BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemikiran
manusia itu sangat butuh akan penuntun di dalam aktivitasnya, apalagi dalam
berpikir tentang ke-Tuhanan. Tanpa suatu penuntun maka ia akan mengalami
kesesatan, contohnya dalam hal kita memecahkan soal aritmatika maupun
matematika diperlukan adanya dalil sebagai penuntun agar memperoleh hasil yang
benar. Jika salah memakai dalil maka hasilnya pun tak akan benar, bahkan pasti
salah.
Dalam memikirkan tentang ke-Tuhanan manusia sangatlah
membutuhkan tuntunan yang absolut (mutlak benar), tanpa tuntunan tersebut akal
manusia itu nisbi dan bersifat subjektif. Hal ini dapat dilihat dari realita
yang terdapat di dalam ajaran-ajaran agama di dunia ini, ada agama monotheistis
yaitu yang mempercayai bahwa Tuhan itu satu dan Esa, dan ada pula agama
polytheistis yaitu yang mempercayai dan menyembah banyak tuhan atau dewa.
Selain itu ada juga yang menganut faham atheisme yaitu suatu aliran/golongan
yang tidak mempercayai adanya Tuhan.
Dalam hal ini Islam adalah agama
tauhid. Mengenai ajarannya yang berhubungan dengan ke-Tuhanan, manusia dituntun
oleh kitab suci al qur’an yang bersifat absolut (mutlak benar), karena kitab
tersebut bersumber langsung dari Allah swt. Adapun salah satu isi dari kitab
suci tersebut yang membicarakan tentang ke-Tuhanan adalah surat al ikhlas.
Surat ini merupakan sebagian dari isi kitab suci al qur’an yang dapat
memberikan tuntunan kepada akal manusia yang subjektif itu dalam memikirkan
Allah swt (Tuhan semesta alam).
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud
Tauhid?
2.
Bagaimana pembagian
Tauhid?
3.
Bagaimana kandungan
atau tafsir Tauhid dalam Q.S. Al-Ikhlas?
C.
Tujuan
Masalah
Mahasiswa mengetahui
dan memahami pengertian Tauhid, pembagiannya, serta kandungan atau tafsir dalam
Qur’an surat Al-Ikhlas.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Tauhid
Tauhid
secara bahasa berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhiidan
yang artinya mengesakan. Satu suku
kata dengan kata wahid yang berarti satu dan kata ahad yang berarti esa. Adapun
secara istilah syar’i tauhid berarti meng
Esakan Allah dalam hal Mencipta, Menguasai, Mengatur, dan mengikhlaskan
(memurnikan) peribadahan hanya kepada Nya, meninggalkan penyembahan kepada
selain Nya serta menetapkan asma’ul husna (nama-nama yang bagus) dan sifat al
ulya (sifat-sifat yang tinggi) bagi Nya dan mensucikan Nya dari kekurangan dan
cacat.
Menurut Syeh M. Abduh, ilmu tauhid ialah ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan, sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, membicarakan tentang
Rasul, untuk menetapkan keutusan
mereka, sifat-sifat yang boleh
dipertautkan kepada mereka, dan sifat-sifat yang tidak
mungkin terdapat pada mereka.
B.
Pembagian Tauhid
1) Tauhid Rububiyyah
Secara bahasa rububiyyah berasal
dari kata Rabb. Dari kata Rabb
dibentuk kata rububiyyah, yang berarti Mencipta,
Memberi rizki, Memiliki, Menguasai, Mengatur, Memperbaiki, dan Mendidik. Dan
karena Allah adalah Rabb yang hak bagi semesta alam, maka kita harus
mengesakan-Nya.
Secara istilah, tauhid rububiyyah
ialah suatu kepercayaan bahwa yang menciptakan alam dunia dan seisinya ini
hanya Allah sendiri tanpa bantuan siapapun. Adanya dunia ini tidak muncul
dengan sendirinya, melainkan ada yang menciptakan dan ada pula yang
mengaturnya, yaitu Allah SWT. Allah Maha Kuat, tiada kekuatan yang menyamai
Allah. Dari sinilah timbullah kesadaran bagi makhluk untuk mengagungkan Allah,
makhluk harus yakin bahwa tiada Tuhan selain Allah. Keyakinan inilah yang
disebut dengan tauhid rububiyyah. Jadi, tauhid rububiyyah ialah tauhid yang
berhubungan dengan ketuhanan. Dalam hal ini, Allah telah berfirman:
الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ
الْعَالَمِينَ -٢-
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta
alam” (QS. Al Fatihah: 2)
لَوْ كَانَ فِيهِمَا
آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا
يَصِفُونَ -٢٢-
“Sekiranya ada di langit dan bumi
tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha
Suci Allah yang mempunyai ‘arsy dari apa yang mereka sifatkan” (QS. Al Anbiya’:
22)
2) Tauhid Asma’ wa
Shifat
Secara bahasa asma’ merupakan jama’ dari kata ismun yang berarti nama, sedang shifat merupakan jama’ dari kata shifatun yang mempunyai arti sifat. Adapun seara istilah,
tauhid asma’ wa shifat ialah suatu keyakinan yang menetapkan asma-asma Allah
dan sifat-sifat Nya, tiada sekutu bagi Nya dalam asma-asma dan tidak menyerupai
asma’ dan sifat Allah tersebut dengan makhluk. Dalam hal ini, Allah berfirman:
مَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ
يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ -١٨٠-
“Hanya milik Allah al Asmaa’ul Husna,
maka bermohonlah kepada Nya dengan menyebut al Asmaa’ul Husna itu…” (QS. Al
A’raf:180)
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
-١١-
“…Tidak ada sesuatupun yang serupa
dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Asy Syura’:
11)
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
-١٨٠-
“Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai
keperkasaan dari apa yang mereka katakan” (QS. Ash Shaffattt: 180)
3) Tauhid Uluhiyyah
Secara bahasa, kata Uluhiyyah
adalah bahasa Arab yang diambil dari kata ilaah yang artinya yang dituju atau yang
disembah. Adapun secar istilah ialah keyakinan yang teguh bahwa hanya Allah
yang berhak disembah (diibadahi) disertai dengan pelaksanaan
pengabdian/penyembahan kepada Nya saja dari Nya. Tauhid Uluhiyyah ini sering disebut juga sebagai
tauhid dalam ibadah.
Tauhid ini merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul dari
yang pertama hingga rasul terakhir, Nabi Muhammad saw. Selain itu tauhid ini
pula yang menjadi tujuan Allah SWT menciptakan jin dan manusia. Allah SWT
berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا
فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ……-٣٦-
“Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),
“sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut itu…” (QS. An Nahl: 36)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا
نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ -٢٥-
“Dan Kami tidak mengutus seorang
rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada
tuhan melainkan Aku,maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (QS. Al Anbiya’:
25)
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ -٥٦-
“Dan aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku” (QS. Adz Dzariyat: 56)
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ
وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ -٥-
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Nya dalam
(menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan
menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah:
5)
C.
Kandungan Tauhid Dalam Surat Al Ikhlas
Dalam konsep keTuhanan, Islam adalah suatu agama yang
menyerukan pada ketauhidan. Hal ini sangat terlihat jelas di dalam
sumber-sumber ajarannya, yaitu salah satunya adalah yang tertera di dalam al
qur’an pada surat al ikhlas ayat 1-4:
1.
Katakanlah: Dialah
Allah, Yang Maha Esa
2.
Allah adalah Tuhan
yang bergantung kepada Nya segala sesuatu
3.
Dia tidak beranak
dtidak pula diperanakan
4.
Dan tidak ada sesuatupun
yang setara dengan Nya
Di
dalam kitab suci al-Qur’an, surat ini adalah surat yang ke 112 dari 114 surat,
dan ia termasuk ayat-ayat Makkiyah. Surat ini memang tidak panjang sehingga
sangat mudah sekali untuk menghafalnya. Kendati demikian, kandungan atau makna
yang terdapat di dalamnya sangatlah luas sekali, dan bisa dikatakan surat ini
dapat mewakili ajaran Islam itu sendiri dalam hal ketauhidan.
Ayat
1: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa”
Apabila dikaji secara
filosofis, kandungan tauhid yang terdapat di dalam ayat ini memberi penjelasan
bahwa Allah swt adalah Maha Tunggal, Esa (ahad). Menurut Imam Ath-Thabarasy di dalam kitab
tafsirnya “Majma’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an”, dikatakan bahwa penggunaan
kata “ahad” bukan dengan “wahid” itu dikarenakan wahid termasuk ke dalam kata
“hisab” atau hitungan, sedangkan ahad itu berarti dzat Nya tidak terdiri dari
rangkaian.. Kita boleh menjadikan bagi wahid itu dua dan seterusnya., akan
tetapi kita tidak boleh menjadikan bagi ahad itu dua dan seterusnya.
Dari
penjelasan tersebut keEsaan Allah SWT yang terkandung di dalam surat al Ikhlas ayat
pertama ini dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1) KeEsaan Allah SWT pada dzatnya ((tauhid
dzati)
Tauhid dzati dalam istilah bermakna bahwa dzat Allah swt
adalah satu, tidak satupun “mitsl” (serupa), sekutu dan yang setara dengan
Nya.apabila dikaji secara mendalam tauhid dzati mempunyai makna yang lebih luas
disamping makna yang disebutkan di atas. Tauhid ini meliputi:
a.
Penafian akan adanya
sekutu bagi Allah swt (tauhid wahidi)
b.
Penafian akan adanya
rangkaian-rangkaian/rangkapan pada dzat Allah (tauhid ah adi)
Allah swt adalah Esa, dan tidak ada sekutu bagi Nya. Apabila
diasumsikan ada dua Tuhan (wajib al wujud), maka ada dua kemugkinan:
Kemungkinan pertama:
Salah satu dari dua Tuhan memiliki kesempurnaan mutlak. Sedangkan tuhan yang
satunya tidak sempurna, terbatas, dan memiliki kekurangan. Dari dua kemungkinan
ini sangat jelas, bahwa Tuhan hakiki adalah Tuhan yang memiliki kesempurnaan
mutlak. Adapun tuhan yang kedua pasti bukan Tuhan, karena ia memiliki
kekurangan. Oleh sebab itu, berdasarkan kemungkinan pertama, ia menolak
kejamakan Tuhan/adanya sekutu bagi Tuhan dan menegaskan keEsaan Tuhan.
Kemungkinan kedua:
Masing-masing dari kedua Tuhan memiliki kekurangan/ketidak sempurnaan, sehingga
untuk menutupi kekurangannya mereka saling melengkapi (bekerja sama).
Kemungkinan ini sangat mustahil, karena dzat Tuhan suci dari berbagai bentuk
ketidak sempurnaan.
Dalam menafikan adanya sekutu bagi
Allah, Allah swt berfirman:
لَوْ كَانَ فِيهِمَا
آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا
يَصِفُونَ -٢٢-
“Kalau
sekiranya ada beberapa Tuhan di langit dan di bumiselain Allah, niscaya
binasalah keduanya. Maka MahaSuci Allah yang mempunyai ‘arsy dari apa yang
mereka sifatkan” (QS. Al Anbiya’: 22)
2) KeEsaan Allah SWT
pada sifat Nya
Di dalam pembahasan ini akan dibahas
mengenai kesatuan sifat dan dzat Allah. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah
swt niscaya memliki sifat-sifat yang sempurna, karena ketidak sempurnaan
tersebut menandakan keterbatasan dan kebutuhan. Allah swt bebas dari
keterbatasan dan kebutuhan, oleh karenanya sifat-sifat seperti hidup, ilmu,
kehendak dan sebagainya dimiliki oleh Allah swt dalam bentuk yang paling
sempurna, mutlak dan tak terbatas.
3)
KeEsaan
Allah SWT pada perbuatan Nya
a. Tauhid dalam penciptaan
Secara garis besar tauhid dalam penciptaan
bermakna, meyakini bahwa pencipta yang hakiki (sesungguhnya) adalah Allah swt.
Adapun pencipta yang dihasilkan oleh seluruh keberadaan selain Allah swt berada
dalam lingkaran penciptaan Allah swt, karena Allah swt causa prima (sebab pertama) dari segala sesuatu, dan semuanya itu
tunduk pada iradah (keinginan/kehendak) Allah swt. Dengan demikian adalah
Khalik (Sang Pencipta) dan seluruh keberadaan selain Nya adalah makhluk
(ciptaan Nya), baik melalui perantara maupun tidak.
b.
Tauhid dalam pengaturan
Meyakini bahwa hanya Allah swt-lah yang
mengatur alam semesta beserta isi-isinya, ini juga merupakan kewajiban bagi
setiap muslim.
Ayat
2: “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada Nya segala sesuatu”
Ayat ini menjelaskan bahwa semua makhluk ciptaan Allah swt
bergantung kepada Nya. Allah adalah pencipta segala sesuatu baik melalui
perantara maupun tidak, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa
Allah swt adalah causa prima (sebab pertama) dari segala sesuatu. Oleh karena
itu semua maujud-maujud selain Nya adalah faqir, bergantung dan butuh kepada
Nya.
Kefakiran makhluk-makhluknya bisa dilihat
dari berbagai aspek kehidupannya, semua makhluk berdo’a/berhasrat kepada Nya.
Tidak hanya itu, bahkan keberadaannyapun butuh (bergantung) pada Khalik, Allah
swt. Dialah tujuan dari segala makhluk
(berasal dari Nya dan akan kembali kepada Nya). Dia Maha Sempurna, Yang Maha
Mengetahui dan sempurna dalam ilmu-ilmu Nya, Yang Maha Lembut dan sempurna
dalam kelembutan Nya. Kasih sayang Nya meliputi segala sesuatu, demikian juga
segala sifat yang dimiliki Nya.
Ayat
3: “Dia tidak beranak dan tidak diperanakan”
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt tidak mempunyai anak
karena Dia adalah dzat Yang Maha Mulia dan Maha Agung, tidak ada yang setara
dengan Nya. Seorang anak adalah sempalan dan bagian dari orang tuanya. Hal ini
sebagaimana sabda Nabi saw kepada putrinya Fathimah: “Ia adalah bahagian dari diriku”
Allah swt tidak ada yang serupa dengan
Nya. Anak merupakan salah satu kebutuhan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan
biologis maupun untuk menjaga kesinambungan keturunan. Dalam hal ini, Allah swt
tidak memerlukan itu semua. Dia juga tidak dilahirkan karena tidak ada yang
serupa dengan Nya, dan Allah swt tidak memerlukan sesuatu apapun dari makhluk
Nya. Tidak ada perlunya bagi Allah mempunyai anak, istri atau orang tua. Hal
ini karena sifat ketunggalan Nya sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
Ayat
4: “Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan Nya”
Ayat ini memliki kandungan bahwa tidak ada sesuatupun yang
menyamai seluruh sifat-sifat Nya (dzat dan perbuatannya). Hal ini dikarenakan
Allah swt adalah Khalik (wajib al wujud) yang tidak terbatas dan memiliki
kesempurnaan mutlak, sedangkan selain Nya adalah makhluk (mumkin al wujud) yang
memiliki keterbatasan dan kekurangan.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Setelah membaca dan menganalisis makna tauhid, pembagian tauhid, kandungan
tauhid dalam QS.Al-Ikhlas, penulis dapat menarik kesimpulan:
Arti
daripada tauhid yakni meng-Esakan Allah dalam hal Mencipta, Menguasai,
Mengatur, dan mengikhlaskan (memurnikan) peribadahan hanya kepada-Nya, meninggalkan
penyembahan kepada selain-Nya serta menetapkan asma’ul husna (nama-nama yang
bagus) dan sifat al-Ulya (sifat-sifat yang tinggi) bagi-Nya dan mensucikanNya
dari kekurangan dan cacat. Sedangkan tauhid sendiri dibagi menjadi beberapa
macam, yakni: tauhid rububiyyah,
tauhid asma’ wa shifat, dan tauhid
uluhiyyah. Dari penafsiran surat al-Ikhlas di atas terlihat bahwa meng-Esakan
Allah merupakan suatu yang harus dilakukan seorang hamba karena meng-Esakan
Allah merupakan arti daripada Tauhid.
Kewajian kita layaknya manusia hanya menyembah kepada Allah SWT saja.Allah SWT
telah menciptakan untuk manusia berbagai prasarana berupa alam semesta ini.
Semua itu untuk mewujudkan peribadatan kepadaNya.
Allah juga membantu mereka mewujudkan peribadahan
tersebut dengan limpahan rizki. Sedangkan Allah tidak membutuhkan imbalan apapun dari para makhlukNya.
Sesungguhnya tauhid tertanam pada jiwa manusia secara
fitrah. Namun asal fitrah ini dirusak oleh bujuk rayuan setan
yang memalingkan dari tauhid dan menjerumuskan ke dalam syirik.
Para setan baik dari kalangan jin dan manusia
bahu-membahu untuk menyesatkan umat dengan ucapan-ucapan yang indah.
Sehingga dari hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa makna
tauhid adalah asal yang terdapat pada fitrah manusia
sejak dilahirkan. Aplikasi tauhid bahwasanya berilmu dan mengetahui serta
mengenal tauhid itu adalah kewajiban yang paling pokok dan utama sebelum
mengenal yang lainnya serta beramal (karena suatu amalan itu akan diterima jika
tauhidnya benar).
Daftar Pustaka
M,
Hanafi. 2003. Pengantar Teologi Islam.
Jakarta: PT. Pustaka al-Husna Baru.
Zakaria,
A. 2008. Pokok-Pokok Ilmu Tauhid.
Garut: IBN AZKA Press.
Fauzan,
Shalih 2001. Kitab Tauhid 1.
Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar