Kamis, 10 Desember 2015

Teori Interpersonal dan Perubahan Sikap



A.    PENDAHULUAN
Sikap merupakan gejala psikologis, demikian halnya dengan perubahan sikap adalah sebagian gejala psikologis yang secata wajar terjadi dalam kehidupan manusia. Setiap manusia tentu memiliki pandangan, kesan, dan sikap tertentu terhadap objek yang dijumpainya.
Upaya mengubah pandangan, sikap, dan perilaku dengan teknik persuasi merupakan salah satu fenomena yang sering terjadi di masyarakat. Teknik persuasi telah menjadi salah satu alternatif yang banyak dipergunakan dalam komunikasi interpersonal. Tujuan utama pendekatan persuasif adalah untuk mengubah sikap secara halus dengan cara membujuk.
Dengan komunikasi persuasif komunikan akan melakukan apa yang dikehendaki komunikatornya, dan seolah-olah komunikan itu melakukan pesan komunikasi atas kehendaknya sendiri dengan suka rela atau tanpa paksaan. Keberhasilan komunikasi persuasif sangan ditentukan oleh cara mengorganisasi informasi yang sesuai dengan situasi psikologis dan sosiologis serta latar belakang budaya komunikan untuk mempengaruhi dalam mencapai perwujudan dari apa yang diinginkan pesan.

B.     TEORI INTERPERSONAL DAN PERUBHAN SIKAP
1.      TEORI-TEORI PERSUASI
Salah satu bentuk komunikasi paling mendasar adalah persuasi. Persuasi didefinisikan sebagai “perubahan sikap akibat paparan informasi dari orang lain”. Banyak riset telah dilakukan berkenaan dengan komunikasi yang ditujukan pada perubahan sikap.
Sikap pada dasarnya adalah tendensi kita terhadap sesuatu. Sikap adalah rasa suka atau tidak suka kita atas sesuatu.[1] Konsep lain yang berkaitan erat dengan sikap adalah keyakinan, atau pernyataan-pernyataan yang dianggap benar oleh seseorang. Seorang pria yang yakin bahwa rokok bisa menyebabkan kanker paru-paru mungkin  akan menolak untuk merokok.
Sikap penting sekali dalam berbagai bidang yang sangat diperhatikan banyak orang di antara praktik-praktik kesehatan, prasangka dan dan stereotip, serta sikap politik. Sikap sering dianggap memiliki tiga komponen:[2]
a.       Komponen afektif (kesukaan atau perasaan terhadap sebuah objek)
b.      Komponen kognitif (keyakinan terhadap sebuah objek)
c.       Komponen perilaku (tindakan terhadap objek).
Intinya sikap adalah rangkuman terhadap objek sikap kita. Evaluasi rangkuman rasa suka atau tidak suka terhadap objek sikap adalah inti dari sikap. Struktur sikap juga penting. Perlu sekali kita melihat dua jenis struktur sikap: antar sikap (interattitudinal) dan intrasikap (intra-attitudinal). Struktur inter-attitudinal merujuk pada pengelompokan sikap kedalam grup-grup atau rangkaian. Struktur intra-attitudinal merujuk pada cara komponen-komponen sikap saling berkaitan.
Banyak sikap yang sulit untuk berubah. Sikap biasanya memiliki nilai dan manfaat bagi orang yang memegang sikap itu, dan  biasanya sikap tersebut melekat erat pada ego atau jati diri seseorang. Sering usaha-usaha untuk mengubah sikap seseorang dipandang sebagai sebuah ancaman dan ditolak.

2.      KONSEP SIKAP
Konsep sikap yang telah dideskripsikan oleh Gordon Allport (1954) “mungkin adalah yang paling istimewa atau penting dalam psikologi sosial Amerika kontemporer”. Allport menyebutkan bahwa istilah itu muncul untuk menggantikan istilah-istilah samar dalam psikologi seperti naluri, adat-istiadat, tekanan sosial, dan sentimen.
Beberapa definisi penting sikap adalah sebagai berikut:
·         Sikap pada dasarnya adalah suatu cara “pandang” terhadap sesuatu.
·         Kesiapan mental dan sistem syaraf, yang diorganisasikan melalui pengalaman, menimbulkan pengaruh langsung atau dinamis pada respons-respons seseorang terhadap semua objek dan situasi terkait.
·         Sebuah kecenderungan yang bertahan lama, dipelajari untuk berpeilaku dengan konsisten terhadap sekelompok objek.
·         Sebuah sistem evaluasi positif atau negatif yang awet, perasaan-perasaan emosional, dan tendensi tindakan pro atau kontra terhadap sebuah objek sosial.[3]

3.      HUBUNGAN ANTARA KOMUNIKASI INTERPERSONA DAN SIKAP
Memahas hubungan interpersonal terhadap sikap pada hakikatnya juga membicarakan gejala psikologis. Krech (1962:261) dalam pandangannya mengenai pengaruh komunikasi interpersonal terhadap perubahan sikpa pada individu, mengatakan sebagai fenomena psikologis dan terjadi dalam dua arah.[4]
a.       Incongruent, yaitu perubahan sikap yang menuju ke arah yang bertentangan dengan sikap semula. Perubahan yang terjadi adalah perubahan dari sikap negatif ke arah sikap positif, dan sebaliknya.
b.      Congruent, yakni perubahan sikap yang sejalan atau tidak bertentangan dengan sikap semula. Perubahan seperti ini biasanya bersifat peneguhan atau penguatan sikap, yang positif semakin positif dan yang negatif menjadi semakin negatif.
Teori tentang sikap sebagaimana dikemukakan oleh Allport, di jelaskan bahwa sikap terdiri atas tiga komponen, yakni: 1) komponen kognisi yang berhubungan dengan belief, ide, pemahaman, dan konsep; 2) komponen afeksi yang menyangkut kehidupan emosi dan perasaan seseorang; 3) komponen konasi yang merupakan kecenderungan bertingkah laku.
·         Komponen kognitif, berhubungan dengan pengetahuan dan pemahaman seseorang, dari pengetahuan yang sedikit hingga mengetahui secara menyeluruh mengenai objek sikap itu.
·         Komponen afektif, merupakan suatu keadaan yang bersifat emosional dalam hubungan dengan objek atau situasi tertentu. Komponen ini melibatkan peranan perasaan serta kesan yang diwarnai dengan adanya rasa senang atau tidak senang. Simpati atau antipati, cemas, takut, dan sebagainya terhadap suatu objek yang dihadapi. Dengan demikian komponen ini dapat disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek tertentu sebagai respon terhadap objek yang dihadapi. Dalam hal ini objek dirasakan sebagai suatu yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, disukai atau tidak disukai.
·         Komponen konatif, menunjukkan kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Terdapat asumsi, bahwa pengetahuan dan perasaan yang telah terbentuk pada diri individu, pada gilirannya akan mempengruhi kecenderungan perilaku. Oleh karena itu, kiranya cukup beralasan mengharapkan bahwa sikap yang terbentuk pada diri seseorang akan dicerminkan dalam bentuk kecenderungan perilaku terhadap objek tertentu. Komponen konatif berhubungan dengan psikomotorik serta merupakan kecenderungan atau kesiapan untuk bertingkahlaku terhadap suatu objek atau siatuasi yang dihadapi. Komponen konatif ini pada dasarnya akan mendorong terbentuknya sikap individu yang tercermin dalam perilaku. Stimuli yang diterima, terlebih dahulu di proses melalui komponen kognitif, afektif, kemudian terjadi kecenderungan tingkah laku. Tingkat konasi seseorang menunjuk kepada sampai sejauh mana orang tersebut berkecenderungan melksanakan atau tidak melaksnakan suatu objek sikap yang dihadapi.

4.      KOMUNIKASI INTERPERSONAL SEBAGAI PENGALAMAN
Komunikasi interpersonal adalah salah satu pengalaman terpenting bagi manusia. Seorang anak yang masih bayi mampu mengenali  orang tua dan keluarganya, sehingga dia akan meronta ketika orang yang tidak dikenal berusaha menggendongnya. Ia akan tersenyum ketika ibunya menimangnya. Semua kecakapan itu diperoleh dari proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya.
Prinsip dasar dari komunikasi interpersonal, ialah bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi pasti akan memperoleh pengalaman. Hal ini disebabkan esensi komunikasi interpersonal adalah proses interaksi simbol-simbol. Misalnya, ketika si A berkomunikasi secara interpersonal dengan si B, maka keduanya akan memperoleh pengalaman baru yang disebabkan oleh adanya stimuli simbol-simbol yng ditransaksikan itu. Setiap pengalaman baru yang didapat dengan isyarat tertentu, memberikan tambahan makna yang baru pula. Pada saat ini, maka sebenarnya Kita telah memperoleh pengalaman baru yang menyangkut beberapa istilah, konsep, pengetahuan, dan sebagainya. Kita yang sekarang sudah berbeda dengan Kita yang sebelum membaca buku, karena sudah ada perubahan pada memori Kita, yaitu adanya pengalaman baru.
Dapat dikatakan bahwa proses komunikasi interpersonal mengakibatkan terjadinya pengalaman baru, dan pengalaman baru itu membuktikan telah terjadinya perubahan. Perubahan yang disebabkan oleh komunikasi interpersonal, mungkin saja hanya perubahan kecil saja, misalnya hanya sampai kepada tataran berubahnya pengetahuan, tetapi ada pula kemungkinan terjadinya perubahan yang lebih besar yaitu perubahan sikap dan perilaku.
Dapat ditegaskan disini bahwa perubahan merupakan hasil komunikasi  interpersonal yang tidak mungkin dapat dielakkan. Ketika Kita berkomunikasi secara interpersonal dengan tetangga Kita, maka akan terjadi perubahan yang disebabkan adanya pengalaman baru. Memang tidak dapat dipastikan kemana arah perubahan yang akan terjadi dan seberapa besar perubahan itu. Seringkali perubahan itu terjadi secara spontan, tidak disengaja, dan tidak disadari. Tetapi apabilan Kita hendak memecahkan suatu masalah dengan komunikasi interpersonal, maka selayaknya jika komunikasi dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan perubahan sebagaimana yang diinginkan.

5.      FUNGSI SIKAP
Katz (1960) mengidentifikasi empat fungsi utama sikap berikut ini yang dapat bermanfaat bagi kepribadian:
1.      Fungsi Instrumental, penyelarasan atau kebermanfaatan. Sejumlah sikap dipegang kuat karena manusia berjuang keras untuk memaksimalkan penghargaan dalam lingkungan eksternal mereka dan meminimalkan sanksi. Misalnya, seorang pemegang hak pilih yang beranggapan bahwa pajak terlalu tinggi mungkin akan memilih seorang kandidat politik karena kandidat itu berjanji untuk menurunkan pajak.
2.      Fungsi pertahanan diri. Sejumlah sukap kuat dipegang karena manusia melindungi ego mereka dari hasrat mereka sendiri yang tidak dapat diterima atau dari pengetahuan tentang kekuatan-kekuatan yang mengancam dari luar. Perasaan rendah diri sering diproyeksikan pada anggota-anggota sebuah kelompok minoritas sebagai alat memperkuat ego. Ini merupqkan sebuah contoh sikap berprasangka yang memiliki fungsi pertahanan diri.
3.      Fungsi ekspresi nilai. Beberapa sikap dipegang kuat  karena memungkinkan seseorang memberikan ekspresi positif pada nilai-nilai sentral dan jatii diri. Misalnya, seorang remaja yang menyukai sebuah grup musik reggae mengekspresikan kepribadiannya melalui sikap ini.
4.      Fungsi pengetahuan. Beberapa sikap dipegang kuat karena memuaskan kebutuhan akan pengetahuan atau memberikan struktur dn makna pada sesuatu yang jika tanpanya dunia akan kacau. Banyak keyakinan religius memiliki fungsi ini, juga sikap-sikap lain seperti norma-norma budaya yang berlaku.

6.      BERBAGAI PENDEKATAN MENCAPAI PERUBAHAN
Ada komunikasi interpersonal, tentu ada perubahan. Sekurang-kurangnya ditandai oleh diperolehnya pengalaman baru bagi para pelaku komunikasi. Ada empat pendekatan komunikasi interpersonal yang dibahas pada Bab ini, yaitu mencakup: informatif, dialogis, persuasif, dan instruktif.
a.       Informatif
Pendekatan informatif pada hakikatnya komunikator hanya menyampaikan informasi kepada komunikan. Target yang ingin dicapai sekurangnya terjadi perubahan pengetahuan. Jadi komunikan memperoleh pengetahuan baru setelah diterpa pesan komunikasi interpersonal.
Ketika kita berbicara tentang efektivitas komunikasi interpersonal, tampaknya komunikasi dengan pendekatan informatif ini tidak dapat kita harapkan terlalu berlebihan. Kita harus rasional bahwa dengan pendekatan informatif, target kita adalah agar komunikan memperoleh pengetahuan baru. Sedangkan kefektidfan berikutnya, diserahkan kepada diri komunikan, apakah dengan pengetahuan yang baru itu dapat diberdayakan untuk melakukan perubahan sikap.
b.      Dialogis
Ciri komunikasi interpersonal dengan pendekatan dialogis adalah terjadinya percakapan atau dialog, menuju proses berbagai informasi. Jadi dalam pendekatan ini kedua belah pihak berada dalam posisi sejajar. Mereka tidak membujuk teman bicara agar mau menerima pendapat yang dimiliki. Bahkan kedua belah pihak bersedia mengubah pandangannya dan mendengarkan pandngan teman bicara.
Pendekatan dialogis ini merupakan cara mempengaruhi dab mengubah pandangan maupun sikap orang lain dengan terbuka. Dikatakan terbuka, karena kedua belah pihak sama-sama bersedia menerima pandangan dari teman bicaranya. 
c.       Persuasif
Persuasi merupakan proses komunikasi yang kompleks yang dilakukan oleh individu dengan menggunakan pesan secara verbal maupun nonverbal yang dilakukan dengan cara membujuk atau memberikan dorongan yang bertujuan untuk mengubah sikap dan tinglah laku seseorang yang dilandasi kerelaan dan senang hati sesuai dengan pesan-pesan yang diterima. Jadi komunikasi persuasif adalah suatu proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan untuk mempengaruhi, mengubah pandangan, sikap dan perilaku orang lain atau kelompok orang (komunikan) dengan cara halus, yaitu membujuk.
H. A. W Widjaja (2002: 67) yang mengatakan bahwa komunikasi persuasif ini tidak lain daripada suatu usaha untuk meyakinkan orang lain agar berbuat dan bertingkah laku seperti yang diharapkan komunikator dengan cara membujuk tanpa memaksa dan tanpa kekerasan. Pendapat lebih rinci dikemukakan oleh Sastropoetro (1988: 246) bahwa kata persuasi berasal dari bahasa inggris persuation yang berinduk kepada kata kerja to persuade yang berarti membujuk, merayu dan menghimbau atau sejenisnya adalah merangsang seseorang untuk melakukan sesuatu dengan spontan, dengan senang hati, dengan suka rela tanpa dipaksa.
d.      Instruktif
Pendekatan ini dinamakan pula koersif. Pendekatan instruktif atau koersif menekankan pada memposisikan komunikator dalam posisi tawar yang tinggi, dimana dia dapat legimitasi untuk memerintahkan, mengajarkan, dan bahkan mengajukan satu macam ide  kepada komunikan. Dalam pendekatan ini, peluang terjadinya dialog sangat dibatasi, karena dikhawatirkan akan membelokkan ide utama yang dianggap paling baik untuk suatu program tertentu.

7.      KOMUNIKATOR DAN PERUBAHAN
Komunikator adalah individu yang mengambil prakarsa ataupun sedang melakukan komunikasi dengan individu atau kelompok (sasaran) yang lain. dalam pengertian luas, komunikator dapat diartikan sebagai orang-orang yang menyampaikan lambang-lambang bermakna atau pesan yang mengandung ide, informasi, opini, kepercayaan, perasaan, dan sebagainya kepada orang lain.
Hovland (Krech, 1962: 231) mengemukakan bahwa pesan yang disampaikan komunikator memiliki kredibilitas (keahlian dan keterpercayaan) tinggi akan lebih banyak berpengaruh kepada perubahan sikap dan perilaku penerima pesan. Onong U. Effendy (1986: 20-21) mengutarakan, agar komunikasi dapat berlangsung efektif, komunikator harus memiliki kemampuan yang disyaratkan. Keefektifan komunikasi tidak hanya di tentukan oleh kemampuan komunikasi tetapi juga oleh diri si komunikator.
Garna (1991: 26) mengatakan bahwa efektivitas komunikasi juga dipengaruhi oleh pengetahuan komunikator tentang sistem sosial tempat komunikasi berlangsung. Sistem sosial ini adalah suatu perangkat pesan sosial yang berinteraksi dalam kelompok sosial yang memiliki norma, nilai, dan tujuan tertentu. Berdasarkan pendapat ini, maka selain memiliki kredibilitas yang baik, seorang komunikator perlu memahami dan dapat menyesuaikan diri dengan situasi sistem sosial.

C.     KESIMPULAN
Persuasi didefinisikan sebagai “perubahan sikap akibat paparan informasi dari orang lain”. Sikap pada dasarnya adalah tendensi kita terhadap sesuatu. Sikap adalah rasa suka atau tidak suka kita atas sesuatu. Persuasi merupakan proses komunikasi yang kompleks yang dilakukan oleh individu dengan menggunakan pesan secara verbal maupun nonverbal yang dilakukan dengan cara membujuk atau memberikan dorongan yang bertujuan untuk mengubah sikap dan tinglah laku seseorang yang dilandasi kerelaan dan senang hati sesuai dengan pesan-pesan yang diterima.
 Jadi komunikasi persuasif adalah suatu proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan untuk mempengaruhi, mengubah pandangan, sikap dan perilaku orang lain atau kelompok orang (komunikan) dengan cara halus, yaitu membujuk.
Prinsip dasar dari komunikasi interpersonal, ialah bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi pasti akan memperoleh pengalaman. Hal ini disebabkan esensi komunikasi interpersonal adalah proses interaksi simbol-simbol.



D.    DAFTAR PUSTAKA
Severin, Werner J. Dan James W. Tankard. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, & Terapan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2001.
Suranto. Komunikasi Interpersonal.Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011.


[1] Werner, et. Al., TEORI KOMUNIKASI: SEJARAH, METODE, & TERAPAN (Jakarta: Kencana Media Group,2001), 177.
[2] Ibid.
[3] Ibid., 179.
[4] Suranto, Komunikasi Interpersonal (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011), 111.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar