A.
PENDAHULUAN
Sikap merupakan gejala psikologis, demikian halnya dengan perubahan
sikap adalah sebagian gejala psikologis yang secata wajar terjadi dalam
kehidupan manusia. Setiap manusia tentu memiliki pandangan, kesan, dan sikap
tertentu terhadap objek yang dijumpainya.
Upaya mengubah
pandangan, sikap, dan perilaku dengan teknik persuasi merupakan salah satu
fenomena yang sering terjadi di masyarakat. Teknik persuasi telah menjadi salah
satu alternatif yang banyak dipergunakan dalam komunikasi interpersonal. Tujuan
utama pendekatan persuasif adalah untuk mengubah sikap secara halus dengan cara
membujuk.
Dengan
komunikasi persuasif komunikan akan melakukan apa yang dikehendaki
komunikatornya, dan seolah-olah komunikan itu melakukan pesan komunikasi atas
kehendaknya sendiri dengan suka rela atau tanpa paksaan. Keberhasilan
komunikasi persuasif sangan ditentukan oleh cara mengorganisasi informasi yang
sesuai dengan situasi psikologis dan sosiologis serta latar belakang budaya
komunikan untuk mempengaruhi dalam mencapai perwujudan dari apa yang diinginkan
pesan.
B.
TEORI INTERPERSONAL DAN PERUBHAN SIKAP
1.
TEORI-TEORI PERSUASI
Salah satu bentuk komunikasi paling mendasar adalah persuasi.
Persuasi didefinisikan sebagai “perubahan sikap akibat paparan informasi dari orang
lain”. Banyak riset telah dilakukan berkenaan dengan komunikasi yang ditujukan
pada perubahan sikap.
Sikap pada dasarnya adalah tendensi kita terhadap sesuatu. Sikap
adalah rasa suka atau tidak suka kita atas sesuatu.[1]
Konsep lain yang berkaitan erat dengan sikap adalah keyakinan, atau
pernyataan-pernyataan yang dianggap benar oleh seseorang. Seorang pria yang
yakin bahwa rokok bisa menyebabkan kanker paru-paru mungkin akan menolak untuk merokok.
Sikap penting sekali dalam berbagai bidang yang sangat diperhatikan
banyak orang di antara praktik-praktik kesehatan, prasangka dan dan stereotip,
serta sikap politik. Sikap sering dianggap memiliki tiga komponen:[2]
a.
Komponen afektif (kesukaan atau perasaan terhadap sebuah objek)
b.
Komponen kognitif (keyakinan terhadap sebuah objek)
c.
Komponen perilaku (tindakan terhadap objek).
Intinya sikap adalah rangkuman terhadap objek sikap kita. Evaluasi
rangkuman rasa suka atau tidak suka terhadap objek sikap adalah inti dari
sikap. Struktur sikap juga penting. Perlu sekali kita melihat dua jenis
struktur sikap: antar sikap (interattitudinal) dan intrasikap
(intra-attitudinal). Struktur inter-attitudinal merujuk pada pengelompokan
sikap kedalam grup-grup atau rangkaian. Struktur intra-attitudinal merujuk pada
cara komponen-komponen sikap saling berkaitan.
Banyak sikap yang sulit untuk berubah. Sikap biasanya memiliki
nilai dan manfaat bagi orang yang memegang sikap itu, dan biasanya sikap tersebut melekat erat pada ego
atau jati diri seseorang. Sering usaha-usaha untuk mengubah sikap seseorang
dipandang sebagai sebuah ancaman dan ditolak.
2.
KONSEP SIKAP
Konsep sikap yang telah dideskripsikan oleh Gordon Allport (1954)
“mungkin adalah yang paling istimewa atau penting dalam psikologi sosial
Amerika kontemporer”. Allport menyebutkan bahwa istilah itu muncul untuk
menggantikan istilah-istilah samar dalam psikologi seperti naluri,
adat-istiadat, tekanan sosial, dan sentimen.
Beberapa definisi penting sikap adalah sebagai berikut:
·
Sikap pada dasarnya adalah suatu cara “pandang” terhadap sesuatu.
·
Kesiapan mental dan sistem syaraf, yang diorganisasikan melalui
pengalaman, menimbulkan pengaruh langsung atau dinamis pada respons-respons
seseorang terhadap semua objek dan situasi terkait.
·
Sebuah kecenderungan yang bertahan lama, dipelajari untuk
berpeilaku dengan konsisten terhadap sekelompok objek.
·
Sebuah sistem evaluasi positif atau negatif yang awet,
perasaan-perasaan emosional, dan tendensi tindakan pro atau kontra terhadap
sebuah objek sosial.[3]
3.
HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONA DAN SIKAP
Memahas hubungan interpersonal terhadap sikap pada hakikatnya juga
membicarakan gejala psikologis. Krech (1962:261) dalam pandangannya mengenai
pengaruh komunikasi interpersonal terhadap perubahan sikpa pada individu,
mengatakan sebagai fenomena psikologis dan terjadi dalam dua arah.[4]
a.
Incongruent, yaitu perubahan sikap yang menuju ke arah yang
bertentangan dengan sikap semula. Perubahan yang terjadi adalah perubahan dari
sikap negatif ke arah sikap positif, dan sebaliknya.
b.
Congruent, yakni perubahan sikap yang sejalan atau tidak
bertentangan dengan sikap semula. Perubahan seperti ini biasanya bersifat
peneguhan atau penguatan sikap, yang positif semakin positif dan yang negatif
menjadi semakin negatif.
Teori tentang sikap sebagaimana dikemukakan oleh Allport, di
jelaskan bahwa sikap terdiri atas tiga komponen, yakni: 1) komponen kognisi
yang berhubungan dengan belief, ide, pemahaman, dan konsep; 2) komponen afeksi
yang menyangkut kehidupan emosi dan perasaan seseorang; 3) komponen konasi yang
merupakan kecenderungan bertingkah laku.
·
Komponen kognitif, berhubungan dengan pengetahuan dan pemahaman
seseorang, dari pengetahuan yang sedikit hingga mengetahui secara menyeluruh
mengenai objek sikap itu.
·
Komponen afektif, merupakan suatu keadaan yang bersifat emosional
dalam hubungan dengan objek atau situasi tertentu. Komponen ini melibatkan
peranan perasaan serta kesan yang diwarnai dengan adanya rasa senang atau tidak
senang. Simpati atau antipati, cemas, takut, dan sebagainya terhadap suatu
objek yang dihadapi. Dengan demikian komponen ini dapat disamakan dengan
perasaan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek tertentu sebagai respon
terhadap objek yang dihadapi. Dalam hal ini objek dirasakan sebagai suatu yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan, disukai atau tidak disukai.
·
Komponen konatif, menunjukkan kecenderungan berperilaku yang ada
dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Terdapat
asumsi, bahwa pengetahuan dan perasaan yang telah terbentuk pada diri individu,
pada gilirannya akan mempengruhi kecenderungan perilaku. Oleh karena itu,
kiranya cukup beralasan mengharapkan bahwa sikap yang terbentuk pada diri
seseorang akan dicerminkan dalam bentuk kecenderungan perilaku terhadap objek
tertentu. Komponen konatif berhubungan dengan psikomotorik serta merupakan
kecenderungan atau kesiapan untuk bertingkahlaku terhadap suatu objek atau
siatuasi yang dihadapi. Komponen konatif ini pada dasarnya akan mendorong
terbentuknya sikap individu yang tercermin dalam perilaku. Stimuli yang
diterima, terlebih dahulu di proses melalui komponen kognitif, afektif,
kemudian terjadi kecenderungan tingkah laku. Tingkat konasi seseorang menunjuk
kepada sampai sejauh mana orang tersebut berkecenderungan melksanakan atau
tidak melaksnakan suatu objek sikap yang dihadapi.
4.
KOMUNIKASI INTERPERSONAL SEBAGAI PENGALAMAN
Komunikasi interpersonal adalah salah satu pengalaman terpenting
bagi manusia. Seorang anak yang masih bayi mampu mengenali orang tua dan keluarganya, sehingga dia akan
meronta ketika orang yang tidak dikenal berusaha menggendongnya. Ia akan
tersenyum ketika ibunya menimangnya. Semua kecakapan itu diperoleh dari proses
pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya.
Prinsip dasar dari komunikasi interpersonal, ialah bahwa
pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi pasti akan memperoleh pengalaman.
Hal ini disebabkan esensi komunikasi interpersonal adalah proses interaksi
simbol-simbol. Misalnya, ketika si A berkomunikasi secara interpersonal dengan
si B, maka keduanya akan memperoleh pengalaman baru yang disebabkan oleh adanya
stimuli simbol-simbol yng ditransaksikan itu. Setiap pengalaman baru yang
didapat dengan isyarat tertentu, memberikan tambahan makna yang baru pula. Pada
saat ini, maka sebenarnya Kita telah memperoleh pengalaman baru yang menyangkut
beberapa istilah, konsep, pengetahuan, dan sebagainya. Kita yang sekarang sudah
berbeda dengan Kita yang sebelum membaca buku, karena sudah ada perubahan pada
memori Kita, yaitu adanya pengalaman baru.
Dapat dikatakan bahwa proses komunikasi interpersonal mengakibatkan
terjadinya pengalaman baru, dan pengalaman baru itu membuktikan telah
terjadinya perubahan. Perubahan yang disebabkan oleh komunikasi interpersonal,
mungkin saja hanya perubahan kecil saja, misalnya hanya sampai kepada tataran
berubahnya pengetahuan, tetapi ada pula kemungkinan terjadinya perubahan yang
lebih besar yaitu perubahan sikap dan perilaku.
Dapat ditegaskan disini bahwa perubahan merupakan hasil
komunikasi interpersonal yang tidak
mungkin dapat dielakkan. Ketika Kita berkomunikasi secara interpersonal dengan
tetangga Kita, maka akan terjadi perubahan yang disebabkan adanya pengalaman
baru. Memang tidak dapat dipastikan kemana arah perubahan yang akan terjadi dan
seberapa besar perubahan itu. Seringkali perubahan itu terjadi secara spontan,
tidak disengaja, dan tidak disadari. Tetapi apabilan Kita hendak memecahkan
suatu masalah dengan komunikasi interpersonal, maka selayaknya jika komunikasi
dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan perubahan sebagaimana yang
diinginkan.
5.
FUNGSI SIKAP
Katz (1960) mengidentifikasi empat fungsi utama sikap berikut ini
yang dapat bermanfaat bagi kepribadian:
1.
Fungsi Instrumental, penyelarasan atau kebermanfaatan. Sejumlah
sikap dipegang kuat karena manusia berjuang keras untuk memaksimalkan
penghargaan dalam lingkungan eksternal mereka dan meminimalkan sanksi.
Misalnya, seorang pemegang hak pilih yang beranggapan bahwa pajak terlalu
tinggi mungkin akan memilih seorang kandidat politik karena kandidat itu
berjanji untuk menurunkan pajak.
2.
Fungsi pertahanan diri. Sejumlah sukap kuat dipegang karena manusia
melindungi ego mereka dari hasrat mereka sendiri yang tidak dapat diterima atau
dari pengetahuan tentang kekuatan-kekuatan yang mengancam dari luar. Perasaan
rendah diri sering diproyeksikan pada anggota-anggota sebuah kelompok minoritas
sebagai alat memperkuat ego. Ini merupqkan sebuah contoh sikap berprasangka
yang memiliki fungsi pertahanan diri.
3.
Fungsi ekspresi nilai. Beberapa sikap dipegang kuat karena memungkinkan seseorang memberikan
ekspresi positif pada nilai-nilai sentral dan jatii diri. Misalnya, seorang
remaja yang menyukai sebuah grup musik reggae mengekspresikan kepribadiannya
melalui sikap ini.
4.
Fungsi pengetahuan. Beberapa sikap dipegang kuat karena memuaskan
kebutuhan akan pengetahuan atau memberikan struktur dn makna pada sesuatu yang
jika tanpanya dunia akan kacau. Banyak keyakinan religius memiliki fungsi ini,
juga sikap-sikap lain seperti norma-norma budaya yang berlaku.
6.
BERBAGAI PENDEKATAN MENCAPAI PERUBAHAN
Ada komunikasi interpersonal, tentu ada perubahan.
Sekurang-kurangnya ditandai oleh diperolehnya pengalaman baru bagi para pelaku
komunikasi. Ada empat pendekatan komunikasi interpersonal yang dibahas pada Bab
ini, yaitu mencakup: informatif, dialogis, persuasif, dan instruktif.
a.
Informatif
Pendekatan
informatif pada hakikatnya komunikator hanya menyampaikan informasi kepada
komunikan. Target yang ingin dicapai sekurangnya terjadi perubahan pengetahuan.
Jadi komunikan memperoleh pengetahuan baru setelah diterpa pesan komunikasi
interpersonal.
Ketika kita
berbicara tentang efektivitas komunikasi interpersonal, tampaknya komunikasi
dengan pendekatan informatif ini tidak dapat kita harapkan terlalu berlebihan.
Kita harus rasional bahwa dengan pendekatan informatif, target kita adalah agar
komunikan memperoleh pengetahuan baru. Sedangkan kefektidfan berikutnya,
diserahkan kepada diri komunikan, apakah dengan pengetahuan yang baru itu dapat
diberdayakan untuk melakukan perubahan sikap.
b.
Dialogis
Ciri komunikasi
interpersonal dengan pendekatan dialogis adalah terjadinya percakapan atau
dialog, menuju proses berbagai informasi. Jadi dalam pendekatan ini kedua belah
pihak berada dalam posisi sejajar. Mereka tidak membujuk teman bicara agar mau
menerima pendapat yang dimiliki. Bahkan kedua belah pihak bersedia mengubah
pandangannya dan mendengarkan pandngan teman bicara.
Pendekatan
dialogis ini merupakan cara mempengaruhi dab mengubah pandangan maupun sikap
orang lain dengan terbuka. Dikatakan terbuka, karena kedua belah pihak
sama-sama bersedia menerima pandangan dari teman bicaranya.
c.
Persuasif
Persuasi
merupakan proses komunikasi yang kompleks yang dilakukan oleh individu dengan
menggunakan pesan secara verbal maupun nonverbal yang dilakukan dengan cara
membujuk atau memberikan dorongan yang bertujuan untuk mengubah sikap dan
tinglah laku seseorang yang dilandasi kerelaan dan senang hati sesuai dengan
pesan-pesan yang diterima. Jadi komunikasi persuasif adalah suatu proses dimana
seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan untuk mempengaruhi, mengubah
pandangan, sikap dan perilaku orang lain atau kelompok orang (komunikan) dengan
cara halus, yaitu membujuk.
H. A. W Widjaja
(2002: 67) yang mengatakan bahwa komunikasi persuasif ini tidak lain daripada
suatu usaha untuk meyakinkan orang lain agar berbuat dan bertingkah laku
seperti yang diharapkan komunikator dengan cara membujuk tanpa memaksa dan
tanpa kekerasan. Pendapat lebih rinci dikemukakan oleh Sastropoetro (1988: 246)
bahwa kata persuasi berasal dari bahasa inggris persuation yang berinduk kepada
kata kerja to persuade yang berarti membujuk, merayu dan menghimbau atau
sejenisnya adalah merangsang seseorang untuk melakukan sesuatu dengan spontan,
dengan senang hati, dengan suka rela tanpa dipaksa.
d.
Instruktif
Pendekatan ini
dinamakan pula koersif. Pendekatan instruktif atau koersif menekankan pada
memposisikan komunikator dalam posisi tawar yang tinggi, dimana dia dapat
legimitasi untuk memerintahkan, mengajarkan, dan bahkan mengajukan satu macam
ide kepada komunikan. Dalam pendekatan
ini, peluang terjadinya dialog sangat dibatasi, karena dikhawatirkan akan
membelokkan ide utama yang dianggap paling baik untuk suatu program tertentu.
7.
KOMUNIKATOR DAN PERUBAHAN
Komunikator adalah individu yang mengambil prakarsa ataupun sedang
melakukan komunikasi dengan individu atau kelompok (sasaran) yang lain. dalam
pengertian luas, komunikator dapat diartikan sebagai orang-orang yang
menyampaikan lambang-lambang bermakna atau pesan yang mengandung ide,
informasi, opini, kepercayaan, perasaan, dan sebagainya kepada orang lain.
Hovland (Krech, 1962: 231) mengemukakan bahwa pesan yang
disampaikan komunikator memiliki kredibilitas (keahlian dan keterpercayaan)
tinggi akan lebih banyak berpengaruh kepada perubahan sikap dan perilaku
penerima pesan. Onong U. Effendy (1986: 20-21) mengutarakan, agar komunikasi
dapat berlangsung efektif, komunikator harus memiliki kemampuan yang
disyaratkan. Keefektifan komunikasi tidak hanya di tentukan oleh kemampuan
komunikasi tetapi juga oleh diri si komunikator.
Garna (1991: 26) mengatakan bahwa efektivitas komunikasi juga
dipengaruhi oleh pengetahuan komunikator tentang sistem sosial tempat
komunikasi berlangsung. Sistem sosial ini adalah suatu perangkat pesan sosial
yang berinteraksi dalam kelompok sosial yang memiliki norma, nilai, dan tujuan
tertentu. Berdasarkan pendapat ini, maka selain memiliki kredibilitas yang
baik, seorang komunikator perlu memahami dan dapat menyesuaikan diri dengan
situasi sistem sosial.
C.
KESIMPULAN
Persuasi
didefinisikan sebagai “perubahan sikap akibat paparan informasi dari orang
lain”. Sikap pada dasarnya adalah tendensi kita terhadap sesuatu. Sikap adalah
rasa suka atau tidak suka kita atas sesuatu. Persuasi merupakan proses
komunikasi yang kompleks yang dilakukan oleh individu dengan menggunakan pesan
secara verbal maupun nonverbal yang dilakukan dengan cara membujuk atau
memberikan dorongan yang bertujuan untuk mengubah sikap dan tinglah laku
seseorang yang dilandasi kerelaan dan senang hati sesuai dengan pesan-pesan
yang diterima.
Jadi komunikasi persuasif adalah suatu proses
dimana seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan untuk mempengaruhi,
mengubah pandangan, sikap dan perilaku orang lain atau kelompok orang
(komunikan) dengan cara halus, yaitu membujuk.
Prinsip dasar
dari komunikasi interpersonal, ialah bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam
komunikasi pasti akan memperoleh pengalaman. Hal ini disebabkan esensi
komunikasi interpersonal adalah proses interaksi simbol-simbol.
D.
DAFTAR PUSTAKA
Severin, Werner
J. Dan James W. Tankard. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, & Terapan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2001.
Suranto.
Komunikasi Interpersonal.Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar