Sabtu, 12 Desember 2015

Tauhid

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Pemikiran manusia itu sangat butuh akan penuntun di dalam aktivitasnya, apalagi dalam berpikir tentang ke-Tuhanan. Tanpa suatu penuntun maka ia akan mengalami kesesatan, contohnya dalam hal kita memecahkan soal aritmatika maupun matematika diperlukan adanya dalil sebagai penuntun agar memperoleh hasil yang benar. Jika salah memakai dalil maka hasilnya pun tak akan benar, bahkan pasti salah.
Dalam memikirkan tentang ke-Tuhanan manusia sangatlah membutuhkan tuntunan yang absolut (mutlak benar), tanpa tuntunan tersebut akal manusia itu nisbi dan bersifat subjektif. Hal ini dapat dilihat dari realita yang terdapat di dalam ajaran-ajaran agama di dunia ini, ada agama monotheistis yaitu yang mempercayai bahwa Tuhan itu satu dan Esa, dan ada pula agama polytheistis yaitu yang mempercayai dan menyembah banyak tuhan atau dewa. Selain itu ada juga yang menganut faham atheisme yaitu suatu aliran/golongan yang tidak mempercayai adanya Tuhan.
Dalam hal ini Islam adalah agama tauhid. Mengenai ajarannya yang berhubungan dengan ke-Tuhanan, manusia dituntun oleh kitab suci al qur’an yang bersifat absolut (mutlak benar), karena kitab tersebut bersumber langsung dari Allah swt. Adapun salah satu isi dari kitab suci tersebut yang membicarakan tentang ke-Tuhanan adalah surat al ikhlas. Surat ini merupakan sebagian dari isi kitab suci al qur’an yang dapat memberikan tuntunan kepada akal manusia yang subjektif itu dalam memikirkan Allah swt (Tuhan semesta alam).
B.    Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud Tauhid?
2.      Bagaimana pembagian Tauhid?
3.      Bagaimana kandungan atau tafsir Tauhid dalam Q.S. Al-Ikhlas?
C.    Tujuan Masalah
Mahasiswa mengetahui dan memahami pengertian Tauhid, pembagiannya, serta kandungan atau tafsir dalam Qur’an surat Al-Ikhlas.
 

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tauhid
Tauhid secara bahasa berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhiidan yang artinya mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu dan kata ahad yang berarti esa. Adapun secara istilah syar’i tauhid berarti meng Esakan Allah dalam hal Mencipta, Menguasai, Mengatur, dan mengikhlaskan (memurnikan) peribadahan hanya kepada Nya, meninggalkan penyembahan kepada selain Nya serta menetapkan asma’ul husna (nama-nama yang bagus) dan sifat al ulya (sifat-sifat yang tinggi) bagi Nya dan mensucikan Nya dari kekurangan dan cacat.
Menurut Syeh M. Abduh, ilmu tauhid ialah ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan, sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, membicarakan tentang Rasul, untuk menetapkan keutusan mereka, sifat-sifat yang boleh dipertautkan kepada mereka, dan sifat-sifat yang tidak mungkin terdapat pada mereka.
B.     Pembagian Tauhid
1)      Tauhid Rububiyyah
Secara bahasa rububiyyah berasal dari kata Rabb. Dari kata Rabb dibentuk kata rububiyyah, yang berarti Mencipta, Memberi rizki, Memiliki, Menguasai, Mengatur, Memperbaiki, dan Mendidik. Dan karena Allah adalah Rabb yang hak bagi semesta alam, maka kita harus mengesakan-Nya.
Secara istilah, tauhid rububiyyah ialah suatu kepercayaan bahwa yang menciptakan alam dunia dan seisinya ini hanya Allah sendiri tanpa bantuan siapapun. Adanya dunia ini tidak muncul dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakan dan ada pula yang mengaturnya, yaitu Allah SWT. Allah Maha Kuat, tiada kekuatan yang menyamai Allah. Dari sinilah timbullah kesadaran bagi makhluk untuk mengagungkan Allah, makhluk harus yakin bahwa tiada Tuhan selain Allah. Keyakinan inilah yang disebut dengan tauhid rububiyyah. Jadi, tauhid rububiyyah ialah tauhid yang berhubungan dengan ketuhanan. Dalam hal ini, Allah telah berfirman:
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ -٢-
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (QS. Al Fatihah: 2)
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ -٢٢-
“Sekiranya ada di langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘arsy dari apa yang mereka sifatkan” (QS. Al Anbiya’: 22)
2)      Tauhid Asma’ wa Shifat
Secara bahasa asma’ merupakan jama’ dari kata ismun yang berarti nama, sedang shifat merupakan jama’ dari kata shifatun yang mempunyai arti sifat. Adapun seara istilah, tauhid asma’ wa shifat ialah suatu keyakinan yang menetapkan asma-asma Allah dan sifat-sifat Nya, tiada sekutu bagi Nya dalam asma-asma dan tidak menyerupai asma’ dan sifat Allah tersebut dengan makhluk. Dalam hal ini, Allah berfirman:
مَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ -١٨٠-
“Hanya milik Allah al Asmaa’ul Husna, maka bermohonlah kepada Nya dengan menyebut al Asmaa’ul Husna itu…” (QS. Al A’raf:180)
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ -١١-
“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy Syura’: 11)
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ -١٨٠-
“Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan” (QS. Ash Shaffattt: 180)


3)     Tauhid Uluhiyyah
Secara bahasa, kata Uluhiyyah adalah bahasa Arab yang diambil dari kata ilaah yang artinya yang dituju atau yang disembah. Adapun secar istilah ialah keyakinan yang teguh bahwa hanya Allah yang berhak disembah (diibadahi) disertai dengan pelaksanaan pengabdian/penyembahan kepada Nya saja dari Nya. Tauhid Uluhiyyah ini sering disebut juga sebagai tauhid dalam ibadah.
Tauhid ini merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul dari yang pertama hingga rasul terakhir, Nabi Muhammad saw. Selain itu tauhid ini pula yang menjadi tujuan Allah SWT menciptakan jin dan manusia. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ……-٣٦-
 “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu…” (QS. An Nahl: 36)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ -٢٥-
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada tuhan melainkan Aku,maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (QS. Al Anbiya’: 25)
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ -٥٦-
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56)
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ -٥-
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah: 5)
C.     Kandungan Tauhid Dalam Surat Al Ikhlas
Dalam konsep keTuhanan, Islam adalah suatu agama yang menyerukan pada ketauhidan. Hal ini sangat terlihat jelas di dalam sumber-sumber ajarannya, yaitu salah satunya adalah yang tertera di dalam al qur’an pada surat al ikhlas ayat 1-4:
1.      Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa
2.      Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada Nya segala sesuatu
3.      Dia tidak beranak dtidak pula diperanakan
4.      Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Nya
Di dalam kitab suci al-Qur’an, surat ini adalah surat yang ke 112 dari 114 surat, dan ia termasuk ayat-ayat Makkiyah. Surat ini memang tidak panjang sehingga sangat mudah sekali untuk menghafalnya. Kendati demikian, kandungan atau makna yang terdapat di dalamnya sangatlah luas sekali, dan bisa dikatakan surat ini dapat mewakili ajaran Islam itu sendiri dalam hal ketauhidan.
Ayat 1: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa”
Apabila dikaji secara filosofis, kandungan tauhid yang terdapat di dalam ayat ini memberi penjelasan bahwa Allah swt adalah Maha Tunggal, Esa (ahad).  Menurut Imam Ath-Thabarasy di dalam kitab tafsirnya “Majma’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an”, dikatakan bahwa penggunaan kata “ahad” bukan dengan “wahid” itu dikarenakan wahid termasuk ke dalam kata “hisab” atau hitungan, sedangkan ahad itu berarti dzat Nya tidak terdiri dari rangkaian.. Kita boleh menjadikan bagi wahid itu dua dan seterusnya., akan tetapi kita tidak boleh menjadikan bagi ahad itu dua dan seterusnya.
Dari penjelasan tersebut keEsaan Allah SWT yang terkandung di dalam surat al Ikhlas ayat pertama ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1)      KeEsaan Allah SWT pada dzatnya ((tauhid dzati)
Tauhid dzati dalam istilah bermakna bahwa dzat Allah swt adalah satu, tidak satupun “mitsl” (serupa), sekutu dan yang setara dengan Nya.apabila dikaji secara mendalam tauhid dzati mempunyai makna yang lebih luas disamping makna yang disebutkan di atas. Tauhid ini meliputi:
a.    Penafian akan adanya sekutu bagi Allah swt (tauhid wahidi)
b.   Penafian akan adanya rangkaian-rangkaian/rangkapan pada dzat Allah (tauhid ah adi)
Allah swt adalah Esa, dan tidak ada sekutu bagi Nya. Apabila diasumsikan ada dua Tuhan (wajib al wujud), maka ada dua kemugkinan:
Kemungkinan pertama: Salah satu dari dua Tuhan memiliki kesempurnaan mutlak. Sedangkan tuhan yang satunya tidak sempurna, terbatas, dan memiliki kekurangan. Dari dua kemungkinan ini sangat jelas, bahwa Tuhan hakiki adalah Tuhan yang memiliki kesempurnaan mutlak. Adapun tuhan yang kedua pasti bukan Tuhan, karena ia memiliki kekurangan. Oleh sebab itu, berdasarkan kemungkinan pertama, ia menolak kejamakan Tuhan/adanya sekutu bagi Tuhan dan menegaskan keEsaan Tuhan.
Kemungkinan kedua: Masing-masing dari kedua Tuhan memiliki kekurangan/ketidak sempurnaan, sehingga untuk menutupi kekurangannya mereka saling melengkapi (bekerja sama). Kemungkinan ini sangat mustahil, karena dzat Tuhan suci dari berbagai bentuk ketidak sempurnaan.
Dalam menafikan adanya sekutu bagi Allah, Allah swt berfirman:
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ -٢٢-
“Kalau sekiranya ada beberapa Tuhan di langit dan di bumiselain Allah, niscaya binasalah keduanya. Maka MahaSuci Allah yang mempunyai ‘arsy dari apa yang mereka sifatkan” (QS. Al Anbiya’: 22)
2)      KeEsaan Allah SWT pada sifat Nya
Di dalam pembahasan ini akan dibahas mengenai kesatuan sifat dan dzat Allah. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah swt niscaya memliki sifat-sifat yang sempurna, karena ketidak sempurnaan tersebut menandakan keterbatasan dan kebutuhan. Allah swt bebas dari keterbatasan dan kebutuhan, oleh karenanya sifat-sifat seperti hidup, ilmu, kehendak dan sebagainya dimiliki oleh Allah swt dalam bentuk yang paling sempurna, mutlak dan tak terbatas.
3)      KeEsaan Allah SWT pada perbuatan Nya
a. Tauhid dalam penciptaan
      Secara garis besar tauhid dalam penciptaan bermakna, meyakini bahwa pencipta yang hakiki (sesungguhnya) adalah Allah swt. Adapun pencipta yang dihasilkan oleh seluruh keberadaan selain Allah swt berada dalam lingkaran penciptaan Allah swt, karena Allah swt causa prima (sebab pertama) dari segala sesuatu, dan semuanya itu tunduk pada iradah (keinginan/kehendak) Allah swt. Dengan demikian adalah Khalik (Sang Pencipta) dan seluruh keberadaan selain Nya adalah makhluk (ciptaan Nya), baik melalui perantara maupun tidak.
b. Tauhid dalam pengaturan
Meyakini bahwa hanya Allah swt-lah yang mengatur alam semesta beserta isi-isinya, ini juga merupakan kewajiban bagi setiap muslim.
Ayat 2: “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada Nya segala sesuatu”
Ayat ini menjelaskan bahwa semua makhluk ciptaan Allah swt bergantung kepada Nya. Allah adalah pencipta segala sesuatu baik melalui perantara maupun tidak, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah swt adalah causa prima (sebab pertama) dari segala sesuatu. Oleh karena itu semua maujud-maujud selain Nya adalah faqir, bergantung dan butuh kepada Nya.
Kefakiran makhluk-makhluknya bisa dilihat dari berbagai aspek kehidupannya, semua makhluk berdo’a/berhasrat kepada Nya. Tidak hanya itu, bahkan keberadaannyapun butuh (bergantung) pada Khalik, Allah swt.  Dialah tujuan dari segala makhluk (berasal dari Nya dan akan kembali kepada Nya). Dia Maha Sempurna, Yang Maha Mengetahui dan sempurna dalam ilmu-ilmu Nya, Yang Maha Lembut dan sempurna dalam kelembutan Nya. Kasih sayang Nya meliputi segala sesuatu, demikian juga segala sifat yang dimiliki Nya.
Ayat 3: “Dia tidak beranak dan tidak diperanakan”
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt tidak mempunyai anak karena Dia adalah dzat Yang Maha Mulia dan Maha Agung, tidak ada yang setara dengan Nya. Seorang anak adalah sempalan dan bagian dari orang tuanya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi saw kepada putrinya Fathimah: “Ia adalah bahagian dari diriku”
Allah swt tidak ada yang serupa dengan Nya. Anak merupakan salah satu kebutuhan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan biologis maupun untuk menjaga kesinambungan keturunan. Dalam hal ini, Allah swt tidak memerlukan itu semua. Dia juga tidak dilahirkan karena tidak ada yang serupa dengan Nya, dan Allah swt tidak memerlukan sesuatu apapun dari makhluk Nya. Tidak ada perlunya bagi Allah mempunyai anak, istri atau orang tua. Hal ini karena sifat ketunggalan Nya sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
Ayat 4: “Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Nya”
Ayat ini memliki kandungan bahwa tidak ada sesuatupun yang menyamai seluruh sifat-sifat Nya (dzat dan perbuatannya). Hal ini dikarenakan Allah swt adalah Khalik (wajib al wujud) yang tidak terbatas dan memiliki kesempurnaan mutlak, sedangkan selain Nya adalah makhluk (mumkin al wujud) yang memiliki keterbatasan dan kekurangan.











BAB III
PENUTUP
Simpulan
Setelah membaca dan menganalisis makna tauhid, pembagian tauhid, kandungan tauhid dalam QS.Al-Ikhlas, penulis dapat menarik kesimpulan:
Arti daripada tauhid yakni meng-Esakan Allah dalam hal Mencipta, Menguasai, Mengatur, dan mengikhlaskan (memurnikan) peribadahan hanya kepada-Nya, meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya serta menetapkan asma’ul husna (nama-nama yang bagus) dan sifat al-Ulya (sifat-sifat yang tinggi) bagi-Nya dan mensucikanNya dari kekurangan dan cacat. Sedangkan tauhid sendiri dibagi menjadi beberapa macam, yakni: tauhid rububiyyah, tauhid asma’ wa shifat, dan tauhid uluhiyyah. Dari penafsiran surat al-Ikhlas di atas terlihat bahwa meng-Esakan Allah merupakan suatu yang harus dilakukan seorang hamba karena meng-Esakan Allah merupakan arti daripada Tauhid.
Kewajian kita layaknya manusia hanya  menyembah kepada Allah SWT saja.Allah SWT telah menciptakan untuk manusia berbagai prasarana berupa alam semesta ini. Semua itu untuk mewujudkan peribadatan kepadaNya. Allah juga membantu mereka mewujudkan peribadahan tersebut dengan limpahan rizki. Sedangkan Allah tidak membutuhkan imbalan apapun dari para makhlukNya.
Sesungguhnya tauhid tertanam pada jiwa manusia secara fitrah. Namun asal fitrah ini dirusak oleh bujuk rayuan setan yang memalingkan dari tauhid dan menjerumuskan ke dalam syirik. Para setan baik dari kalangan jin dan manusia bahu-membahu untuk menyesatkan umat dengan ucapan-ucapan yang indah. Sehingga dari hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa makna tauhid adalah asal yang terdapat pada fitrah manusia sejak dilahirkan. Aplikasi tauhid bahwasanya berilmu dan mengetahui serta mengenal tauhid itu adalah kewajiban yang paling pokok dan utama sebelum mengenal yang lainnya serta beramal (karena suatu amalan itu akan diterima jika tauhidnya benar).
Daftar Pustaka
M, Hanafi. 2003. Pengantar Teologi Islam. Jakarta: PT. Pustaka al-Husna Baru.
Zakaria, A. 2008. Pokok-Pokok Ilmu Tauhid. Garut: IBN AZKA Press.
Fauzan, Shalih 2001. Kitab Tauhid 1. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar