapatkan keridhaan Allah. Sebagai contoh, ada orang yang menyombongkan diri karena menolong orang miskin atau bermaksud mendapatkan kehormatan saat ia melakukan perintah agama yang penting, seperti shalat.
Siapa saja yang menginginkan supaya dirinya terlihat menonjol, sebenarnya ia mencari keridhaan orang lain, bukan Allah. Seorang mukmin sejati harus benar-benar cermat menghindarkan dirinya untuk pamer saat menolong orang lain, bertingkah laku baik, beribadah, ataupun berkorban. Satu-satunya tujuan orang yang ikhlas beriman kepada Allah hanyalah mendapatkan keridhaan Allah.
Dari Umamah r.a. yang mengatakan bahwa telah datang seorang laki-laki kepada Rasul saw. dan bertanya, “Apakah pendapat Tuan tentang seseorang yang berperang dengan tujuan mencari pahala popularitas diri, dan kelak apa yang akan dia dapatkan?” Rasulullah saw. menjawab, “Dia tidak mendapatkan apa-apa!” Orang itu mengulangi pertanyaan tersebut sampai tiga kali, tetapi Rasulullah tetap menjawab nya, “Dia tidak menerima apa-apa!” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang murni dan hanya mengharap ridha-Nya.”[6]
Hakikat ikhlas merupakan inti dzikir, yakni dzikir samar yang didalamnya seorang salik dapat mencapai kondisi fana. Ia fana dan fana dari fananya. Ia tak lagi merasakan kuburnya serta tidak merasakan perasaannya.[7]
Dari Abu Sa’id al-Khudry r.a., dari Nabi saw. yang bersabda ketika menunaikan haji wada’, “semoga Allah menjadikan baik, orang yang mendengar  ucapanku lalu memahaminya, sebaab banyak orang yang menyampaikan ilmu (memahami agama), tetapi dia bukan seorang yang faqih (memahami esensinya). Tiga perkara yang menjadikan hati seorang mukmin tidak akan menjadi pengkhianat: Ikhlas beramal karena Allah, memberikan nasihat yang baik kepada para pemimpin kaum Muslimin dan senantiasa komitmen terhadap jamaah.” [8]
Ikhlas itu berlawanan dengan Isyrak (persekutuan). Barang siapa tidak ikhlas, maka ia orang yang menyekutukan. Hanya saja syirik itu beberapa tingkat. Maka ikhlas dalam hal tauhid itu berlawanan dengan tasyrik (persekutuan) dalam hal ketuhanan. Dan syirik itu sebagiannya tersembunyi dan sebagiannya jelas. Begitu pula ikhlas.[9]
Ikhlas dan lawannya itu sering datang pergi atas hati. Maka tempatnya adalah hati, dan sesungguhnya demikian itu pada maksud dan niat, dan bahwa niat itu kecuali pada memenuhi panggilan pendorong-pendorong. Manakala pendorong itu semata-mata, maka perbuatan yang timbul dari padanya dinamakan ikhlas dengan dikaitkan kepada apa yang diniati.
Maka barang siapa bersadaqah dan maksudnya adalah riya’ semata-mata, maka ia adalah yang ikhlas, dan barang siapa yang maksudnya dalah mendekatkn diri kepada Allah semata, maka ia adalah orang yang ikhlas. teteapi kebiasaan itu berlalu dengan mengkhususkan nama ikhlas dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah dari semua campuran, sebagaimana ilhad (kekufuran) adalah ibarat dari kecenderungan, tetapi itu dikhususkan oleh adat kebiasaan dengan kecenderungan dari kebiasaan dan barang siapa penggeraknya itu semata-mata riya’, maka  ia menghadapi kebinasaan.
Dari Amirul-Mukminin Abu Hafs Umar bin Khattab bi Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib al-Quraisy al-‘Adawi ra.; ia berkata: “kudengar Rasulullah saw. bersabda:” Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya, dan bahwa apa yang diperoleh seseorang adalah sesuai dengan  yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang diniatkannya dalam hijrah itu” (Muttafaq Alaih). Diriwayatkan oleh Imamnya para ahli hadits Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Mughirah Bardizban Al-Ju’fi Al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi Annaisaburira. Semoga Allah meridlai keduanya atas kitab mereka sebagai kitab paling shahih yang pernah disusun.
Para Ulama sepakat, bahwa niat itu adalah suatu keharusan dalam sebuah amal, agar dapat memberikan pahala sesuai dengan kriteria amal tersebut. Namun para ulama juga menjelaskan bahwa niat merupakan syarat bagi keabsahan sebuah amal. Ulama Syafi’iyah berpendapat: “Selain dalam ibadah inti shalat misalnya, niat juga merupakan syarat bagi ibadah yang menjadi wasilah (perantara), wudhu misalnya. “Sementara madzhab Hanafi berpendapat bahwa niat merupakan syarat bagi ibadah inti atau ibadah perantara atau komplemen. Tempat niat adalah di dalam hati dan tidak dipersyaratkan untuk mengucapkannya di mulut. Dan ikhlas kepada Allah swt. merupakan salah satu dari sekian banyak syarat diterimanya sebuah amal, karena Allah tidak akan menerima amal, kecuali amal yang tulus dan murni dilakukan untuk diri-Nya.[10]
C.    Keutamaan Ikhlas 
  Ayat Pertama
وَمَاأُمِرُواإِلَّا لِيَعْبُدُواٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُواٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُواٱلزَّكَوٰةَ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ ﴿٥
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”[11]
وما أمروا في سائر الشرائع إلا ليعبدوا الله وحده قاصدين بعبادتهم وجهه، مائلين عن الشرك إلى الإيمان، ويقيموا الصلاة، ويُؤَدُّوا الزكاة، وذلك هو دين الاستقامة، وهو الإسلام
(Padahal mereka tidak disuruh) di dalam kitab-kitab mereka yaitu Taurat dan Injil (kecuali menyembah Allah) kecuali supaya menyembah Allah, pada asalnya adalah An Ya'budullaaha, lalu huruf An dibuang dan ditambahkan huruf Lam sehingga jadilah Liya'budullaaha (dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam beragama) artinya membersihkannya dari kemusyrikan (dengan lurus) maksudnya berpegang teguh pada agama Nabi Ibrahim dan agama Nabi Muhammad bila telah datang nanti. Maka mengapa sewaktu ia datang mereka menjadi jadi ingkar kepadanya (dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama) atau tuntunan (yang mustaqim) yang lurus.
Pokok-pokok agama yang disampaikan Muhammad tidak berbeda dari kepercayaan mereka, yaitu taat dan ikhlas menyembah Allah.[12]
Wa mā umirū (padahal mereka tidak diperintah) dalam kitab-kitab itu.
Illā li ya‘budullāha (kecuali supaya mengibadahi Allah), yakni supaya mengesakan Allah Ta‘ala.
Mukhlishīna lahud dīna (dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya) dengan jalan bertauhid.
Hunafā-a (secara lurus), yakni menjadi orang-orang Muslim.
Wa yuqīmush shalāta (dan supaya mereka mendirikan shalat), yakni menyempurnakan shalat lima waktu sesudah bertauhid.
Wa yu’tuz zakāta (serta menunaikan zakat), yakni dan sesudah itu mengeluarkan zakat harta mereka. Sesudah itu Dia Berfirman:
Wa dzālika (dan itulah), yakni tauhid itulah.
Dīnul qayyimah (agama yang lurus), yakni agama yang hak dan lurus serta tidak ada penyimpangan di dalamnya. Menurut yang lain, wa dzālika (dan itulah), yakni tauhid itulah; dīnul qayyimah (agama yang lurus), yakni agama para malaikat. Ada yang berpendapat, agama yang lurus. Dan ada pula yang berpendapat, agama Ibrahim a.s.
2.      Ayat Kedua
أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَٰذِبٌ كَفَّارٌ ﴿٣
“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), "Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”[13]
Ketika seseorang telah menetapkan hati hanya kepada Allah, menghilangkan segala sesuatau kecuali ridha Allah, harapan satu-satunya hanyalah Allah, apa yang dilakukan hanya untuk Allah, maka hatinya telah ikhlas. Keikhlasan itu akan membawa pada ketenangan menuju Allah, kapan saja dan dimana saja.[14]
ألا لله وحده الطاعة التامة السالمة من الشرك، والذين أشركوا مع الله غيره واتخذوا من دونه أولياء، قالوا: ما نعبد تلك الآلهة مع الله إلا لتشفع لنا عند الله، وتقربنا عنده منزلة، فكفروا بذلك؛ لأن العبادة والشفاعة لله وحده، إن الله يفصل بين المؤمنين المخلصين والمشركين مع الله غيره يوم القيامة فيما يختلفون فيه من عبادتهم، فيجازي كلا بما يستحق. إن الله لا يوفق للهداية إلى الصراط المستقيم من هو مفترٍ على الله، كَفَّار بآياته وحججه
(Ingatlah, hanya kepada Allahlah ketaatan yang murni itu) tiada seorang pun yang berhak menerimanya selain-Nya. (Dan orang-orang yang mengambil selain-Nya) yang mengambil berhala-berhala (sebagai pelindung) mereka adalah orang-orang kafir Mekah yang mengatakan, ("Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.") yakni untuk mendekatkan diri kami kepada-Nya. Lafal Zulfaa adalah Mashdar yang maknanya sama dengan lafal Taqriiban/mendekatkan diri. (Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka) dan kaum Muslimin (tentang apa yang mereka berselisih padanya) tentang masalah agama, maka kelak orang-orang yang beriman akan masuk surga dan orang-orang yang kafir akan masuk neraka. (Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang yang pendusta) yaitu orang yang mengatakan terhadap Allah, bahwa Dia mempunyai anak (lagi sangat ingkar) karena menyembah kepada selain-Nya.
Amal manusia dinilai sesuai dengan tujuannya, baik ataukah buruk. Peringatan agar tidak bergaul dengan orang yang suka berbuat dzalim dan curang, dan anjuran untuk berteman dengan mereka yang gemar melakukan kebaikan. Pemberitahuan Rasulullah saw. tentang hal-hal ghaib yang wajib diimani sebagaimana apa adanya, dan hal itu akan terjadi seperti yang diberitakan oleh Rasulullah. Karena beliau tidak pernah berkata berdasarkan hawa nafsu.[15]
Alā lillāhi (ingatlah, hanya Kepunyaan Allah-lah) semua manusia.
Ad-dīnul khālish (agama yang murni), yakni beragama secara ikhlas dan tidak terkontaminasi oleh apa pun.
Wal ladzīnattakhadzū (dan orang-orang yang mengambil), yakni yang menyembah.
Miη dūnihī (selain-Nya), yakni selain Allah Ta‘ala. Mereka adalah orang-orang kafir Mekah.
Auliyā-a (sebagai pelindung), yakni sebagai tuhan-tuhan: al-Lata, al-‘Uza, dan Manat. Mereka berkata:
Mā na‘buduhum illā li yuqarribūnā ilallāhil zulfā (“Kami tidak menyembah mereka [berhala-berhala itu] melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya), yakni kedekatan dalam meraih kedudukan dan syafaat.
Innallāha yahkumu bainahum (sesungguhnya Allah akan Memutuskan di antara mereka) dan kaum Mukminin.
Fī mā hum fīhi (tentang apa yang mereka padanya), yakni mengenai persoalan agama.
Yakhtalifūn (berselisih), yakni pertentangkan.
Innallāha lā yahdī (sesungguhnya Allah tidak akan Menunjuki), yakni tidak akan membimbing kepada Agama-Nya.
Man huwa kādzībun (orang-orang yang pendusta) terhadap Allah Ta‘ala.
Kaffār (lagi sangat ingkar) kepada Allah Ta‘ala. Mereka adalah orang-orang Yahudi, Nasrani, Bani Malih, Majusi, dan kaum musyrikin Arab.
3.      Ayat Ketiga
إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواوَأَصْلَحُواوَٱعْتَصَمُوابِٱللَّهِ وَأَخْلَصُوادِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.”[16]
إلا الذين رجعوا إلى الله تعالى وتابوا إليه، وأصلحوا ما أفسدوا من أحوالهم باطنًا وظاهرًا، ووالوا عباده المؤمنين، واستمسكوا بدين الله، وأخلصوا له سبحانه، فأولئك مع المؤمنين في الدنيا والآخرة، وسوف يعطي الله المؤمنين ثوابًا عظيمًا
(Kecuali orang-orang yang bertobat) dari kemunafikan (dan mengadakan perbaikan) terhadap amal perbuatan mereka (serta berpegang teguh kepada, agama, Allah dan mengikhlaskan agama mereka karena Allah) artinya daripada riya (maka mereka itu bersama orang-orang yang beriman) yakni mengenai apa-apa yang akan mereka peroleh (dan Allah akan memberikan kepada orang-orang beriman itu pahala yang besar) di akhirat kelak yaitu surga.
Illal ladzīna tābū (kecuali orang-orang yang bertobat) dari kemunafikan dan kekufuran yang ada dalam hatinya.
Wa ashlahū (dan mengadakan perbaikan) dari tipu daya dan pengkhianatan yang mereka lakukan terhadap kaum Mukminin dan Rabb mereka.
Wa‘tashamū billāhi (serta berpegang teguh kepada Allah), yakni berpegang teguh pada tauhidullāh dalam hati.
Wa akhlashū dīnahum (dan mengikhlaskan agama mereka), yakni tauhid mereka.
Lillāhi fa ulā-ika ma‘al mu’minīn (karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama kaum Mukminin), yakni di dalam hati mereka. Menurut satu pendapat, yakni dalam hal yang telah dijanjikan (yakni imbalan pahala di akhirat). Menurut pendapat yang lain, bersama-sama kaum Mukminin, baik secara lahiriah maupun batiniah. Dan ada juga yang berpendapat, bersama-sama kaum Mukminin di dalam surga.
Wa saufa yu’tillāhul mu’minīna (dan kelak Allah akan Memberikan kepada kaum Mukminin) yang ikhlas.
Ajran ‘azhīmā (pahala yang besar), yakni pahala yang melimpah-ruah di dalam surga.
4.      Ayat Keempat
قُلْ إِنَّمَاأَنَابَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَىَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًا
Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa." Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya."[17]
قل -أيها الرسول- لهؤلاء المشركين: إنما أنا بشر مثلكم يوحى إليَّ من ربي أنما إلهكم إله واحد، فمَن كان يخاف عذاب ربه ويرجو ثوابه يوم لقائه، فليعمل عملا صالحًا لربه موافقًا لشرعه، ولا يشرك في العبادة معه أحدًا غيره
(Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia) anak Adam (seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku, 'Bahwa sesungguhnya Rabb kalian itu adalah Tuhan Yang Esa.') huruf Anna di sini Maktufah atau dicegah untuk beramal oleh sebab adanya Ma, sedangkan huruf Ma masih tetap status Mashdarnya.[18] Maksudnya; yang diwahyukan kepadaku mengenai keesaan Tuhan (Barang siapa mengharap) bercita-cita (perjumpaan dengan Rabbnya) setelah dibangkitkan dan menerima pembalasan (maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan di dalam beribadah kepada Rabbnya) yakni sewaktu ia beribadah kepada-Nya, seumpamanya ia hanya ingin pamer (dengan seorang pun").
Qul (katakanlah), hai Muhammad!
Innamā ana basyarum mitslukum (“Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian), yakni keturunan Adam seperti kalian.
Yūhā ilayya (diwahyukan kepadaku) melalui Jibril a.s..
Annamā ilāhukum ilāhuw wāhidun (bahwasanya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa), yang tidak memiliki anak dan sekutu.
Fa mang kāna yarjū liqā-a rabbihī (barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Rabb-nya), yakni yang takut oleh kebangkitan sesudah mati.
Fal ya‘mal ‘amalaη shālihan (maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh), yakni amal yang berhubungan dengan Rabb-nya secara ikhlas.
Wa lā yusyrik bi ‘ibādati rabbihī ahadā (dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabb-nya), yakni tidak ingin dilihat oleh orang lain dan tidak mencampuradukkan ibadah kepada Rabb-nya dengan menyembah sesuatu yang lain. Menurut pendapat yang lain, tidak mencampuradukkan ketaatan kepada Rabb-nya dengan ketaatan kepada sesuatu yang lain. Turunnya ayat ini berhubungan dengan Jundab bin Zuhair al-‘Amiri.

5.      Ayat Kelima
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٨٢ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ ﴿٨٣
“82.(Iblis) menjawab, "Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, 83. kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka."[19]
Dengan berpegang teguh pada tiga perkara ini, terwujudlah hati yang lebih sejuk dan saleh. Barangsiapa menjadikan hal itu sebagai perilakunya, maka sucilah hati dan jiwanya serta jauh dari sifat khianat, dengki juga dzalim. Seseorang tidak akan terlepas dan selamat dari setan, kecuali dengan berlaku ikhlas dalam segala hal. Iblis sendiri telah mengatakan “semoga laknat Allah atasnya“
قال إبليس: فبعزتك- يا رب- وعظمتك لأضلنَّ بني آدم أجمعين، إلا مَن أخلصتَه منهم لعبادتك، وعصمتَه من إضلالي، فلم تجعل لي عليهم سبيلا
(Iblis menjawab, "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya). (Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka") yakni orang-orang yang beriman.
Qāla fa bi ‘izzatika (iblis berkata, “Maka demi Kekuasaan-Mu), yakni demi Nikmat dan Kekuasaan-Mu.
La ughwiyannahum (aku benar-benar akan menyesatkan mereka), yakni aku benar-benar akan menyesatkan mereka dari Agama-Mu dan dari ketaatan kepada-Mu.
Ajma‘īn (semua).
Illā ‘ibādaka minhum (kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka”), yakni di antara Bani Adam.
Al-mukhlashīn (yang terpilih), yakni yang terjaga dariku.
6.      Ayat Keenam
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُون-٢٩
Katakanlah, “Tuhan-ku Menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”[20]
Setelah menjelaskan bahwa Allah tidak memerintahkan berbuat kekejian, antara lain berthawaf dalam keadaan telanjang, maka ayat ini menyimpulkan apa yang diperintahkan Allah yaitu: Katakanlah: wahai Nabi Muhammad bahwa Tuhanku, yakni Pemelihara dan pembimbingku memerintahkan semua manusia menegakkan al-Qisth, yakni keadilan atau pertengahan antara dua ekstrem, maka karena itu kerjakanlah yang demikian itu dan luruskanlah seluruh perhatian kamu kepada Allah di setiap masjid, yakni di tempat, waktu atau keadaan yang mana dan bagaimanapun dimana kamu dapat sujud dan tunduk, dan berdoalah kepada-Nya, yakni beribadahlah dengan mengikhlaskan kata’atan kepada-Nya, yakni jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu walaupun dengan sedikit persekutuanpun. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan keberadaan kamu di pentas bumi ini dalam keadaan sendirian, telanjang dan lain-lain, demikian pula kamu akan kembali kepada-Nya dalam keadaan seperti itu juga, sendirian, telanjang dan lain-lain.[21]
Katakanlah, “Rabb-ku Memerintahkan keadilan.” Dan (katakanlah), “Luruskanlah wajah kalian ketika berada di setiap mesjid. Dan serulah Allah Dengan mengikhlaskan ketaatan kalian kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah Menciptakan kalian pada permulaan, (demikian pula) kalian akan kembali.”
Qul (katakanlah), hai Muhammad!
Amara rabbī bil qisth (“Rabb-ku Memerintahkan keadilan”), Memerintahkan tauhid, yaitu tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah.
Wa aqīmū wujūhakum (dan [katakanlah], “Luruskanlah wajah kalian), yakni hendaklah kalian menghadapkan wajah kalian.
‘Iηda kulli masjidin (ketika berada di setiap mesjid), yakni pada setiap kali shalat.
Wad ‘ūhu (dan serulah Allah), yakni beribadahlah kalian kepada-Nya.
Mukhlishīna lahud dīn (dengan mengikhlaskan ketaatan kalian kepadaNya), yakni dengan mengikhlaskan ibadah dan tauhid hanya untuk-Nya.
Kamā bada-akum (sebagaimana Dia telah Menciptakan kalian pada permulaan), yakni pada hari perjanjian dengan Allah Ta‘ala, apakah akan menjadi seorang yang bahagia, celaka, pintar, mungkar, membenarkan, atau mendustakan.
Ta‘ūdūn ([demikian pula] kalian akan kembali”) dalam keadaan seperti itu.
7.      Ayat Ketujuh
 وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ -٣٢-

“Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah Menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.[22] Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima kasih.”[23]
Dan apabila mereka diliputi ombak seperti naungan, mereka memohon kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Kemudian ketika Dia Menyelamatkan mereka sampai ke daratan, maka di antara mereka ada yang menempuh jalan yang lurus. Dan tidaklah mengingkari Ayat-ayat Kami melainkan semua orang yang tidak setia lagi kufur.
Wa idzā ghasyiyahum (dan apabila mereka diliputi), yakni ditutupi.
Maujun (ombak), yakni air yang belimpah.
Kazh zhulali (seperti naungan), yakni tingginya laksana awan yang ada di atas mereka.
Da‘awullāha mukhlishīna lahud dīna (mereka memohon kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya), yakni dengan mengkhususkan permohonan hanya kepada-Nya.
Fa lammā najjāhum (kemudian ketika Dia Menyelamatkan mereka) dari laut.
Ilal barri (sampai ke daratan), yakni sampai ke tempat tinggal.
Fa minhum (maka di antara mereka), yakni di antara orang-orang kafir itu.
Muqtashid (ada yang menempuh jalan yang lurus), baik dalam ucapan maupun perbuatan, hingga menjadi lebih santun daripada sebelum kejadian itu.
Wa mā yajhadu biāyātinā (dan tidaklah mengingkari Ayat-ayat Kami), yakni mengingkari Nabi Muhammad saw. dan al-Quran.
Illā kullu khattārin (melainkan semua orang yang tidak setia), yakni pengkhianat.
Kafūr (lagi kufur), yakni kafir kepada Allah Ta‘ala dan Nikmat-Nya.
Kaum musyrikin yang diajak memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang diuraikan oleh ayat-ayat yang lalu, enggan memperhatikannya. Mereka melanjutkan kedurhakaan terhadap keesaan Allah swt. karena itu  ayat diatas tidak mengarahkan pembicaraan kepada mereka. Allah berpaling enggan melihat para pendurhaka, dan berfirman: orang-orang yang beriman akan sabar dan bersyukur, karena menyadari betapa besar dan jelas tanda-tanda yang ditemukan pada ciptaan Allah itu. Sedang yang kafir tidak menarik pelajaran dan enggan menemukan bukti, karena itu mereka tidak bersabar dan tidak juga bersyukur. Dan apabila mereka berlayar lalu dinaungi dan diombang-ambingkan oleh ombak dan gelombang yang besar dan tingginya seperti gunung-gunung, atau awan, maka saat itu para pendurhaka demikian takut dan seger mencari perlindungan. Ketika itu mereka membuang berhla-berhala mereka lalu mereka menyeru Allah dan bermohon dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya sambil berjanji untuk taat dan patuh.Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sehingga mereka sampai kedaratan, mereka semua bergembira lalu mereka terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian mereka yang jumlahnya tidak banyak tetap menempuh jalan yang lurus menepati tekadnya untuk mengesakan Allah, dan mensyukuri nikmat-Nya, dan sebagian yang lain yang merupakan kelompok besar mangingkari janji dan melupakan nikmat Allah. Kelompok pertama itulah sabar dan bersyukur, sedang kelompok kedua tidak demikian. Dan memang demikian halnya, tidak ada yang mengingkari ayat-ayat, nikmat dan anugerah Kami, apalagi setelah diselamatkan, selain orang yang sangat tidak setia lagi sangat kufur yakni berlebih-lebihan dalam kekufurannya. [24]
Kata (غشيهم) ghasyiyahum terambil dari kata (ألغشاء) al-ghisya’ yakni penutup. Sesuatu yang menutup berada di atas dan menyelubungi apa yang di tutupnya. Ayat di atas menggambarkan ombak yang demikian besar sehingga menyelimuti penumpang kapal.
Kata (ألظلل) azh-zhulal adalah jamak (ظلة) zhullah yaitu sesuatu yang menaungi. Awan menaungi seseorang, demikian juga gunung pada saat seseorang berada di lerengnya. Kedua makna ini dapat merupakan maksud kata ayat diatas.
Kata (من) min pada kata (فمنهم) fa minhum bermakna sebagian. Ayat di atas tidak menyebut sebagian yang lain. ini mengisyaratkan bahwa sebagian yang disebut itu adalah sebagian kecil. Di sisi lain, penggu naan kata ila yang mengandung arti batas, bukan fi yang mengesankan kemantapan, mengisyaratkan bahwa begitu mereka sampai di daratan, walau pada batas awal darinya. Yakni di pantai dan belum lagi menetap secara mantap, mereka langsung melupakan nikmat keselamatan yang mereka peroleh.
Kata (مقتصد) muqtashid  terambil dari kata (ألقصد) al-qashd yaitu moderasi yakni yang hidup antara rasa takut dan harapan. Ada juga yang memahaminya dalam arti peringkat pertengahan, yakni dia bukan termasuk orang durhaka, tetapi dalam saat yang sama bukan juga orang yang sangat taat beragama. Ini serupa dengan firman-Nya:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ -٣٢-
“Kemudian Kitab itu Kami Wariskan kepada orang-orang yang Kami Pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan[25] dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”[26]
            Atas dasar itu ada yang memahami penyifatan muqtashid pada ayat surah ini dalam arti teguran. Seakan-akan ayat ini menyatakan: “Kelompok kecil itu, kendati telah melihat marabahaya laut yang demikian dahsyat, namun masih biasa-biasa saja pengamalannya. Seharusnya mereka bergegas melaksanakan tuntunan Allah.”[27]
Kata (ختار) khattar terambil dari kata (ختر) khatara  yang berarti sangat tidak setia. Patron kata ini menunjukkan makna hiperbol, dengan demikin yang bersngkutan amat sangat tidak setia dan sering kali melakukan sifat buruk itu.


D.    Kesimpulan
Ikhlas adalah sesuatu yang paling utama dalam menjalankan suatu ibadah kepada Allah. Tanpa keikhlasan, niscaya ibadah seseorang tidaklah berarti. Jika sebuah pemberian  berupa harta tanpa keikhlasan, maka akan sia-sia. Jika sebuah amalan ibadah formal tanpa keikhlasan, maka ia hanya akan menjadi beban yang justru akan membuat lelah yang tak berguna.
Salah satu ciri yang paling penting yang ada pada diri mukmin yang sejati dan ikhlas adalah bahwa ia dengan tulus ingim dan berusaha untuk menyucikan dirinya dari segala jenis tingkah laku dan akhlaq yang dilarang oleh Al-Qur’an demi memperoleh keridhaan Allah. Manusia diciptakan cenderung untuk berbuat salah, namun Allah melengkapi jiwa manusia tidak hanya terbatas dengan dosa dan kejahatan, tetapi juga dengan cara-cara untuk menghindarinya.
Seseorang yang dengan teguh menjaga kesucian dan ketulusannya, berharap agar Allah akan menerima setiap perbuatannya sebagai orang yang saleh dan membalasnya dangan imbalan yang berlimpah, baik di dunia maupun di akhirat.
Amal manusia dinilai sesuai dengan tujuannya, baik ataukah buruk. Peringatan agar tidak bergaul dengan orang yang suka berbuat dzalim dan curang, dan anjuran untuk berteman dengan mereka yang gemar melakukan kebaikan. Pemberitahuan Rasulullah saw. tentang hal-hal ghaib yang wajib diimani sebagaimana apa adanya, dan hal itu akan terjadi seperti yang diberitakan oleh Rasulullah. Karena beliau tidak pernah berkata berdasarkan hawa nafsu








E.     Daftar Pustaka

Al Ghazali, Imam. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: CV. Asy Syifa’, 1994.
Al-Maghribi, Abu Madyan. Mengaji AL-HIKAM. Jakarta: Zaman, 2011.
Al-Yamani, Yahya ibn Hamzah. Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nafs. Jakarta: Zaman, 2012.
Bakri, Oemar. Tafsir Rahmat. jakarta, Mutiara, 1981.
Faried, Ahmad , Menyucikan Jiwa: Konsep Ulama Salaf . Surabaya: Risalah Gusti, 2004.
Fathullah, Ahmad Lutfi. Al-Qur’an Al-Hadi. Jakarta: Pusat Kajian Hadis.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah Volume 5. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
Syukur, Amin, Fathimah Usman. Terapi Hati. Jakarta: Erlangga, 2012.
Yahya, Harun. Keikhlasan dalam Paparan Al-Qur’an. Jakarta Selatan: Senayan Abadi Publishing, 2003.
Yusuf, Ahmad Muhammad. Ensiklopedi Tematis ayat al-Qur’an dan Hadits Jilid 3. Jakarta: Widya Cahaya, 2009.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah Volume 11. Jakarta: Lentera Hati, 2002.







Revisi
1.      Penambahan materi pada halaman 4.
2.      Penambahan penjelasan pada ayat kedua di halaman 7.
3.      Penambahan ayat tentang Ikhlas, yang diambil dari al-Qur’an al-Hadi dan Al-Kalam, berdasarkan tafsirannya dari tafsir al-Misbah pada ayat keenam, di halaman 11-12.
4.      Penambahan ayat tentang Ikhlas, yang diambil dari al-Qur’an al-Hadi dan Al-Kalam, berdasarkan tafsirannya dari tafsir al-Misbah pada ayat keenam, di halaman 13-14.
5.      Perbaikan daftar pustaka
6.      Penambahan kesimpulan
7.      Penambahan ayat yang menjelsakan mengenai QS. Luqman (31): 32.
8.      Penambahan penjelasan QS. Luqman dari tafsir al-Misbah
9.      Pembenahan Cover yang semula tertulis Hadits Tematik, menjadi Tafsir tematik.
10.  Perubahan pada font arab, yang semula Times New Roman menjadi Traditional Arabic.
11.  Perubahan pada huruf arab, yang semula tidak tebal menjadi tebal.
12.  Perubahan  pendahuluan pada paragraf kedua.


[1] Amin Syukur, Fathimah Usman, Terapi Hati (Jakarta: Erlangga, 2012), 79.
[2] Ahmad Faried, Menyucikan Jiwa: Konsep Ulama Salaf (Surabaya: Risalah Gusti, 2004), 1.
[3] Yahya ibn Hamzah al-Yamani, Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nafs (Jakarta: Zaman, 2012), 486.
[4] Ibid., 487.
[5] Harun Yahya, Keikhlasan dalam Paparan Al-Qur’an (Jakarta Selatan: Senayan Abadi Publishing, 2003), 8.
[6] Hadits Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa’i dari Abu Umamah.
[7] Abu Madyan al-Maghribi, Mengaji AL-HIKAM (Jakarta: Zaman, 2011), 296.
[8] Hadits Riwayat al-Bazzar dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya.
[9] Imam Al Ghazali, Ihya’ Ulumiddin (Semarang: CV. Asy Syifa’, 1994), IX: 66.
[10] Ahmad Muhammad Yusuf, Ensiklopedi Tematis ayat al-Qur’an dan Hadits Jilid 3 (Jakarta: Widya Cahaya, 2009), 346.
[11] QS. Al-Bayyinah (98): 5.
[12] Oemar Bakri, Tafsir Rahmat (jakarta: Mutiara, 1981), 1253.
[13] QS. Az-Zumar (39): 3.
[14] Amin Syukur, Fathimah Usman, Terapi Hati (Jakarta: Erlangga, 2012), 80.
[15] Yusuf, Ensiklopedi., 347.
[16] QS. An-Nisa’ (4): 146.
[17] QS. Al-Kahfi (18): 110.
[18] Ahmad Lutfi Fathullah, Al-Qur’an Al-Hadi (Jakarta: Pusat Kajian Hadis).
[19] QS. Shad (38): 82-83.
[20] QS. Al-A’raf (7): 29.
[21] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Volume 5 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 70.
[22] Jalan yang lurus ialah mengakui keesaan Allah.
[23] QS. Luqman (31): 32.
[24] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah Volume 11 (Jakarta: Lentera Hati, 2002),158-159.
[25] Menzalimi diri sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan “pertengahan” ialah orang yang kebaikannya berbanding sama dengan kesalahannya, sedang yang dimaksud dengan “orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan” ialah orang-orang yang kebaikannya sangat banyak dan sangat jarang berbuat kesalahan.
[26] QS. Fathir (35): 32.
[27] Shihab, Tafsir., 160.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar