Senin, 07 Desember 2015

KONSELING BERPUSAT PRIBADI ( PERSON-CENTRED COUNSELLING )


Di susun oleh:



Ana Nur Af-idah (933610113)
Ilma Khusnita (933601413)
Lutfi Nurul Kholifah (933610513)

Mochammad Asom (933610713)
 


A. LATAR BELAKANG


Pendekatan konseling dari tokoh psikologi Rogers, yakni person-centred tidak hanya telah digunakan secara luas selama 50 tahun, namun juga memberikan ide dan metode yang kemudian diintegrasikan dengan pendekatan lain. Kemunculan terapi client-centred pada 1950 merupakan pergerakan dari psikologi Amerika untuk menciptakan alternatif terhadap dua teori yang mendominasi pada waktu itu; psikoanalisis dan behaviorisme. Gerakan itu kemudian dikenal sebagai “kekuatan ketiga” sebagai lawan dari kekuatan yang direpresentasikan oleh Freud dan Skinner.

Sebagai psikolog humanistis, Carl Rogers merupakan figur sentral, di samping tokoh lain seperti Abraham Maslow, Charlotte Buhler, dan Sydney Jourrard. Para penulis ini saling berbagi visi psikologi yang memberikan tempat bagi kemampuan manusia untuk kreatif, dan tumbuh (humanistis).

Dalam konseling dan psikoterapi, pendekatan humanistis yang paling luas digunakan adalah pendekatan person-centred dan Gestalt, walaupun psikosintesis, analisis transaksional dan lainnya juga bermuatan humanistis. Maka dalam makalah ini, penulis akan memaparkan bagaimana konseling dalam pendekatan berpusat pribadi (person-centred).




B. EVOLUSI PENDEKATAN PERSON-CENTRED

Kelahiran pendekatan person-centred  biasanya diatributkan kepada ceramah yang diberikan oleh Rogers tahun 1940 di Universitas Minnesota (Barett-Lennard, 1979). Dalam ceramahnya tersebut, yang kemudian diterbitkan sebagai sebuah bab dalam Counselling and Psychotherapy (Rogers, 1942), dinyatakan bahwa terapis dapat sangat membantu klien dengan membiarkan mereka menemukan solusi mereka sendiri terhadap masalah yang tengah mereka hadapi. Penekanan terhadap klien sebagai yang ahli dari si konselor sebagai sumber refleksi dan motivator, terekam dalam desain pendekatan konseling “tidak langsung”. Dalam studi yang dilaksanakan pada waktu itu oleh Rogers dan para muridnya di Universitas Ohio, tujuannya adalah untuk mempelajari efek terhadap perilaku direktif dan non-direktif pada sisi konselor. Penelitian ini merupakan riset pertama yang melibatkan penggunaan perekaman dan transkripsi langsung sesi terapi aktual.

Pada 1945, Rogers diajak bergabung dengan Universitas Chicago, sebagai profesor psikologi dan kepala pusat konseling. Saat itu adalah akhir dari perang dunia dan pulangnya personel tentara dalam jumlah yang besar. Banyak di antara mereka yang menderita trauma atas pengalaman yang mereka alami. Dan, hal tersebut berarti adanya tuntutan cara menolong (orang-orang ini) yang dapat diakses dan praktis untuk menghadapi transisi kembali pada kehidupan sipil. Bentuk psikoterapi yang dominan di Amerika saat itu adalah psikoanalisis yang terlalu mahal untuk tentara dalam jumlah besar, walaupun terdapat para analisis yang  membuat hal tersebut memungkinkan. Pendekatan behavioral belum muncul. Pendekatan non-direktif Rogers mempresentasikan solusi ideal, dan seluruh generasi psikologi. Amerika dilatih di Chicago, atau universitas lain oleh para kolega Rogers. Dengan cara inilah pendekatan Rogerian dengan cepat berdiri sebagai bentuk konseling non-medis di Amerika. Rogers juga berhasil menarik pendanaan dalam jumlah yang signifikan agar program riset tersebut diteruskan.

Perkembangan ini diasosiasikan dengan evolusi signifikan dalam karakter pendekatan itu sendiri. Sejak awal konsepsi non-direktif mengandung kontradiktif. Bagaimana mungkin seseorang yang berada dalam hubungan yang rapat dengan orang lain gagal memengaruhi orang tersebut? Studi yang dilakukan oleh Truax (1966) dan yang lainnya menyarankan bahwa seharusnya konselor non-direktif secara subtil menguatkan pernyataan tertentu yang dibuat oleh klien, dan tidak menawarkan ketertarikan, penguatan atau persetujuan mereka ketika pernyataan dengan tipe yang berbeda dibuat. Karena itu terdapat masalah substansial yang inheren dalam konsep ke-nondirektif-an. Pada saat yang sama, fokus riset dalam pendekatan ini menjauh dari memberikan perhatian pada perilaku konselor kepada pertimbangan yang lebih dalam terhadap proses yang terjadi dalam diri klien, khususnya yang terkait dengan perubahan konsep diri klien. Penekanan pada perubahan ini ditandai dengan penanaman kembali pendekatan tersebut menjadi client-centred. Publikasi kunci pada periode ini adalah client-centred therapy oleh Carl Rogers (1951) dan koleksi paper riset Rogers dan Dymond (1954).

Fase ketiga perkembangan terapi client-centred terjadi beberapa tahun kemudian (1954-7), dan dapat dilihat sebagai representasi usaha untuk mengonsolidasikan teori dengan mengintegrasikan ide awal tentang kontribusi konselor dengan pemikiran setelah itu tentang perubahan dalam diri klien, untuk bisa mencapai model hubungan terapeutik. Paper yang ditulis oleh Rogers pada 1957 tentang “perlu dan tercukupinya: kondisi empati, kongruen, dan penerimaan, yang kemudian hari dikenal sebagai model “konsepsi proses” (process conception) merupakan landasan yang penting dalam fase ini. Buku On Becoming a Person (Rogers, 1961), yang paling banyak dibaca di antara karya Rogers lainnya, merupakan kompilasi percakapan dan paper yang dihasilkan pada fase ini.

Pada 1957, Rogers dan beberapa koleganya dari Universitas Chicago diberi kesempatan untuk melakukan studi riset besar di Universitas Wisconsin, menyelidiki proses dan hasil pendekatan terapi client-centred pada pasien skizofrenia yang dirumahsakitkan. Salah satu tujuan utama dari studi ini adalah untuk menguji validitas model “kondisi inti” dan “proses”. Proyek ini memicu krisis dalam mantan tim dekat Rogers. Dalam ulasannya terhadap perkembangan sejarah pendekatan person-centred, Barrett-Lennard (1979: 187) mencatat bahwa “tim riset mengalami transformasi internal”. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan person-centred tidak secara khusus efektif terhadap klien jenis ini. Di sana juga terdapat ketegangan antara anggota inti kelompok riset sehingga walaupun proyek tersebut telah selesai pada 1963, namun hasilnya tidak pernah dipublikasikan sampai 1967 (Rogers, et al., 1967).

Beberapa kontribusi signifikan muncul dari studi skizofrenia. Instrumen baru untuk mengukur konsep seperti empati, kongruen, dan penerimaan (Barret-Lennard, 1962; Truax dan Carkhuff, 1967) dan pengalaman yang lama. Peluang untuk menghadapi orang-orang yang benar-benar terkena gangguan jiwa parah, membuat banyak anggota tim menilai kembali praktik mereka, dan gangguan jiwa parah, membuat banyak anggota tim menilai kembali praktik mereka, dan secara khusus mengarah kepada peningkatan penghargaan kepada peran penyesuaian dalam proses terapi. Terapis client-centred seperti Shlien menemukan bahwa mode operasi yang sebagian besar bersifat empatik dan reflektif. Yang telah terbukti efektif dengan para mahasiswa dan penderita lain yang menderita kecemasan di Chicago tidak efektif untuk klien yang terkunci dalam dunia mereka sendiri. Untuk menjalin hubungan dengan klien jenis ini, konselor harus berani mengambil risiko untuk terbuka, jujur, dan membuka diri. Peningkatan penekanan terhadap penyesuaian juga dirangsang oleh fase proyek di mana delapan terapis yang terlibat membuat transkrip sesi yang ada untuk praktisi penting lain, dan terlibat dalam dialog. Pada sebuah bagian dalam laporan Rogers, et al. (1967) yang melaporkan dialog ini, dapat dilihat bahwa para komentator luar ini sering kali mengritisi dengan keras gaya pasif dan kaku beberapa tim client-centred. Buah dari sumber belajar yang lebih bersifat eksperimental dari studi skizofrenia ini dapat ditemukan dalam karya Rogers dan Steven (1968).

Kritik yang paling baru terhadap proyek Wisconsin datang dari Masson (1988) yang berpendapat bahwa penerimaan dan keaslian terapis client-centred tak akan pernah mengatasi institusionalisasi dan ketertekanan parah yang dialami oleh para pasien.

Sebagai pembelaan, dapat ditemukan bahwa Rogers, et al. (1967) mendiskusikan dengan sangat mendetail berbagai masalah yang muncul karena bekerja dalam sebuah institusi penuh (Total Institution), dan dengan jelas mencoba untuk menghadapi masalah yang dideskripsikan oleh Masson (1998). Rogers, et al (1967: 93) berkomentar bahwa :

… salah satu tema riset yang tidak disebutkan adalah tidak diperlukannya perkembangan prosedur riset yang lain atau teori yang berbeda dikarenakan fakta bahwa klien kita merupakan penderita skizofrenia. Kami menemukan mereka lebih cenderung mirip dengan para pesakitan lain yang telah kami tangani.

Kutipan ini mengindikasikan bahwa paling tidak salah satu elemen keberadaan pelabelan dan penolakan dalam ketidakseimbangan kekuatan bukanlah faktor yang penting. Akhir dari eksperimen Wisconsin juga merupakan akhir dari apa yang disebut oleh Barrett-Lennard (1979) era”aliran” terapi client-centred. Sampai titik ini, selalu ada orang-orang pilihan di sekitar Rogers, dan juga Basis Institusional yang dapat diidentifikasikan sebagai aliran pemikiran yang koheren dan berdiri sendiri. Setelah penelitian Wisconsin, pendekatan client-centred kolaps karena mereka yang terlibat bersama Rogers pindah dan mengejar ide mereka sendiri yang sebagian terpisah dari yang lain.

Rogers sendiri pergi ke California, pertama-tama ke Western Behavioural Science Institute dan kemudian pada 1968 ke Center for Studies of The person di Lajolla. Ia kemudian aktif di Encounter Group dan di akhir hayatnya bekerja untuk perubahan politik dalam hubungan barat-timur serta perubahan politik di Afrika Selatan (Rogers,1978,1980). Ia tidak lagi terlibat dalam perkembangan lebih lanjut pendekatan terapi One to One nya. Perluasan ide client-centred untuk melingkupi kelompok, organisasi, dan masyarakat, secara umum berarti tak lagi sesuai untuk memandang pendekatan tersebut hanya tentang klien dan yang semisal, dan istilah person centred dengan cepat muncul di permukaan sebagai cara untuk mendeskripsikan pendekatan yang bekerja untuk klien kelompok yang lebih besar dan individual (Mearns dan thorne, 1988).

Figur sentral lain, Gendlin dan Shlien, kembali Chicago. Gendlin meneruskan implikasi dari pendekatan eksperiensialnya, sedangkan Shliennya melakukan riset efektivitas terapi client-centred bertenggat waktu (Time Limited client-centred Teraphy). Barret Rennard akhirnya kembali ke Australia, dan tetap aktif dalam teori maupun riset. Truax dan Carkhuff menjadi figur kunci dalam menciptakan pendekatan baru untuk melatih orang menggunakan keterampilan konseling. Di Toronto, Rice menjadi ketua sebuah kelompok yang mengeksplorasi hubungan ide client-centred dengan modal pemrosesan informasi psikologi kognitif. Yang lainnya seperti Gondlin, Gordon, Carkhuff, dan Goodman terlibat dapat perancangan program yang bertujuan memungkinkan orang bisa untuk menggunakan keterampilan konseling untuk menolong orang lain.

Perkembangan teori dan praktik client-centred paska Wisconsin dirangkum oleh Lietaer (1990) yang menulis bahwa ketika ada banyak arah baru yang bermanfaat, secara keseluruhan pendekatan tersebut kurang koheren dan terarah menyusul tidak adanya suara yang kuat dan berwibawa, yang selama ini diberikan oleh Rogers. Oleh Karena itu, walaupun ulasan tentang periode teori client-centred dan person-centred, riset dan praktik dimanfaatkan yang dikumpulkan oleh Hart dan Tomlinson (1970) , Wexler dan Rice (1974), Levant dan Shlien (1984), dan Lietaer, et al. (1990) mengandung banyak materi yang berguna, tetapi terdapat pula keterpisahan dan perpecahan gradual, dan reduksi konsekuensi pada akibat. client-centred dan person-centred menjadi kurang berpengaruh di Amerika Serikat, sebagian karena ide sentralnya telah diasimilasikan ke dalam pendekatan lain, walaupun pendekatan tersebut tetap menjadi kekuatan independen utama di Inggris, Belgia, Jerman, dan Belanda (Lietaer, 1990).



C. PENDEKATAN PERSON-CENTRED DALAM PRAKTIK


Konseling person-centred (awalnya bernama Client-centred) adalah teori lain yang sama penting dan berpengaruhnya di dalam sejarah. Teori ini awalnya dikembangkan dan diusulkan oleh Carl R. Rogers sebagai reaksi terhadap apa yang dianggapnya keterbatasan sekaligus pemaksaan psikoanalisis. Karena besarnya pengaruh Rogers, pendekatan ini sering disebut konseling Rogerian.

Pendekatan Rogerian menitikberatkan kemampuan dan tanggung jawab klien untuk mengenali cara pengidentifikasian dan cara menghadapi realitas secara lebih akurat. Semakin baik klen mengkal dirinya, semakin besar kemampuan mereka mengidentifikasi perilaku yang paling cepat untuk dirinya. Rogers menekankan pentingnya konselor untuk bersikpa hangat, tidak berpura-pura, empati dan memberikan perhatian.

Untuk memahami benar-benar pendekatan person-centred atau Clint-centerd kita mesti mengetahui asumsi dasarnya tentang kepribadian yang dinyatakan Rogers dalam bentuk 19 proposisi ringkas berikut:

  1. Setiap individu berada di sebuah dunia pengalaman yang terus-menerus berubah di mana ia menjadi pusatnya (oleh karena itu masing-masing individu merupakan sumber informasi terbaik mengenai dirinya).
  2. Organisme beraksi terhadap suatu bidang sesuai yang dialami dan dipahami. Bidang persepsi pribadi ini disebut “realitas” yang diyakini.
  3. Organisme bereaksi sebagai keseluruhan yang terorganisasikan di bidang fenomenal.
  4. Organisme memiliki satu kecenderungan dasar dan dorongan dasar untuk mengaktualisasi, mempertahankan dan mengembangkan pengalaman yang diperolehnya.
  5. Perilaku pada dasarnya upaya berarah tujuan organisme untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sesuai apa saja yang dialami dan dipahami di suatu bidang.
  6. Emosi erat kaitannya dengan pencapaian tujuan organisme yang dapat tercermin dalam tingkah laku. Intensitas dapat mempengaruhi cara organisme mempertahankan dan mengembangkan diri.
  7. Cara terbaik memahami perilaku adalah dari kerangka acuan internal individu itu sendiri.
  8. Salah satu porsi bidang persepsi total secara bertahap dibedakan menjadi konsep self. Dengan demikian cara terbaik untuk mengubah tingkah laku adalah lebih dulu mengubah konsep self yang sudah lebih dulu terbentuk.
  9. Sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan, khususnya evaluasinya tentang interaksi dengan orang lain, struktur diri terbentuk. Sebuah pola konseptual yang terorganisasikan dan cair, namun tetap konsisten dengan persepsinya mengenai karakteristik dan relasi “aku” dan “saya” (I dan me) yang bersama nilai-nilai tertentu dilekatkan ke konsep-konsep tersebut.
  10. Nilai-nilai yang dilekatkan kepada pengalaman dan nilai tertentu yang merupakan bagian struktur-diri adalah nilai-nilai yang dialami secara langsung oleh organisme, walau di sejumlah kasus, nilai tersebut diintroyeksikan atau diambil dari orang lain dan dicerap secara terdistorsi seolah dialaminya sendiri.
  11. Ketika sebuah pengalaman muncul dalam hidup individu, bentuknya bisa berupa: (a) tersimbolisasi, terpahami dan terorganisasikan menjadi sejumlah relasi dengan diri; (b) terabaikan karena tidak ada relasi yang dipahami bentang struktur-diri; (c) simbolisasi yang disangkal atau berdasarkan simbolisasi yang terdistorsi karena pengalaman tidak konsisten dengan struktur-diri.
  12. Kebanyakan cara berperilaku yang diadopsi organisme konsisten dengan konsep-dirinya.
  13. Perilaku di sejumlah kasus dapat disebabkan oleh pengalaman dan kebutuhan organik yang belum tersimbolisasi. Perilaku seperti itu kadang tidak konsisten dengan struktur-diri karena sebenarnya memang tidak pernah “dimiliki” individu.
  14. Ketidakmampuan menunaikan diri psikologis muncul ketika organisme menjangan kesadaran tentang pengalaman-pengalaman indrawi dan visceral yang signifikan sehingga tidak tersimbolisasi dan terorganisasikan ke dalam keseluruhan struktur-diri. Ketika situasi ini muncul, tegangan psikologis mendasar atau potensial pun terjadi.
  15. Penyesuaian psikologis terjadi ketika konsep-diri bersentuhan dengan pengalaman indrawi dan visceral organisme, atau diasimilasikan berdasarkan taraf simboliknya menjadi sebuah hubungan yang monsisten dengan konsep-diri.
  16. Pengalaman apa pun yang tidak konsisten dengan perorganisasian atau pensrukturan diri dianggap ancaman, dan semakin banyak persepsi semacam ini, semakin ketat struktur-diri diorganisasikan untuk mempertahankan diri.
  17. Dalam kondisi tertentu yang melibatkan ketidakhadiran ancaman apa pun bagi struktur-diri, pengalaman-pengalaman yang tidak konsisten malah bisa dipahami dan diuji, dan struktur-diri dapat direvisi untuk diasimilasikan hingga mencakup pengalaman tersebut.
  18. Ketika individu memahami dan menerima sebuah sistem yang konsisten dan terintegrasikan dari semua pengalaman indrawi dan vasceral, mau tidak mau ia lebih memahami orang lain dan lebih sanggup menerima orang lain sebagai individu yang berbeda.
  19. Ketika individu memahami dan menerima pengalaman organik struktur dirinya, ia menemukan dirinya sedang mengganti sistem nilai yang dipegang saat ini dengan penilaian organismik yang berkesinambungan.

Di dalam hubungan konseling, enam kondisi berikut adalah prasyarat utama perubahan kepribadian klien (Rogers, 1967), yaitu:

  1. Dua pribadi (konselor dan klien) menjalin sebuah kontak psikologis.
  2. Klien mengalami suatu kondisi cemas, tekanan atau ketidakharmonisan.
  3. Konselor harus menjadi pribadi asli (dirinya apa adanya) ketika menjalin hubungan dengan klien.
  4. Konselor merasakan atau menunjukkan penghargaan positif tanpa syarat kepada klien.
  5. Konselor menampilkan pemahaman empati mengenai kerangka acuan klien dan menyampaikan pengertian ini pada klien.
  6. Konselor berhasil mencapai taraf minimal pengomunikasian pemahaman empati dan penghargaan positif tanpa syarat kepada klien.

Sejumlah perubahan yang diharapkan muncul dengan sukses dari pendekatan ini menurut Rogers, adalah sebagai berikut:

  1. Klien bisa melihat dirinya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
  2. Klien dapat menerima diri dan perasaannya lebih utuh.
  3. Klien menjadi lebih percaya diri (self-confident) dan sanggup mengarahkan diri (self-directing).
  4. Klien sanggup menjadi pribadi yang diinginkan.
  5. Klien menjadi lebih fleksibel dalam persepsinya dan tidak lagi keras pada diri sendiri.
  6. Klien sanggup mengadopsi tujuan-tujuan yang lebih realistik.
  7. Klien mampu bersikap lebih dewasa.
  8. Klien sanggup mengubah perilaku ketidakmampuan menyesuaikan dirinya.
  9. Klien lebih sanggup menerima keberadaan orang lain apa adanya.
  10. Klien lebih terbuka kepada bukti dari luar atau dalam dirinya.
  11. Klien berubah dalam karakteristik kepribadian dasarnya dengan cara-cara yang konstruktif.

Peran konselor adalah fasilitator dan reflektor. Disebut fasilitator karena konselor memfasilitasi atau mengakomodasi konseli mencapai pemahaman diri. Disebut reflektor karena konselor mengklarifikasi dan memantulkan kembali kepada klien perasaan dan sikap yang diekspresikannya terhadap konselor sebagai representasi orang lain. Di titik ini, konselor Client-centred tidak berusaha mengarah kepada pemediasian “dunia batin” konseli melainkan lebih fokus ke penyediaan sebuah iklim yang di dalamnya konseli dimampukan membawa perubahan dalam dirinya.

Label lain pendekatan Rogerian, “teori-diri” (self-theory) juga sering digunakan di luar label-label tradisional di atas. Kemungkinan penamaan ini lahir dari penitikberatan Roger kepada peningkata dan pengembangan diri, kapasitas kedirian, aktualisasi diri dan persepsi diri. Apa pun penyebutannya, teori yang digagas Rogers tetap terus memberikan pengaruh besar di bidang konseling.

Di luar perubahan pelabelannya, tulisan Rogers yang lebih memasyarakat juga telah meningkatkan Citra konselor dan konseling 40 tahun belakangan. Kontribusi kerja kerasnya yang menakjubkan bagi profesi konseling di wilayah konseling pribadi maupun kelompok menciptakan satu gelombang yang sepenuhnya baru bagi para konselor person-centred,, yang pada gilirannya menyisakan sebuah efek positif dan kekal bagi semua bidang kesehatan mental dan profesi penolong.



D. TUJUAN KONSELING

Tujuan konseling berfokus pribadi adalah menawarkan kondisi yang akan memampukan terjadinya penyembuhan keterpecahan nurani dan memulai kembali secara utuh dengan pengalaman dan proses penghargaan yang ada sejak lahir. Bertumpu pada alasan tunggal, namun sulit dijangkau bahwa menawarkan rasa hormat, pemahaman mendalam dan kehadiran yang tulus dan terbuka kepada klien akan menciptakan iklim keamanan dan kepercayaan tak bersyarat. Secara bertahap, klien akan semakin membutuhkan perlindungan terhadap pengalaman yang mengancam lapisan yang dibangunnya. Perasaan, pikiran dan persepsi yang sebelumnya telah ditransformasikan atau dibuang jauh-jauh dapat dipegang dalam kesadaran dan dinilai ulang, mengizinkan penyerapan pengalaman yang lebih memuaskan ke dalam diri.

Tujuan konseling berfokus pribadi mengandung paradoksal (seolah-olah berentangan) yang nyata. Tiada keluaran khusus yang diraih konselor, namun ada rasa perubahan positif yang sangat jelas. Penyelesaian paradoksal itu terletak pada pemahaman berfokus pribadi bahwa kehadiran orang lain yang terbuka, tidak mengancam dan tertarik bisa memfasilitasi pertumbuhan dan kesejahteraan kita. Bersama klien, oleh karena itu seorang konselor perlu berupaya keras untuk menjadi dengan cara tertentu, ketimbang melakukan atau meraih sesuatu. Konselor bukanlah hakim dalam proses klien, menilai dan mengarahkan peristiwa. Alih-alih, konselor memfasilitasi relasi di mana klien tetap menjadi ahli pengalaman mereka sendiri.



E.   RELASI KONSELOR DAN KLIEN

Relasi antara konselor dan klien adalah pusat dari terapi berfokus pribadi. Rogers menyatakan bahwa tiga kondisi inti harus ada dalam diri konselor, yaitu kongruensi, penerimaan positif tanpa bersyarat dan empati. Selanjutnya jika proses terapeutik akan dibuka, klien secara sadar atau tidak sadar perlu merasakan adanya kualitas tersebut. Memiliki faktor-faktor tersebut untuk keberhasilan terapi menjadi klaim jelas dalam konseling berfokus pribadi.

KONDISI INTI

Teori berfokus pribadi telah menulis secara pajang lebar tentang kondisi inti untuk menjelaskan sifat alaminya dan menjelaskan efektivitasnya. Secara tradisional tiga syarat utama itu dikutip, namun kehadiran terapis juga didiskusikan sebagai kualitas yang penting dan terkadang dikenal sebagai syarat keempat.

KONGRUENSI

Kongruensi mencakup kesadaran dan keterbukaan konselor dan memiliki dua dimensi. Dimensi pertama, konselor harus utuh dan menjadi diri mereka sendiri dalam relasi terapeutik, selalu waspada pada kehadiran dan gerakan pikiran, perasaan dan persepsi. Kehangatan, kekosongan, kebosanan, ketakutan, sukacita, kegairahan, keprihatinan, kecemburuan, kemarahan, keingintahuan dan sebagainya bisa datang dan pergi, namun secara internal seharusnya tidak ada kepura-puraan atau penyembunyian secara sadar. Dimensi kedua, kehadiran yang tulus ini seharusnya menyentuh klien. Merekayasa keterasingan, menyajikan wajah profesional atau menghindari pentingnya kejujuran yang diperlukan atau yang sesuai dengan klien akan menghambat pertumbuhan relasi.

EMPATI

Inti empati yang praktis adalah mendengarkan dengan seksama dunia internal orang lain. Melibatkan pribadi utuh, termasuk pemahaman kognitif, dan respons tubuh, emosional dan intuitif. Yang penting terkait dengan empati adalah menjadi sadar dengan keadaan internal seseorang “seolah-olah” konselor adalah klien, namun tanpa pernah kehilangan kesadaran internal konselor sendiri. Dengan cara ini, kongruensi dan empati menjadi proses yang paralel.

Mengomunikasikan empati adalah penting bagi klien agar tahu bahwa ia dipahami, dan bagi konselor untuk mengecek pemahamannya. Respons empati sering kali meliputi penyampaian kata-kata verbal apa yang didengar dan dirasakan, namun ekspresi wajah, nada suara, gerak-gerik dan kehadiran yang diam dan membisu bisa mempunyai arti dalam pemahaman konselor.

Pengalaman bisa didekati pada tahap yang berbeda dan begitu pula dengan kongruensi, apa yang harus dikatakan dan kapan mengatakannya adalah isu utama. Merespons dengan aspek situasi permukaan ketika klien mengalami perasaan yang sangat mendalam, atau sebaliknya, justru akan mengguncang proses eksplorasi kena tidak cukup dekat dengan pengalaman klien. Jika tepat menentukan tingkat respons empati, maka konselor dapat membangun rasa aman. Tinggal “bersama” klien dan kadang-kadang menangani hal-hal yang bisa dirasakan, namun tak benar-benar sepenuhnya terbentuk di alam kesadaran klien disebut sebagai tinggal dengan tepian kesadaran. Hal itu membantu klien mengungkap aspek baru tentang dirinya, tanpa harus mencabut mereka dari wilayah atau perasaan di mana mereka terlibat di dalamnya. 
PENERIMAAN POSITIF TANPA BERSYARAT

Agar terapi berhasil, konselor harus bisa memiliki sebentuk rasa suka atau hormat kepada klien. Penerimaan positif tanpa bersyarat itu harus ada ketika konselor menerima klien tanpa membuat klien harus bertindak agar disukai konselor (kebalikan dari persyaratan untuk dihargai yang dibebankan). Dalam praktik, konselor tidak boleh menghakimi penampilan, pikiran, tindakan dan perasaan klien, dan melewatkan visi akan hasil yang baik atau buruk pada terapi. Namun, penerimaan semacam itu bukanlah bentuk dari penghambatan steril atau keleluasaan yang bermakna baik di pihak konselor. Yang diperlukan adalah minat yang dalam yang tak meminta seseorang untuk mendistorsi dirinya agar diterima.

Konselor mungkin bersikap hangat pada klien. Kadang-kadang sebaliknya. Perasaan negatif atau positif yang kuat di pihak konselor dapat merusak proses terapeutik. Utamanya, perasaan itu bisa menghambat empati dengan cara menutup kemampuan untuk menerima klien tanpa distorsi. Ketika itu terjadi, konselor perlu menggunakan supervisi untuk menentukan akar perasaan itu dan menemukan cara untuk membongkar pada kapasitas empatinya.

Perasaan negatif biasanya mengganggu konselor lebih daripada perasaan positif, meskipun menariknya jika kita membiarkan diri kita berempati pada orang lain, maka akan sulit untuk tidak merasa positif terhadapnya. Selain itu, proses empati itu sendiri memberikan rasa hormat yang besar.




F. PROSES PERKEMBANGAN (AKUISIS)


Dalam konseling Person-Centered, terdapat istilah yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum mendalami lebih jauh tentang pendekatan konseling ini. Dua istilah tersebut yaitu self dan self-concept. Self dapat dilihat sebagai self organismik yang mendasari dan riil, diri kita yang sejati. Self-concept adalah persepsi seseorang tantang dirinya yang tidak selalu berkorespondensi dengan self yang mengalami atau self organismiknya. Jadi idealnya, kecenderungan mengaktualisasikan itu mengacu pada aktualisasi-diri yang aspek self dan self-concept-nya sinonim atau selaras. Akan tetapi jika self dan self-concept tidak selaras, keinginan untuk mengaktualisasikan self-concept mungkin bertentangan dengan kebutuhan yang lebih dalam untuk mengaktualisasikan self-organismik.


PERKEMBANGAN AWAL SELF-CONCEPT (KONSEPSI-DIRI)


Self-concept adalah self seperti yang apersepsi dan nilai-nilai yang dilekatkan pada persepsi tersebut. Awalnya, self-concept mungkin banyak terdiri dari pengalaman sendiri, kejadian-kejadian di medan fenomenal yang didiskriminasikan oleh individu sebagai “I”, “me”, atau “self”, meskipun secara praverbal. Ketika seorang anak berinteraksi dengan lingkungannya, semakin banyak pengalaman disimbolisasikan dalam kesadaran sebagai self-experience (pengalaman-diri). Melalui interaksi dengan signifikan others—individu yang sangat penting dan memiliki pengaruh besar bagi perasaan, pengembangan norma sosial, nilai dan citra-diri—yang memperlakukan mereka sebagai self yang terpisah, mereka mengembangkan sebuah self-concept yang memasukkan persepsi mereka tentang dirinya dan nilai-nilai positif dan negatif yang bervariasi, yang dilekatkan pada persepsi-diri tersebut.

KONDISI YANG BERHARGA (CONDITIONS OF WORTH)

Conditions of worth ialah nilai-nilai yang ada dalam diri seseorang yang didasarkan pada evaluasi orang lain dan bukan pada proses organismic valuing individu itu sendiri. Konsep conditions of worth penting karena konsep itu berarti bahwa orang mengembangkan proses valuing yang kedua. Yang pertama adalah proses organismic valuing yang benar-benar merefleksikan kecenderungan mengaktualisasikan. Yang kedua adalah proses conditions of worth, yang didasarkan pada internalisasi atau “introjeksi” dari “evaluasi” orang lain, yang tidak benar-benar merefleksikan kecenderungan mengaktualisasikan tetapi mungkin justru menghalanginya.


EFEK CONDITIONS OF WORTH PADA SELF-CONCEPT


Orang berbeda-beda dalam hal seberapa jauh mereka menginternalisasikan conditions of worth. Hal tersebut sangat bergantung pada dua hal: anggapan positif tanpa syarat yang ditawarkan oleh signifikan others dan derajat pemahaman empati dan kongruensi yang diperlihatkan kepada mereka. Bagi sebagian orang, self-concept mereka akan berkembang sedemikian rupa untuk memungkinkan banyak pengalaman mereka untuk dipersepsi secara akurat.

Conditions of worth menjadi sebab dilakukannya evaluasi-evaluasi yang diinternalisasikan tentang bagaimana orang-orang seharusnya, dan juga evaluasi-evaluasi yang diinternalisasikan tentang bagaimana orang-orang seharusnya merasakan tentang dirinya jika mereka memersepsi bahwa mereka yang seperti seharusnya. Akibatnya, karena orang-orang terlalu banyak mengintroyeksikan conditions of worth, mereka justru dijauhkan dari pengalaman-pengalaman mereka sehingga tingkat self-regard (harga diri)-nya juga turun dan mereka tidak mampu menghargai dirinya sepenuhnya.









G.  STUDI KASUS


KLIEN


Saya pertama kali bertemu Grace pada musim gugur 1995, ketika ia datang menemui saya di praktik dokter bedah tempat saya bekerja paruh waktu. Kesan pertama saya adalah ada kecemasan di matanya saat saya bertemu dengannya di ruang tunggu. Ia menunduk saat kami berjalan menuju ruang konseling, namun begitu duduk, ia mulai bicara tentang ‘dilema yang mengerikan’ yang sedang dihadapinya. Pada usia 51 tahun ia sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan suaminya dan merasakan ketegangan yang terus menerus saat ia memikirkan problem itu di benaknya selama beberapa bulan. Sekarang ia merasa depresi dan sangat lelah.


TERAPI


Sesi pertama saya gunakan untuk mendengarkannya secermat mungkin, berusaha berempati dengan Grace dan menyampaikan pemahaman saya. Meskipun pilihannya tampak jelas (tinggal atau pergi), kesuntukan dan kebingungan internal Grace ini berlangsung dengan kuat. Dia ingin pergi karena tak lagi merasa ada harapan untuk menyatukan perbedaan dalam perkawinan mereka. Yang awalnya merasa disisihkan dan kadang-kadang diremehkan di tahun-tahun pertama pernikahan mereka secara perlahan menjadi rasa permusuhan dari suaminya. Dua putri Grace, Jane dan Lindsay, memberinya tujuan untuk tetap tinggal sambil membesarkan mereka, namun kedua putrinya telah pergi setelah setahun sebelumnya. Setelah itu, perasaan kosong dan kepahitan terhadap suaminya, David, menggerogotinya. Namun, bersamaan dengan itu ada perasaan bahwa jika ia pergi itu berarti dirinya egois. Meskipun Jane dan Lindsey telah mandiri, Grace masih merasa bahwa meninggalkan suaminya berarti menghancurkan keluarganya. Sebagai ibu dan istri ia merasa bertanggung jawab mempertahankan hubungan keluarga yang baik. Ia juga merasa bahwa David akan bingung dan terluka.

Perasaan empati dan menerima mengemuka di dalam diri saya saat kami menjalani sesi-sesi selanjutnya. Terasa penting memahami situasi Grace seutuhnya. Merespons bagian Grace yang ingin pergi atau sebaliknya dan hanya mempertahankan keluarganya dan tak menyakiti David akan membuka bahaya bahwa penerimaan saya tampaknya bersyarat. Bahkan, akan menciptakan kesan bahwa ia hanya dipahami sebagian dan bahwa saya hanya akan reseptif pada hal-hal yang sesuai dengan pikiran saya tentang yang seharusnya dilakukan Grace.

Setelah beberapa minggu, kecemasan Grace mereda saat ia merasa tak lagi kebingungan dan mulai merasa bias membuat beberapa keputusan rumit. Pada awal sesi ketujuh, ia menyatakan bahwa ia telah membulatkan tekad. Ia akan tetap bersama David apapun yang terjadi dan mencoba memperbaiki relasi mereka. Ia telah mencoba bicara dengannya tentang kesenjangan di antara mereka dan suaminya berkata bahwa sejak kepergian Jane dan Lindsay, rumah terasa kosong dan kehidupan begitu sepi. Saya merasakan adanya kecemasan, tak bias membayangkan bagaimana Grace akan mendapatkan kebahagiaan dengan David seperti dulu. Dengan tetap mempertahankan hal tersebut, saya mencoba hingga akhir sesi untuk tetap bersama Grace mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan di masa depan.

Meskipun respons saya berubah-ubah dan tetap, respons tersebut selalu disertai perasaan tidak nyaman. Saya mendiskusikannya dengan penyelia saya dan meskipun saya punya komitmen dengan Grace untuk menemukan cara terbaik, saya kembali mendapati fakta bahwa saya punya visi tentang hasil yang baik untuk Grace. Saya juga melihat kemiripan pengalaman Grace dengan kehidupan saya, yang saya bicarakan dengan penyelia saya dan jelas bahwa perasaan saya merupakan bagian dari intensitas yang saya alami dengan Grace. Jika diri saya tidak mempengaruhi respons saya, memberikan ungkapan kongruen pada perasaan kecemasan mungkin bias membantu. Pada saat itu, tetap sadar, tidak bicara tentang kecemasan, terasa seperti pilihan yang baik.

Saat kami bertemu lagi, Grace mulai merinci keputusannya. David ‘tidak baik’ seminggu ini, namun ia pikir suaminya sedang berusaha keras. Mereka bahkan berjalan bersama-sama di suatu sore (pertama kalinya setelah bertahun-tahun). Saya berempati dengan mengatakan ‘itulah….maksud saya….David tidak baik namun….dan juga anda telah melakukan sesuatu yang terasa seperti mulai membuatnya lebih baik….sesuatu yang anda ingat anda nikmati sebelumnya?’ Grace mulai mengangguk dan mulai bicara tentang ketidakbaikan David. Ketegangan mulai terasa, saat ia menggambarkan David menuduhnya tidak berusaha mengatasi problem dan menjadi penyebab ketidakbahagiaan. ‘awalnya, ia tampak menyimak, namun kemudian ia menuduh saya menyalahkan dia untuk hal-hal yang tidak benar. Jika saya mencintainya, saya tidak akan pergi sepanjang waktu….Saya melihat ia tertekan, dengan kerja dan sebagainya….anak-anaknya telah pergi juga. Mungkin jika kami bias bicara….namun ia hanya berteriak dan akhirnya membanting pintu dan keluar rumah. Yang bias saya lakukan hanyalah menangis. Ia benar-benar tidak bicara apapun kepada saya sejak itu. Sungguh menyenangkan kami bisa pergi jalan-jalan….saya benar-benar tidak tahu bagaimana itu bisa terulang kembali?’

Sekali lagi, Grace bicara tentang yang bisa dilakukannya untuk membuat David merasa lebih baik dan kali ini saya merasakan ada nada datar dan Grace tampak sedikit tidak jelas dan menjauh. Berbeda dengan kecemasan yang saya rasakan sebelumnya, saya cukup yakin akan perubahan yang saya alami dengan mengambil risiko menyuarakan perasaan itu. ‘Grace…saya sadar…eemm…saat anda bicara…saya merasakan nada datar…dan sepertinya saya merasa anda sedikit menjauh.’

Penting dijelaskan bahwa itu adalah perasaan saya: bukan respons empatik. Alih-alih, saya ingin memberikan suara kongruen kepada respons di dalam diri saya pada relasi kami saat itu.

Grace menunduk dan berhenti sejenak. Ketika ia bicara lagi, suaranya sedikit serak dan tenggorokan saya tercekat. ‘saya benar-benar ingin hal itu berhasil, namun kadang-kadang terasa tidak ada harapan. Dan bagian terburuknya adalah kami telah bersama begitu lama. Sendirian…saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan. Selalu ada  orang di sekitar saya. Tahun-tahun itu…tidak semuanya buruk…(jeda)…mungkin jika saya pergi ketika lebih muda…namun saya selalu berpikir semuanya akan baik-baik saja…’ Ia bicara sambil meneteskan air mata dan saya merasa Grace sedang menyentuh kesedihan yang selama bertahun-tahun dipendamnya, dan rasa takut menatap masa depan tanpa David.

Membiarkan kesedihan dan ketakutan muncul disertai perubahan dalam parameter cara Grace berpikir tentang dirinya dan dilema untuk tetap tinggal/pergi. Ia merasa itu membuka pertanyaan apakah ia bisa membayangkan dirinya hidup sendiri dan sejauh mana harga dirinya muncul jika bersama orang lain. Misalnya, sebagai putri sulung dari empat bersaudara, ia sudah harus bertanggung jawab pada adik-adiknya saat masih kecil, sehingga mendapatkan pujian dari ibunya.

Terapi kami mendekati akhir beberapa minggu kemudian. Grace mulai merasa bahwa ingin mencoba berpisah dengan David dan ia memanfaatkan kesempatan untuk menjaga rumah teman di utara Inggris yang akan pergi ke luar negeri. Kami berdua sadar tiadanya dukungan yang mungkin dirasakannya ketika ia harus pergi dan konselor yang bisa dikontaknya jika perlu.

Sebulan atau dua bulan kemudian, Grace menulis kepada saya bahwa hidup terpisah dengan David membuatnya mulai menemukan minat baru dan merasa lebih tenang. Pada saat yang sama ia mengatasi kesepian kadang-kadang merasa kesakitan yang mendalam ketika membayangkan masa depan. Sementara ini, paling tidak, ia memilih untuk tidak kembali memilih konseling.



H.                KESIMPULAN


Konseling person-centred (awalnya bernama Client-centred) adalah teori lain yang sama penting dan berpengaruhnya di dalam sejarah. Teori ini awalnya dikembangkan dan diusulkan oleh Carl R. Rogers sebagai reaksi terhadap apa yang dianggapnya keterbatasan sekaligus pemaksaan psikoanalisis. Karena besarnya pengaruh Rogers, pendekatan ini sering disebut konseling Rogerian.

Pendekatan Rogerian menitikberatkan kemampuan dan tanggung jawab klien untuk mengenali cara pengidentifikasian dan cara menghadapi realitas secara lebih akurat. Semakin baik klen mengkal dirinya, semakin besar kemampuan mereka mengidentifikasi perilaku yang paling cepat untuk dirinya. Rogers menekankan pentingnya konselor untuk bersikpa hangat, tidak berpura-pura, empati dan memberikan perhatian.

Tujuan konseling berfokus pribadi adalah menawarkan kondisi yang akan memampukan terjadinya penyembuhan keterpecahan nurani dan memulai kembali secara utuh dengan pengalaman dan proses penghargaan yang ada sejak lahir.

Konselor bukanlah hakim dalam proses klien, menilai dan mengarahkan peristiwa. Alih-alih, konselor memfasilitasi relasi di mana klien tetap menjadi ahli pengalaman mereka sendiri.

Relasi antara konselor dan klien adalah pusat terapi berfokus pribadi. Rogers menyatakan bahwa tiga kondisi inti harus ada dalam diri konselor, yaitu kongruensi, penerimaan positif tanpa bersyarat dan empati. Selanjutnya jika proses terapeutik akan dibuka, klien secara sadar atau tidak sadar perlu merasakan adanya kualitas tersebut. Memiliki faktor-faktor tersebut untuk keberhasilan terapi menjadi klaim jelas dalam konseling berfokus pribadi.





I.  DAFTAR PUSTAKA


Gibson, Robert L. dan Marianne H. Mitchell. Bimbingan dan Konseling. Terj. Yudi Santoso. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.

Jones, Richard Nelson. Teori dan Praktik Konseling dan Terapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2011.

McLeod, John. Pengantar Konseling: Teori dan Studi Kasus. Terj. A. K. Anwar. Jakarta: Kencana Prenada, 2006.

Palmer, Stephen. Konseling dan Psikoterapi. Terj. Haris H. Setiadjid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar