A.
Pendahuluan
Keikhlasan berarti memenuhi perintah Allah tanpa mempertimbangkan
keuntungan pribadi atau balasan apapun. Seseorang yang ikhlas akan berpaling
kepada Allah dengan hatinya dan hanya ingin mendapatkan ridha-Nya atas setiap
perbuatan, langkah, kata-kata, dan do’anya. Jadi, ia benar-benar yakin kepada
Allah dan mencari kebajikan semata.
Dalam banyak ayat Al-Qur’an, ditekankan agar perbuatan baik itu
dilakukan hanya untuk mendapatkan keridhaan Allah. Akan tetapi, beberapa orang
berusaha untuk mengabaikan kenyataan ini. Mereka tidak pernah berkaca pada
kebersihan niat di dalam hari mereka saat melakukan suatu pekerjaan, memberi
nasihat, menolong orang, atau berkorban. Mereka percaya bahwa perbutan mereka
sudah cukup, dengan menganggap bahwa mereka telah menunaikan tugas agama. Di
dalam makalah ini, kita akan mengetahui lebih jauh mengenai keutamaan ikhlas,
dan bagaimana kita memperoleh keikhlasan yang selama ini belum kita peroleh
secara utuh keihlasan tersebut. dan ketahuilah bahwa ihklas adalah sesuatu yang
yang tak diketahui diri, tak bisa di catat malaikat, tak dapat disesatkan, serta
tidak bisa disimpangkan hawa nafsu jika kita telah mendapatkan keikhlasan
secara utuh dalam diri kita.
B.
Pengertian Ikhlas
Ikhlas, artinya bersih, murni, dan bening. Dalam suatau kalimat
kita sering mendengarkan kata “ma’un khalis”, artinya air putih, jernih, tidak
tercampur dengan apa-apa. Orang yang ikhlas disebut mukhlis. [1]
Ikhlas ialah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah
swt, dari berbagai tendensi pribadi. Ada pula yang berpendapat bahwa ikhlas
adalah merefleksikan setiap tujuan semata hanya kepada Allah swt.[2]
Pendapat para ulama tentang esensi ikhlas, ikhlas adalah tidak
mengharap ganti di dunia dan di akhirat. Ini mengisyaratkan bahwa bagian nafsu
dan mengutamakan kehendak nafsu merupakan cacat ikhlas. Suatu amalan yang
dilakukan agar nafsu bisa bersenang-senang di surga tidaklah ikhlas, bahkan
cacat. Yang ikhlas itu amalan yang dilakukan demi Allah Ta’ala, bukan karena
berharap mendapatkan kenikmatan surga atau terhindar dari siksa neraka. Oleh
karena itu, ada seorang ‘arif yang ketika ditanya, “Apa yang paling berat bagi
nafsu?” Ia menjawab, “Ikhlas. Karena nafsu tidak punya bagian dalam ikhlas.”[3]
Pendapat ulama lain mengenai ikhlas, ikhlas adalah beramal karena
Allah dan tidak suka dipuji karena amal tersebut. ini juga menunjukkan
pemurnian amal dari riya’, tak peduli apapun pujian orang lain atas amal
tersebut. karena pujian merupakan salah satu faktor paling kuat yang menodai
keikhlasan. Pendapat ini diceritakan dari Isa a.s. saat orang-orang Hawari
bertanya tentang ikhlas kepada beliau. Al-Junayd juga dikisahkan pernah
berkata, “Ikhlas adalah pemurnian amal dari berbagai noda.” Al-Fudhail berkata,
“meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia
adalah syirik. Yang ikhlas adalah yang dibebaskan Allah dari keduanya.” Ada
pula yang berkata bahwa yang disebut ikhlas itu adalah terus-menerus muraqabah
(merasa diawasi oleh Allah) dan melupakan seluruh keuntungan diri dari
amalannya.”[4]
Dalam perbuatan dan ibadahnya, seorang mukmin sejati tidak pernah
berusaha untuk mendapatkan cinta, kepuasan, penghargaan, perhatian, dan pujian
dari siapapun kecuali Allah. Adanya keinginan untuk mendapatkan semua itu dari
manusia adalah tanda bahwa ia gagal menghadapkan wajahnya kepada Allah dengan
keikhlasan dan kesucian.[5]
Dalam kenyataan, kita sering menemukan orang yang melakukan perbuatan-perbuatan
baik atau melakukan ibadah untuk tujuan-tujuan lain selain mendapatkan
keridhaan Allah. Sebagai contoh, ada orang yang menyombongkan diri karena
menolong orang miskin atau bermaksud mendapatkan kehormatan saat ia melakukan
perintah agama yang penting, seperti shalat.
Siapa saja yang menginginkan supaya dirinya terlihat menonjol,
sebenarnya ia mencari keridhaan orang lain, bukan Allah. Seorang mukmin sejati
harus benar-benar cermat menghindarkan dirinya untuk pamer saat menolong orang
lain, bertingkah laku baik, beribadah, ataupun berkorban. Satu-satunya tujuan
orang yang ikhlas beriman kepada Allah hanyalah mendapatkan keridhaan Allah.
Dari Umamah r.a. yang mengatakan bahwa telah datang seorang
laki-laki kepada Rasul saw. dan bertanya, “Apakah pendapat Tuan tentang
seseorang yang berperang dengan tujuan mencari pahala popularitas diri, dan
kelak apa yang akan dia dapatkan?” Rasulullah saw. menjawab, “Dia tidak
mendapatkan apa-apa!” Orang itu mengulangi pertanyaan tersebut sampai tiga
kali, tetapi Rasulullah tetap menjawab nya, “Dia tidak menerima apa-apa!”
Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal
perbuatan, kecuali yang murni dan hanya mengharap ridha-Nya.”[6]
Hakikat ikhlas merupakan inti dzikir, yakni dzikir samar yang
didalamnya seorang salik dapat mencapai kondisi fana. Ia fana dan fana dari
fananya. Ia tak lagi merasakan kuburnya serta tidak merasakan perasaannya.[7]
Dari Abu Sa’id al-Khudry r.a., dari Nabi saw. yang bersabda ketika
menunaikan haji wada’, “semoga Allah menjadikan baik, orang yang mendengar ucapanku lalu memahaminya, sebaab banyak
orang yang menyampaikan ilmu (memahami agama), tetapi dia bukan seorang yang
faqih (memahami esensinya). Tiga perkara yang menjadikan hati seorang mukmin
tidak akan menjadi pengkhianat: Ikhlas beramal karena Allah, memberikan nasihat
yang baik kepada para pemimpin kaum Muslimin dan senantiasa komitmen terhadap
jamaah.” [8]
Ikhlas itu berlawanan dengan Isyrak (persekutuan). Barang siapa
tidak ikhlas, maka ia orang yang menyekutukan. Hanya saja syirik itu beberapa
tingkat. Maka ikhlas dalam hal tauhid itu berlawanan dengan tasyrik (persekutuan)
dalam hal ketuhanan. Dan syirik itu sebagiannya tersembunyi dan sebagiannya
jelas. Begitu pula ikhlas.[9]
Ikhlas dan lawannya itu sering datang pergi atas hati. Maka
tempatnya adalah hati, dan sesungguhnya demikian itu pada maksud dan niat, dan bahwa
niat itu kecuali pada memenuhi panggilan pendorong-pendorong. Manakala pendorong
itu semata-mata, maka perbuatan yang timbul dari padanya dinamakan ikhlas
dengan dikaitkan kepada apa yang diniati.
Maka barang siapa bersadaqah dan maksudnya adalah riya’
semata-mata, maka ia adalah yang ikhlas, dan barang siapa yang maksudnya dalah
mendekatkn diri kepada Allah semata, maka ia adalah orang yang ikhlas. teteapi
kebiasaan itu berlalu dengan mengkhususkan nama ikhlas dengan maksud
mendekatkan diri kepada Allah dari semua campuran, sebagaimana ilhad
(kekufuran) adalah ibarat dari kecenderungan, tetapi itu dikhususkan oleh adat
kebiasaan dengan kecenderungan dari kebiasaan dan barang siapa penggeraknya itu
semata-mata riya’, maka ia menghadapi
kebinasaan.
Dari Amirul-Mukminin Abu Hafs Umar bin Khattab bi Abdul Uzza bin
Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib
al-Quraisy al-‘Adawi ra.; ia berkata: “kudengar Rasulullah saw. bersabda:”
Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya, dan bahwa apa yang
diperoleh seseorang adalah sesuai dengan
yang diniatkannya. Barang siapa yang berhijrah di jalan Allah dan
Rasul-Nya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan Rasul-Nya, dan barang
siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya,
maka hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang diniatkannya dalam hijrah itu”
(Muttafaq Alaih). Diriwayatkan oleh Imamnya para ahli hadits Abu Abdillah
Muhammad bin Ismail bin Mughirah Bardizban Al-Ju’fi Al-Bukhari dan Abul Husain
Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi Annaisaburira. Semoga Allah
meridlai keduanya atas kitab mereka sebagai kitab paling shahih yang pernah
disusun.
Para Ulama sepakat, bahwa niat itu adalah suatu keharusan dalam
sebuah amal, agar dapat memberikan pahala sesuai dengan kriteria amal tersebut.
Namun para ulama juga menjelaskan bahwa niat merupakan syarat bagi keabsahan
sebuah amal. Ulama Syafi’iyah berpendapat: “Selain dalam ibadah inti shalat
misalnya, niat juga merupakan syarat bagi ibadah yang menjadi wasilah
(perantara), wudhu misalnya. “Sementara madzhab Hanafi berpendapat bahwa niat
merupakan syarat bagi ibadah inti atau ibadah perantara atau komplemen. Tempat
niat adalah di dalam hati dan tidak dipersyaratkan untuk mengucapkannya di
mulut. Dan ikhlas kepada Allah swt. merupakan salah satu dari sekian banyak
syarat diterimanya sebuah amal, karena Allah tidak akan menerima amal, kecuali
amal yang tulus dan murni dilakukan untuk diri-Nya.[10]
C.
Keutamaan Ikhlas
Ayat Pertama
Ayat Pertama
وَمَاأُمِرُواإِلَّا لِيَعْبُدُواٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُواٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُواٱلزَّكَوٰةَ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ ﴿٥﴾
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas
menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan
salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”[11]
وما
أمروا في سائر الشرائع إلا ليعبدوا الله وحده قاصدين بعبادتهم وجهه، مائلين عن
الشرك إلى الإيمان، ويقيموا الصلاة، ويُؤَدُّوا الزكاة، وذلك هو دين الاستقامة،
وهو الإسلام
(Padahal mereka tidak disuruh) di dalam kitab-kitab mereka yaitu
Taurat dan Injil (kecuali menyembah Allah) kecuali supaya menyembah Allah, pada
asalnya adalah An Ya'budullaaha, lalu huruf An dibuang dan ditambahkan huruf
Lam sehingga jadilah Liya'budullaaha (dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
dalam beragama) artinya membersihkannya dari kemusyrikan (dengan lurus)
maksudnya berpegang teguh pada agama Nabi Ibrahim dan agama Nabi Muhammad bila
telah datang nanti. Maka mengapa sewaktu ia datang mereka menjadi jadi ingkar
kepadanya (dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian itulah agama) atau tuntunan (yang mustaqim) yang lurus.
Pokok-pokok agama yang disampaikan Muhammad tidak berbeda dari
kepercayaan mereka, yaitu taat dan ikhlas menyembah Allah.[12]
Wa mā umirū
(padahal mereka tidak diperintah) dalam kitab-kitab itu.
Illā li ya‘budullāha
(kecuali supaya mengibadahi Allah), yakni supaya mengesakan Allah Ta‘ala.
Mukhlishīna lahud dīna
(dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya) dengan jalan bertauhid.
Hunafā-a (secara
lurus), yakni menjadi orang-orang Muslim.
Wa yuqīmush shalāta
(dan supaya mereka mendirikan shalat), yakni menyempurnakan shalat lima waktu
sesudah bertauhid.
Wa yu’tuz zakāta
(serta menunaikan zakat), yakni dan sesudah itu mengeluarkan zakat harta
mereka. Sesudah itu Dia Berfirman:
Wa dzālika
(dan itulah), yakni tauhid itulah.
Dīnul qayyimah
(agama yang lurus), yakni agama yang hak dan lurus serta tidak ada penyimpangan
di dalamnya. Menurut yang lain, wa dzālika (dan itulah), yakni tauhid itulah;
dīnul qayyimah (agama yang lurus), yakni agama para malaikat. Ada yang
berpendapat, agama yang lurus. Dan ada pula yang berpendapat, agama Ibrahim
a.s.
2.
Ayat Kedua
أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟
مِن دُونِهِۦٓ
أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ
إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ
إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَٰذِبٌ كَفَّارٌ ﴿٣﴾
“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan
orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), "Kami tidak
menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah
dengan sedekat-dekatnya." Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara
mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi
petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”[13]
Ketika seseorang telah menetapkan hati hanya kepada Allah,
menghilangkan segala sesuatau kecuali ridha Allah, harapan satu-satunya
hanyalah Allah, apa yang dilakukan hanya untuk Allah, maka hatinya telah
ikhlas. Keikhlasan itu akan membawa pada ketenangan menuju Allah, kapan saja
dan dimana saja.[14]
ألا
لله وحده الطاعة التامة السالمة من الشرك، والذين أشركوا مع الله غيره واتخذوا من
دونه أولياء، قالوا: ما نعبد تلك الآلهة مع الله إلا لتشفع لنا عند الله، وتقربنا
عنده منزلة، فكفروا بذلك؛ لأن العبادة والشفاعة لله وحده، إن الله يفصل بين
المؤمنين المخلصين والمشركين مع الله غيره يوم القيامة فيما يختلفون فيه من
عبادتهم، فيجازي كلا بما يستحق. إن الله لا يوفق للهداية إلى الصراط المستقيم من
هو مفترٍ على الله، كَفَّار بآياته وحججه
(Ingatlah, hanya kepada Allahlah ketaatan yang murni itu) tiada
seorang pun yang berhak menerimanya selain-Nya. (Dan orang-orang yang mengambil
selain-Nya) yang mengambil berhala-berhala (sebagai pelindung) mereka adalah
orang-orang kafir Mekah yang mengatakan, ("Kami tidak menyembah mereka melainkan
supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.")
yakni untuk mendekatkan diri kami kepada-Nya. Lafal Zulfaa adalah Mashdar yang
maknanya sama dengan lafal Taqriiban/mendekatkan diri. (Sesungguhnya Allah akan
memutuskan di antara mereka) dan kaum Muslimin (tentang apa yang mereka
berselisih padanya) tentang masalah agama, maka kelak orang-orang yang beriman
akan masuk surga dan orang-orang yang kafir akan masuk neraka. (Sesungguhnya
Allah tidak menunjuki orang yang pendusta) yaitu orang yang mengatakan terhadap
Allah, bahwa Dia mempunyai anak (lagi sangat ingkar) karena menyembah kepada
selain-Nya.
Amal manusia dinilai sesuai dengan tujuannya, baik ataukah buruk.
Peringatan agar tidak bergaul dengan orang yang suka berbuat dzalim dan curang,
dan anjuran untuk berteman dengan mereka yang gemar melakukan kebaikan.
Pemberitahuan Rasulullah saw. tentang hal-hal ghaib yang wajib diimani
sebagaimana apa adanya, dan hal itu akan terjadi seperti yang diberitakan oleh
Rasulullah. Karena beliau tidak pernah berkata berdasarkan hawa nafsu.[15]
Alā lillāhi
(ingatlah, hanya Kepunyaan Allah-lah) semua manusia.
Ad-dīnul khālish
(agama yang murni), yakni beragama secara ikhlas dan tidak terkontaminasi oleh
apa pun.
Wal ladzīnattakhadzū
(dan orang-orang yang mengambil), yakni yang menyembah.
Miη dūnihī
(selain-Nya), yakni selain Allah Ta‘ala. Mereka adalah orang-orang kafir Mekah.
Auliyā-a
(sebagai pelindung), yakni sebagai tuhan-tuhan: al-Lata, al-‘Uza, dan Manat.
Mereka berkata:
Mā na‘buduhum illā li yuqarribūnā ilallāhil zulfā (“Kami tidak menyembah mereka [berhala-berhala itu] melainkan
supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya), yakni
kedekatan dalam meraih kedudukan dan syafaat.
Innallāha yahkumu bainahum (sesungguhnya Allah akan Memutuskan di antara mereka) dan kaum
Mukminin.
Fī mā hum fīhi (tentang
apa yang mereka padanya), yakni mengenai persoalan agama.
Yakhtalifūn
(berselisih), yakni pertentangkan.
Innallāha lā yahdī
(sesungguhnya Allah tidak akan Menunjuki), yakni tidak akan membimbing kepada
Agama-Nya.
Man huwa kādzībun
(orang-orang yang pendusta) terhadap Allah Ta‘ala.
Kaffār (lagi sangat
ingkar) kepada Allah Ta‘ala. Mereka adalah orang-orang Yahudi, Nasrani, Bani
Malih, Majusi, dan kaum musyrikin Arab.
3.
Ayat Ketiga
إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواوَأَصْلَحُواوَٱعْتَصَمُوابِٱللَّهِ وَأَخْلَصُوادِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan
berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama
mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan
kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.”[16]
إلا
الذين رجعوا إلى الله تعالى وتابوا إليه، وأصلحوا ما أفسدوا من أحوالهم باطنًا
وظاهرًا، ووالوا عباده المؤمنين، واستمسكوا بدين الله، وأخلصوا له سبحانه، فأولئك
مع المؤمنين في الدنيا والآخرة، وسوف يعطي الله المؤمنين ثوابًا عظيمًا
(Kecuali orang-orang yang bertobat) dari kemunafikan (dan mengadakan
perbaikan) terhadap amal perbuatan mereka (serta berpegang teguh kepada, agama,
Allah dan mengikhlaskan agama mereka karena Allah) artinya daripada riya (maka
mereka itu bersama orang-orang yang beriman) yakni mengenai apa-apa yang akan
mereka peroleh (dan Allah akan memberikan kepada orang-orang beriman itu pahala
yang besar) di akhirat kelak yaitu surga.
Illal ladzīna tābū (kecuali orang-orang yang bertobat) dari kemunafikan dan kekufuran
yang ada dalam hatinya.
Wa ashlahū (dan mengadakan perbaikan) dari tipu daya dan pengkhianatan yang
mereka lakukan terhadap kaum Mukminin dan Rabb mereka.
Wa‘tashamū billāhi (serta berpegang teguh kepada Allah), yakni berpegang teguh pada
tauhidullāh dalam hati.
Wa akhlashū dīnahum (dan mengikhlaskan agama mereka), yakni tauhid mereka.
Lillāhi fa ulā-ika ma‘al mu’minīn (karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama kaum Mukminin), yakni
di dalam hati mereka. Menurut satu pendapat, yakni dalam hal yang telah
dijanjikan (yakni imbalan pahala di akhirat). Menurut pendapat yang lain,
bersama-sama kaum Mukminin, baik secara lahiriah maupun batiniah. Dan ada juga
yang berpendapat, bersama-sama kaum Mukminin di dalam surga.
Wa saufa yu’tillāhul mu’minīna (dan kelak Allah akan Memberikan kepada kaum Mukminin) yang
ikhlas.
Ajran ‘azhīmā (pahala yang besar), yakni pahala yang melimpah-ruah di dalam
surga.
4.
Ayat Keempat
قُلْ إِنَّمَاأَنَابَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَىَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِۦ
فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ
أَحَدًا
Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya aku ini hanya seorang
manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu
adalah Tuhan Yang Maha Esa." Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan
Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia
mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya."[17]
قل
-أيها الرسول- لهؤلاء المشركين: إنما أنا بشر مثلكم يوحى إليَّ من ربي أنما إلهكم
إله واحد، فمَن كان يخاف عذاب ربه ويرجو ثوابه يوم لقائه، فليعمل عملا صالحًا لربه
موافقًا لشرعه، ولا يشرك في العبادة معه أحدًا غيره
(Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia)
anak Adam (seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku, 'Bahwa sesungguhnya Rabb
kalian itu adalah Tuhan Yang Esa.') huruf Anna di sini Maktufah atau dicegah
untuk beramal oleh sebab adanya Ma, sedangkan huruf Ma masih tetap status
Mashdarnya.[18]
Maksudnya; yang diwahyukan kepadaku mengenai keesaan Tuhan (Barang siapa
mengharap) bercita-cita (perjumpaan dengan Rabbnya) setelah dibangkitkan dan
menerima pembalasan (maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan
janganlah ia mempersekutukan di dalam beribadah kepada Rabbnya) yakni sewaktu
ia beribadah kepada-Nya, seumpamanya ia hanya ingin pamer (dengan seorang pun").
Qul (katakanlah),
hai Muhammad!
Innamā ana basyarum mitslukum (“Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian), yakni
keturunan Adam seperti kalian.
Yūhā ilayya
(diwahyukan kepadaku) melalui Jibril a.s..
Annamā ilāhukum ilāhuw wāhidun (bahwasanya Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa), yang tidak
memiliki anak dan sekutu.
Fa mang kāna yarjū liqā-a rabbihī (barangsiapa mengharapkan pertemuan dengan Rabb-nya), yakni yang
takut oleh kebangkitan sesudah mati.
Fal ya‘mal ‘amalaη shālihan (maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh), yakni amal yang
berhubungan dengan Rabb-nya secara ikhlas.
Wa lā yusyrik bi ‘ibādati rabbihī ahadā (dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah
kepada Rabb-nya), yakni tidak ingin dilihat oleh orang lain dan tidak
mencampuradukkan ibadah kepada Rabb-nya dengan menyembah sesuatu yang lain.
Menurut pendapat yang lain, tidak mencampuradukkan ketaatan kepada Rabb-nya
dengan ketaatan kepada sesuatu yang lain. Turunnya ayat ini berhubungan dengan
Jundab bin Zuhair al-‘Amiri.
5.
Ayat Kelima
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٨٢﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ ﴿٨٣﴾
“82.(Iblis) menjawab, "Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan
menyesatkan mereka semuanya, 83. kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara
mereka."[19]
Dengan berpegang teguh pada tiga perkara ini, terwujudlah hati yang
lebih sejuk dan saleh. Barangsiapa menjadikan hal itu sebagai perilakunya, maka
sucilah hati dan jiwanya serta jauh dari sifat khianat, dengki juga dzalim.
Seseorang tidak akan terlepas dan selamat dari setan, kecuali dengan berlaku
ikhlas dalam segala hal. Iblis sendiri telah mengatakan “semoga laknat Allah
atasnya“
قال
إبليس: فبعزتك- يا رب- وعظمتك لأضلنَّ بني آدم أجمعين، إلا مَن أخلصتَه منهم
لعبادتك، وعصمتَه من إضلالي، فلم تجعل لي عليهم سبيلا
(Iblis menjawab, "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan
mereka semuanya). (Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka")
yakni orang-orang yang beriman.
Qāla fa bi ‘izzatika
(iblis berkata, “Maka demi Kekuasaan-Mu), yakni demi Nikmat dan Kekuasaan-Mu.
La ughwiyannahum
(aku benar-benar akan menyesatkan mereka), yakni aku benar-benar akan
menyesatkan mereka dari Agama-Mu dan dari ketaatan kepada-Mu.
Ajma‘īn (semua).
Illā ‘ibādaka minhum
(kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka”), yakni di antara Bani Adam.
Al-mukhlashīn
(yang terpilih), yakni yang terjaga dariku.
6.
Ayat Keenam
قُلْ
أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُواْ وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ
وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُون-٢٩
Katakanlah, “Tuhan-ku Menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu
(kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan
ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana
kamu diciptakan semula.”[20]
Setelah menjelaskan bahwa Allah tidak memerintahkan berbuat
kekejian, antara lain berthawaf dalam keadaan telanjang, maka ayat ini
menyimpulkan apa yang diperintahkan Allah yaitu: Katakanlah: wahai Nabi
Muhammad bahwa Tuhanku, yakni Pemelihara dan pembimbingku memerintahkan semua
manusia menegakkan al-Qisth, yakni keadilan atau pertengahan antara dua
ekstrem, maka karena itu kerjakanlah yang demikian itu dan luruskanlah seluruh
perhatian kamu kepada Allah di setiap masjid, yakni di tempat, waktu atau
keadaan yang mana dan bagaimanapun dimana kamu dapat sujud dan tunduk, dan
berdoalah kepada-Nya, yakni beribadahlah dengan mengikhlaskan kata’atan
kepada-Nya, yakni jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu walaupun dengan
sedikit persekutuanpun. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan
keberadaan kamu di pentas bumi ini dalam keadaan sendirian, telanjang dan
lain-lain, demikian pula kamu akan kembali kepada-Nya dalam keadaan seperti itu
juga, sendirian, telanjang dan lain-lain.[21]
Katakanlah, “Rabb-ku Memerintahkan keadilan.” Dan (katakanlah),
“Luruskanlah wajah kalian ketika berada di setiap mesjid. Dan serulah Allah
Dengan mengikhlaskan ketaatan kalian kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah
Menciptakan kalian pada permulaan, (demikian pula) kalian akan kembali.”
Qul (katakanlah),
hai Muhammad!
Amara rabbī bil qisth
(“Rabb-ku Memerintahkan keadilan”), Memerintahkan tauhid, yaitu tidak ada tuhan
yang berhak diibadahi kecuali Allah.
Wa aqīmū wujūhakum
(dan [katakanlah], “Luruskanlah wajah kalian), yakni hendaklah kalian
menghadapkan wajah kalian.
‘Iηda kulli masjidin
(ketika berada di setiap mesjid), yakni pada setiap kali shalat.
Wad ‘ūhu
(dan serulah Allah), yakni beribadahlah kalian kepada-Nya.
Mukhlishīna lahud dīn
(dengan mengikhlaskan ketaatan kalian kepadaNya), yakni dengan mengikhlaskan
ibadah dan tauhid hanya untuk-Nya.
Kamā bada-akum
(sebagaimana Dia telah Menciptakan kalian pada permulaan), yakni pada hari
perjanjian dengan Allah Ta‘ala, apakah akan menjadi seorang yang bahagia,
celaka, pintar, mungkar, membenarkan, atau mendustakan.
Ta‘ūdūn ([demikian
pula] kalian akan kembali”) dalam keadaan seperti itu.
7.
Ayat Ketujuh
وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ
كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى
الْبَرِّ فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ
كَفُورٍ -٣٢-
“Dan apabila mereka digulung ombak
yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama
kepada-Nya. Tetapi ketika Allah Menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu
sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.[22]
Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima
kasih.”[23]
Dan apabila mereka diliputi ombak seperti naungan, mereka memohon
kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Kemudian ketika Dia
Menyelamatkan mereka sampai ke daratan, maka di antara mereka ada yang menempuh
jalan yang lurus. Dan tidaklah mengingkari Ayat-ayat Kami melainkan semua orang
yang tidak setia lagi kufur.
Wa idzā ghasyiyahum (dan apabila mereka diliputi), yakni ditutupi.
Maujun (ombak), yakni air yang belimpah.
Kazh zhulali (seperti naungan), yakni tingginya laksana awan yang ada di atas
mereka.
Da‘awullāha mukhlishīna lahud dīna (mereka memohon kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan
kepada-Nya), yakni dengan mengkhususkan permohonan hanya kepada-Nya.
Fa lammā najjāhum (kemudian ketika Dia Menyelamatkan mereka) dari laut.
Ilal barri (sampai ke daratan), yakni sampai ke tempat tinggal.
Fa minhum (maka di antara mereka), yakni di antara orang-orang kafir itu.
Muqtashid (ada yang menempuh jalan yang lurus), baik dalam ucapan maupun
perbuatan, hingga menjadi lebih santun daripada sebelum kejadian itu.
Wa mā yajhadu biāyātinā (dan tidaklah mengingkari Ayat-ayat Kami), yakni mengingkari Nabi
Muhammad saw. dan al-Quran.
Illā kullu khattārin (melainkan semua orang yang tidak setia), yakni pengkhianat.
Kafūr (lagi kufur), yakni kafir kepada Allah Ta‘ala dan Nikmat-Nya.
Kaum musyrikin yang diajak memperhatikan tanda-tanda kekuasaan
Allah yang diuraikan oleh ayat-ayat yang lalu, enggan memperhatikannya. Mereka
melanjutkan kedurhakaan terhadap keesaan Allah swt. karena itu ayat diatas tidak mengarahkan pembicaraan
kepada mereka. Allah berpaling enggan melihat para pendurhaka, dan berfirman:
orang-orang yang beriman akan sabar dan bersyukur, karena menyadari betapa
besar dan jelas tanda-tanda yang ditemukan pada ciptaan Allah itu. Sedang yang
kafir tidak menarik pelajaran dan enggan menemukan bukti, karena itu mereka
tidak bersabar dan tidak juga bersyukur. Dan apabila mereka berlayar lalu
dinaungi dan diombang-ambingkan oleh ombak dan gelombang yang besar dan
tingginya seperti gunung-gunung, atau awan, maka saat itu para pendurhaka
demikian takut dan seger mencari perlindungan. Ketika itu mereka membuang
berhla-berhala mereka lalu mereka menyeru Allah dan bermohon dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya sambil berjanji untuk taat dan patuh.Maka tatkala Allah
menyelamatkan mereka sehingga mereka sampai kedaratan, mereka semua bergembira
lalu mereka terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian mereka yang jumlahnya tidak
banyak tetap menempuh jalan yang lurus menepati tekadnya untuk mengesakan
Allah, dan mensyukuri nikmat-Nya, dan sebagian yang lain yang merupakan
kelompok besar mangingkari janji dan melupakan nikmat Allah. Kelompok pertama
itulah sabar dan bersyukur, sedang kelompok kedua tidak demikian. Dan memang
demikian halnya, tidak ada yang mengingkari ayat-ayat, nikmat dan anugerah
Kami, apalagi setelah diselamatkan, selain orang yang sangat tidak setia lagi
sangat kufur yakni berlebih-lebihan dalam kekufurannya. [24]
Kata (غشيهم) ghasyiyahum terambil dari kata (ألغشاء) al-ghisya’ yakni penutup. Sesuatu
yang menutup berada di atas dan menyelubungi apa yang di tutupnya. Ayat di atas
menggambarkan ombak yang demikian besar sehingga menyelimuti penumpang kapal.
Kata (ألظلل) azh-zhulal adalah jamak (ظلة) zhullah yaitu sesuatu yang
menaungi. Awan menaungi seseorang, demikian juga gunung pada saat seseorang
berada di lerengnya. Kedua makna ini dapat merupakan maksud kata ayat diatas.
Kata (من) min pada kata (فمنهم) fa minhum bermakna sebagian. Ayat
di atas tidak menyebut sebagian yang lain. ini mengisyaratkan bahwa sebagian
yang disebut itu adalah sebagian kecil. Di sisi lain, penggu naan kata ila
yang mengandung arti batas, bukan fi yang mengesankan kemantapan,
mengisyaratkan bahwa begitu mereka sampai di daratan, walau pada batas awal
darinya. Yakni di pantai dan belum lagi menetap secara mantap, mereka langsung
melupakan nikmat keselamatan yang mereka peroleh.
Kata (مقتصد) muqtashid terambil dari kata (ألقصد) al-qashd yaitu moderasi yakni yang
hidup antara rasa takut dan harapan. Ada juga yang memahaminya dalam arti
peringkat pertengahan, yakni dia bukan termasuk orang durhaka, tetapi dalam
saat yang sama bukan juga orang yang sangat taat beragama. Ini serupa dengan
firman-Nya:
ثُمَّ
أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ
ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ
بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ -٣٢-
“Kemudian Kitab itu Kami Wariskan
kepada orang-orang yang Kami Pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara
mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula)
yang lebih dahulu berbuat kebaikan[25]
dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”[26]
Atas dasar itu ada yang memahami penyifatan muqtashid
pada ayat surah ini dalam arti teguran. Seakan-akan ayat ini menyatakan:
“Kelompok kecil itu, kendati telah melihat marabahaya laut yang demikian
dahsyat, namun masih biasa-biasa saja pengamalannya. Seharusnya mereka bergegas
melaksanakan tuntunan Allah.”[27]
Kata (ختار) khattar terambil dari kata (ختر) khatara yang berarti sangat tidak setia. Patron kata
ini menunjukkan makna hiperbol, dengan demikin yang bersngkutan amat sangat
tidak setia dan sering kali melakukan sifat buruk itu.
D.
Kesimpulan
Ikhlas adalah sesuatu yang paling utama dalam menjalankan suatu
ibadah kepada Allah. Tanpa keikhlasan, niscaya ibadah seseorang tidaklah
berarti. Jika sebuah pemberian berupa
harta tanpa keikhlasan, maka akan sia-sia. Jika sebuah amalan ibadah formal
tanpa keikhlasan, maka ia hanya akan menjadi beban yang justru akan membuat
lelah yang tak berguna.
Salah satu ciri yang paling penting yang ada pada diri mukmin yang
sejati dan ikhlas adalah bahwa ia dengan tulus ingim dan berusaha untuk
menyucikan dirinya dari segala jenis tingkah laku dan akhlaq yang dilarang oleh
Al-Qur’an demi memperoleh keridhaan Allah. Manusia diciptakan cenderung untuk
berbuat salah, namun Allah melengkapi jiwa manusia tidak hanya terbatas dengan
dosa dan kejahatan, tetapi juga dengan cara-cara untuk menghindarinya.
Seseorang yang dengan teguh menjaga kesucian dan ketulusannya,
berharap agar Allah akan menerima setiap perbuatannya sebagai orang yang saleh
dan membalasnya dangan imbalan yang berlimpah, baik di dunia maupun di akhirat.
Amal manusia dinilai sesuai dengan tujuannya, baik ataukah buruk.
Peringatan agar tidak bergaul dengan orang yang suka berbuat dzalim dan curang,
dan anjuran untuk berteman dengan mereka yang gemar melakukan kebaikan.
Pemberitahuan Rasulullah saw. tentang hal-hal ghaib yang wajib diimani
sebagaimana apa adanya, dan hal itu akan terjadi seperti yang diberitakan oleh
Rasulullah. Karena beliau tidak pernah berkata berdasarkan hawa nafsu
E.
Daftar Pustaka
Al
Ghazali, Imam. Ihya’ Ulumiddin. Semarang: CV. Asy Syifa’, 1994.
Al-Maghribi, Abu Madyan. Mengaji AL-HIKAM. Jakarta: Zaman,
2011.
Al-Yamani, Yahya ibn Hamzah. Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nafs.
Jakarta: Zaman, 2012.
Bakri, Oemar. Tafsir Rahmat. jakarta, Mutiara, 1981.
Faried,
Ahmad , Menyucikan Jiwa: Konsep Ulama Salaf . Surabaya: Risalah Gusti,
2004.
Fathullah, Ahmad Lutfi. Al-Qur’an Al-Hadi. Jakarta: Pusat
Kajian Hadis.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah Volume 5. Jakarta:
Lentera Hati, 2002.
Syukur, Amin, Fathimah Usman. Terapi Hati. Jakarta: Erlangga,
2012.
Yahya, Harun. Keikhlasan dalam Paparan Al-Qur’an. Jakarta
Selatan: Senayan Abadi Publishing, 2003.
Yusuf, Ahmad Muhammad. Ensiklopedi Tematis ayat al-Qur’an dan
Hadits Jilid 3. Jakarta: Widya Cahaya, 2009.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah Volume 11. Jakarta:
Lentera Hati, 2002.
Revisi
1.
Penambahan materi pada halaman 4.
2.
Penambahan penjelasan pada ayat kedua di halaman 7.
3.
Penambahan ayat tentang Ikhlas, yang diambil dari al-Qur’an al-Hadi
dan Al-Kalam, berdasarkan tafsirannya dari tafsir al-Misbah pada ayat keenam,
di halaman 11-12.
4.
Penambahan ayat tentang Ikhlas, yang diambil dari al-Qur’an al-Hadi
dan Al-Kalam, berdasarkan tafsirannya dari tafsir al-Misbah pada ayat keenam,
di halaman 13-14.
5.
Perbaikan daftar pustaka
6.
Penambahan kesimpulan
7.
Penambahan ayat yang menjelsakan mengenai QS. Luqman (31): 32.
8.
Penambahan penjelasan QS. Luqman dari tafsir al-Misbah
9.
Pembenahan Cover yang semula tertulis Hadits Tematik, menjadi
Tafsir tematik.
10.
Perubahan pada font arab, yang semula Times New Roman menjadi
Traditional Arabic.
11.
Perubahan pada huruf arab, yang semula tidak tebal menjadi tebal.
12.
Perubahan pendahuluan pada
paragraf kedua.
[2] Ahmad Faried, Menyucikan
Jiwa: Konsep Ulama Salaf (Surabaya: Risalah Gusti, 2004), 1.
[3] Yahya ibn
Hamzah al-Yamani, Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nafs (Jakarta: Zaman,
2012), 486.
[5] Harun Yahya,
Keikhlasan dalam Paparan Al-Qur’an (Jakarta Selatan: Senayan Abadi Publishing,
2003), 8.
[6] Hadits Riwayat
Abu Dawud dan an-Nasa’i dari Abu Umamah.
[7] Abu Madyan
al-Maghribi, Mengaji AL-HIKAM (Jakarta: Zaman, 2011), 296.
[8] Hadits Riwayat
al-Bazzar dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya.
[9] Imam Al
Ghazali, Ihya’ Ulumiddin (Semarang: CV. Asy Syifa’, 1994), IX: 66.
[10] Ahmad Muhammad Yusuf, Ensiklopedi Tematis ayat al-Qur’an dan
Hadits Jilid 3 (Jakarta: Widya Cahaya, 2009), 346.
[11] QS.
Al-Bayyinah (98): 5.
[12] Oemar Bakri, Tafsir
Rahmat (jakarta: Mutiara, 1981), 1253.
[14] Amin Syukur,
Fathimah Usman, Terapi Hati (Jakarta: Erlangga, 2012), 80.
[16] QS. An-Nisa’
(4): 146.
[17] QS. Al-Kahfi
(18): 110.
[18] Ahmad Lutfi
Fathullah, Al-Qur’an Al-Hadi (Jakarta: Pusat Kajian Hadis).
[22] Jalan yang
lurus ialah mengakui keesaan Allah.
[23] QS. Luqman
(31): 32.
[25] Menzalimi diri
sendiri ialah orang yang lebih banyak kesalahannya daripada kebaikannya, dan
“pertengahan” ialah orang yang kebaikannya berbanding sama dengan kesalahannya,
sedang yang dimaksud dengan “orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat
kebaikan” ialah orang-orang yang kebaikannya sangat banyak dan sangat jarang
berbuat kesalahan.
[26] QS. Fathir
(35): 32.
[27] Shihab, Tafsir., 160.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar