Di susun oleh:
Ana Nur Af-idah (933610113)
Ilma Khusnita (933601413)
Lutfi Nurul Kholifah (933610513)
Mochammad Asom (933610713)
A. LATAR
BELAKANG
Pendekatan konseling
dari tokoh psikologi Rogers, yakni person-centred tidak hanya telah
digunakan secara luas selama 50 tahun, namun juga memberikan ide dan metode
yang kemudian diintegrasikan dengan pendekatan lain. Kemunculan terapi client-centred
pada 1950 merupakan pergerakan dari psikologi Amerika untuk menciptakan
alternatif terhadap dua teori yang mendominasi pada waktu itu; psikoanalisis
dan behaviorisme. Gerakan itu kemudian dikenal sebagai “kekuatan ketiga”
sebagai lawan dari kekuatan yang direpresentasikan oleh Freud dan Skinner.
Sebagai psikolog
humanistis, Carl Rogers merupakan figur sentral, di samping tokoh lain seperti
Abraham Maslow, Charlotte Buhler, dan Sydney Jourrard. Para penulis ini saling
berbagi visi psikologi yang memberikan tempat bagi kemampuan manusia untuk
kreatif, dan tumbuh (humanistis).
Dalam konseling dan
psikoterapi, pendekatan humanistis yang paling luas digunakan adalah pendekatan
person-centred dan Gestalt, walaupun psikosintesis, analisis
transaksional dan lainnya juga bermuatan humanistis. Maka dalam makalah ini,
penulis akan memaparkan bagaimana konseling dalam pendekatan berpusat pribadi (person-centred).
B. EVOLUSI
PENDEKATAN PERSON-CENTRED
Kelahiran pendekatan person-centred biasanya diatributkan kepada ceramah yang
diberikan oleh Rogers tahun 1940 di Universitas Minnesota (Barett-Lennard,
1979). Dalam ceramahnya tersebut, yang kemudian diterbitkan sebagai sebuah bab
dalam Counselling and Psychotherapy (Rogers, 1942), dinyatakan bahwa
terapis dapat sangat membantu klien dengan membiarkan mereka menemukan solusi
mereka sendiri terhadap masalah yang tengah mereka hadapi. Penekanan terhadap
klien sebagai yang ahli dari si konselor sebagai sumber refleksi dan motivator,
terekam dalam desain pendekatan konseling “tidak langsung”. Dalam studi yang
dilaksanakan pada waktu itu oleh Rogers dan para muridnya di Universitas Ohio,
tujuannya adalah untuk mempelajari efek terhadap perilaku direktif dan
non-direktif pada sisi konselor. Penelitian ini merupakan riset pertama yang
melibatkan penggunaan perekaman dan transkripsi langsung sesi terapi aktual.
Pada 1945, Rogers diajak bergabung dengan
Universitas Chicago, sebagai profesor psikologi dan kepala pusat konseling.
Saat itu adalah akhir dari perang dunia dan pulangnya personel tentara dalam
jumlah yang besar. Banyak di antara mereka yang menderita trauma atas
pengalaman yang mereka alami. Dan, hal tersebut berarti adanya tuntutan cara menolong
(orang-orang ini) yang dapat diakses dan praktis untuk menghadapi transisi
kembali pada kehidupan sipil. Bentuk psikoterapi yang dominan di Amerika saat
itu adalah psikoanalisis yang terlalu mahal untuk tentara dalam jumlah besar,
walaupun terdapat para analisis yang
membuat hal tersebut memungkinkan. Pendekatan behavioral belum muncul. Pendekatan
non-direktif Rogers mempresentasikan solusi ideal, dan seluruh generasi
psikologi. Amerika dilatih di Chicago, atau universitas lain oleh para kolega
Rogers. Dengan cara inilah pendekatan Rogerian dengan cepat berdiri sebagai
bentuk konseling non-medis di Amerika. Rogers juga berhasil menarik pendanaan
dalam jumlah yang signifikan agar program riset tersebut diteruskan.
Perkembangan ini diasosiasikan dengan evolusi
signifikan dalam karakter pendekatan itu sendiri. Sejak awal konsepsi
non-direktif mengandung kontradiktif. Bagaimana mungkin seseorang yang berada
dalam hubungan yang rapat dengan orang lain gagal memengaruhi orang tersebut?
Studi yang dilakukan oleh Truax (1966) dan yang lainnya menyarankan bahwa
seharusnya konselor non-direktif secara subtil menguatkan pernyataan tertentu
yang dibuat oleh klien, dan tidak menawarkan ketertarikan, penguatan atau
persetujuan mereka ketika pernyataan dengan tipe yang berbeda dibuat. Karena
itu terdapat masalah substansial yang inheren dalam konsep ke-nondirektif-an.
Pada saat yang sama, fokus riset dalam pendekatan ini menjauh dari memberikan
perhatian pada perilaku konselor kepada pertimbangan yang lebih dalam terhadap
proses yang terjadi dalam diri klien, khususnya yang terkait dengan perubahan
konsep diri klien. Penekanan pada perubahan ini ditandai dengan penanaman
kembali pendekatan tersebut menjadi client-centred. Publikasi kunci pada
periode ini adalah client-centred therapy oleh Carl Rogers (1951) dan
koleksi paper riset Rogers dan Dymond (1954).
Fase ketiga perkembangan terapi client-centred
terjadi beberapa tahun kemudian (1954-7), dan dapat dilihat sebagai
representasi usaha untuk mengonsolidasikan teori dengan mengintegrasikan ide
awal tentang kontribusi konselor dengan pemikiran setelah itu tentang perubahan
dalam diri klien, untuk bisa mencapai model hubungan terapeutik. Paper
yang ditulis oleh Rogers pada 1957 tentang “perlu dan tercukupinya: kondisi
empati, kongruen, dan penerimaan, yang kemudian hari dikenal sebagai model “konsepsi
proses” (process conception) merupakan landasan yang penting dalam fase
ini. Buku On Becoming a Person (Rogers, 1961), yang paling banyak dibaca
di antara karya Rogers lainnya, merupakan kompilasi percakapan dan paper yang
dihasilkan pada fase ini.
Pada 1957, Rogers dan beberapa koleganya dari
Universitas Chicago diberi kesempatan untuk melakukan studi riset besar di
Universitas Wisconsin, menyelidiki proses dan hasil pendekatan terapi client-centred
pada pasien skizofrenia yang dirumahsakitkan. Salah satu tujuan utama dari
studi ini adalah untuk menguji validitas model “kondisi inti” dan “proses”.
Proyek ini memicu krisis dalam mantan tim dekat Rogers. Dalam ulasannya terhadap
perkembangan sejarah pendekatan person-centred, Barrett-Lennard (1979:
187) mencatat bahwa “tim riset mengalami transformasi internal”. Hasil studi
tersebut menunjukkan bahwa pendekatan person-centred tidak secara khusus
efektif terhadap klien jenis ini. Di sana juga terdapat ketegangan antara
anggota inti kelompok riset sehingga walaupun proyek tersebut telah selesai
pada 1963, namun hasilnya tidak pernah dipublikasikan sampai 1967 (Rogers, et
al., 1967).
Beberapa kontribusi signifikan muncul dari studi
skizofrenia. Instrumen baru untuk mengukur konsep seperti empati, kongruen, dan
penerimaan (Barret-Lennard, 1962; Truax dan Carkhuff, 1967) dan pengalaman yang
lama. Peluang untuk menghadapi orang-orang yang benar-benar terkena gangguan
jiwa parah, membuat banyak anggota tim menilai kembali praktik mereka, dan
gangguan jiwa parah, membuat banyak anggota tim menilai kembali praktik mereka,
dan secara khusus mengarah kepada peningkatan penghargaan kepada peran
penyesuaian dalam proses terapi. Terapis client-centred seperti Shlien
menemukan bahwa mode operasi yang sebagian besar bersifat empatik dan
reflektif. Yang telah terbukti efektif dengan para mahasiswa dan penderita lain
yang menderita kecemasan di Chicago tidak efektif untuk klien yang terkunci dalam
dunia mereka sendiri. Untuk menjalin hubungan dengan klien jenis ini, konselor
harus berani mengambil risiko untuk terbuka, jujur, dan membuka diri.
Peningkatan penekanan terhadap penyesuaian juga dirangsang oleh fase proyek di mana
delapan terapis yang terlibat membuat transkrip sesi yang ada untuk praktisi
penting lain, dan terlibat dalam dialog. Pada sebuah bagian dalam laporan
Rogers, et al. (1967) yang melaporkan dialog ini, dapat dilihat bahwa para
komentator luar ini sering kali mengritisi dengan keras gaya pasif dan kaku
beberapa tim client-centred. Buah dari sumber belajar yang lebih
bersifat eksperimental dari studi skizofrenia ini dapat ditemukan dalam karya
Rogers dan Steven (1968).
Kritik yang paling baru terhadap proyek
Wisconsin datang dari Masson (1988) yang berpendapat bahwa penerimaan dan
keaslian terapis client-centred tak akan pernah mengatasi
institusionalisasi dan ketertekanan parah yang dialami oleh para pasien.
Sebagai pembelaan, dapat ditemukan bahwa
Rogers, et al. (1967) mendiskusikan dengan sangat mendetail berbagai masalah
yang muncul karena bekerja dalam sebuah institusi penuh (Total Institution),
dan dengan jelas mencoba untuk menghadapi masalah yang dideskripsikan oleh
Masson (1998). Rogers, et al (1967: 93) berkomentar bahwa :
… salah
satu tema riset yang tidak disebutkan adalah tidak diperlukannya perkembangan
prosedur riset yang lain atau teori yang berbeda dikarenakan fakta bahwa klien
kita merupakan penderita skizofrenia. Kami menemukan mereka lebih cenderung
mirip dengan para pesakitan lain yang telah kami tangani.
Kutipan ini mengindikasikan bahwa paling tidak
salah satu elemen keberadaan pelabelan dan penolakan dalam ketidakseimbangan
kekuatan bukanlah faktor yang penting. Akhir dari eksperimen Wisconsin juga
merupakan akhir dari apa yang disebut oleh Barrett-Lennard (1979) era”aliran”
terapi client-centred. Sampai titik ini, selalu ada orang-orang pilihan
di sekitar Rogers, dan juga Basis Institusional yang dapat diidentifikasikan
sebagai aliran pemikiran yang koheren dan berdiri sendiri. Setelah penelitian
Wisconsin, pendekatan client-centred kolaps karena mereka yang terlibat
bersama Rogers pindah dan mengejar ide mereka sendiri yang sebagian terpisah
dari yang lain.
Rogers sendiri pergi ke California,
pertama-tama ke Western Behavioural Science Institute dan kemudian pada 1968 ke
Center for Studies of The person di Lajolla. Ia kemudian aktif di Encounter
Group dan di akhir hayatnya bekerja untuk perubahan politik dalam hubungan
barat-timur serta perubahan politik di Afrika Selatan (Rogers,1978,1980). Ia
tidak lagi terlibat dalam perkembangan lebih lanjut pendekatan terapi One to
One nya. Perluasan ide client-centred untuk melingkupi kelompok,
organisasi, dan masyarakat, secara umum berarti tak lagi sesuai untuk memandang
pendekatan tersebut hanya tentang klien dan yang semisal, dan istilah person
centred dengan cepat muncul di permukaan sebagai cara untuk mendeskripsikan
pendekatan yang bekerja untuk klien kelompok yang lebih besar dan individual
(Mearns dan thorne, 1988).
Figur sentral lain, Gendlin dan Shlien, kembali
Chicago. Gendlin meneruskan implikasi dari pendekatan eksperiensialnya,
sedangkan Shliennya melakukan riset efektivitas terapi client-centred
bertenggat waktu (Time Limited client-centred Teraphy). Barret Rennard
akhirnya kembali ke Australia, dan tetap aktif dalam teori maupun riset. Truax
dan Carkhuff menjadi figur kunci dalam menciptakan pendekatan baru untuk
melatih orang menggunakan keterampilan konseling. Di Toronto, Rice menjadi
ketua sebuah kelompok yang mengeksplorasi hubungan ide client-centred
dengan modal pemrosesan informasi psikologi kognitif. Yang lainnya seperti
Gondlin, Gordon, Carkhuff, dan Goodman terlibat dapat perancangan program yang
bertujuan memungkinkan orang bisa untuk menggunakan keterampilan konseling
untuk menolong orang lain.
Perkembangan teori dan praktik client-centred
paska Wisconsin dirangkum oleh Lietaer (1990) yang menulis bahwa ketika ada
banyak arah baru yang bermanfaat, secara keseluruhan pendekatan tersebut kurang
koheren dan terarah menyusul tidak adanya suara yang kuat dan berwibawa, yang
selama ini diberikan oleh Rogers. Oleh Karena itu, walaupun ulasan tentang
periode teori client-centred dan person-centred, riset dan praktik
dimanfaatkan yang dikumpulkan oleh Hart dan Tomlinson (1970) , Wexler dan Rice
(1974), Levant dan Shlien (1984), dan Lietaer, et al. (1990) mengandung banyak
materi yang berguna, tetapi terdapat pula keterpisahan dan perpecahan gradual,
dan reduksi konsekuensi pada akibat. client-centred dan person-centred
menjadi kurang berpengaruh di Amerika Serikat, sebagian karena ide sentralnya
telah diasimilasikan ke dalam pendekatan lain, walaupun pendekatan tersebut
tetap menjadi kekuatan independen utama di Inggris, Belgia, Jerman, dan Belanda
(Lietaer, 1990).
C. PENDEKATAN
PERSON-CENTRED DALAM PRAKTIK
Konseling person-centred
(awalnya bernama Client-centred) adalah teori lain yang sama penting dan
berpengaruhnya di dalam sejarah. Teori ini awalnya dikembangkan dan diusulkan
oleh Carl R. Rogers sebagai reaksi terhadap apa yang dianggapnya keterbatasan
sekaligus pemaksaan psikoanalisis. Karena besarnya pengaruh Rogers, pendekatan
ini sering disebut konseling Rogerian.
Pendekatan Rogerian
menitikberatkan kemampuan dan tanggung jawab klien untuk mengenali cara
pengidentifikasian dan cara menghadapi realitas secara lebih akurat. Semakin
baik klen mengkal dirinya, semakin besar kemampuan mereka mengidentifikasi
perilaku yang paling cepat untuk dirinya. Rogers menekankan pentingnya konselor
untuk bersikpa hangat, tidak berpura-pura, empati dan memberikan perhatian.
Untuk memahami
benar-benar pendekatan person-centred atau Clint-centerd kita
mesti mengetahui asumsi dasarnya tentang kepribadian yang dinyatakan Rogers
dalam bentuk 19 proposisi ringkas berikut:
- Setiap individu berada di sebuah dunia pengalaman yang terus-menerus berubah di mana ia menjadi pusatnya (oleh karena itu masing-masing individu merupakan sumber informasi terbaik mengenai dirinya).
- Organisme beraksi terhadap suatu bidang sesuai yang dialami dan dipahami. Bidang persepsi pribadi ini disebut “realitas” yang diyakini.
- Organisme bereaksi sebagai keseluruhan yang terorganisasikan di bidang fenomenal.
- Organisme memiliki satu kecenderungan dasar dan dorongan dasar untuk mengaktualisasi, mempertahankan dan mengembangkan pengalaman yang diperolehnya.
- Perilaku pada dasarnya upaya berarah tujuan organisme untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sesuai apa saja yang dialami dan dipahami di suatu bidang.
- Emosi erat kaitannya dengan pencapaian tujuan organisme yang dapat tercermin dalam tingkah laku. Intensitas dapat mempengaruhi cara organisme mempertahankan dan mengembangkan diri.
- Cara terbaik memahami perilaku adalah dari kerangka acuan internal individu itu sendiri.
- Salah satu porsi bidang persepsi total secara bertahap dibedakan menjadi konsep self. Dengan demikian cara terbaik untuk mengubah tingkah laku adalah lebih dulu mengubah konsep self yang sudah lebih dulu terbentuk.
- Sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan, khususnya evaluasinya tentang interaksi dengan orang lain, struktur diri terbentuk. Sebuah pola konseptual yang terorganisasikan dan cair, namun tetap konsisten dengan persepsinya mengenai karakteristik dan relasi “aku” dan “saya” (I dan me) yang bersama nilai-nilai tertentu dilekatkan ke konsep-konsep tersebut.
- Nilai-nilai yang dilekatkan kepada pengalaman dan nilai tertentu yang merupakan bagian struktur-diri adalah nilai-nilai yang dialami secara langsung oleh organisme, walau di sejumlah kasus, nilai tersebut diintroyeksikan atau diambil dari orang lain dan dicerap secara terdistorsi seolah dialaminya sendiri.
- Ketika sebuah pengalaman muncul dalam hidup individu, bentuknya bisa berupa: (a) tersimbolisasi, terpahami dan terorganisasikan menjadi sejumlah relasi dengan diri; (b) terabaikan karena tidak ada relasi yang dipahami bentang struktur-diri; (c) simbolisasi yang disangkal atau berdasarkan simbolisasi yang terdistorsi karena pengalaman tidak konsisten dengan struktur-diri.
- Kebanyakan cara berperilaku yang diadopsi organisme konsisten dengan konsep-dirinya.
- Perilaku di sejumlah kasus dapat disebabkan oleh pengalaman dan kebutuhan organik yang belum tersimbolisasi. Perilaku seperti itu kadang tidak konsisten dengan struktur-diri karena sebenarnya memang tidak pernah “dimiliki” individu.
- Ketidakmampuan menunaikan diri psikologis muncul ketika organisme menjangan kesadaran tentang pengalaman-pengalaman indrawi dan visceral yang signifikan sehingga tidak tersimbolisasi dan terorganisasikan ke dalam keseluruhan struktur-diri. Ketika situasi ini muncul, tegangan psikologis mendasar atau potensial pun terjadi.
- Penyesuaian psikologis terjadi ketika konsep-diri bersentuhan dengan pengalaman indrawi dan visceral organisme, atau diasimilasikan berdasarkan taraf simboliknya menjadi sebuah hubungan yang monsisten dengan konsep-diri.
- Pengalaman apa pun yang tidak konsisten dengan perorganisasian atau pensrukturan diri dianggap ancaman, dan semakin banyak persepsi semacam ini, semakin ketat struktur-diri diorganisasikan untuk mempertahankan diri.
- Dalam kondisi tertentu yang melibatkan ketidakhadiran ancaman apa pun bagi struktur-diri, pengalaman-pengalaman yang tidak konsisten malah bisa dipahami dan diuji, dan struktur-diri dapat direvisi untuk diasimilasikan hingga mencakup pengalaman tersebut.
- Ketika individu memahami dan menerima sebuah sistem yang konsisten dan terintegrasikan dari semua pengalaman indrawi dan vasceral, mau tidak mau ia lebih memahami orang lain dan lebih sanggup menerima orang lain sebagai individu yang berbeda.
- Ketika individu memahami dan menerima pengalaman organik struktur dirinya, ia menemukan dirinya sedang mengganti sistem nilai yang dipegang saat ini dengan penilaian organismik yang berkesinambungan.
Di dalam hubungan
konseling, enam kondisi berikut adalah prasyarat utama perubahan kepribadian
klien (Rogers, 1967), yaitu:
- Dua pribadi (konselor dan klien) menjalin sebuah kontak psikologis.
- Klien mengalami suatu kondisi cemas, tekanan atau ketidakharmonisan.
- Konselor harus menjadi pribadi asli (dirinya apa adanya) ketika menjalin hubungan dengan klien.
- Konselor merasakan atau menunjukkan penghargaan positif tanpa syarat kepada klien.
- Konselor menampilkan pemahaman empati mengenai kerangka acuan klien dan menyampaikan pengertian ini pada klien.
- Konselor berhasil mencapai taraf minimal pengomunikasian pemahaman empati dan penghargaan positif tanpa syarat kepada klien.
Sejumlah perubahan
yang diharapkan muncul dengan sukses dari pendekatan ini menurut Rogers, adalah
sebagai berikut:
- Klien bisa melihat dirinya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
- Klien dapat menerima diri dan perasaannya lebih utuh.
- Klien menjadi lebih percaya diri (self-confident) dan sanggup mengarahkan diri (self-directing).
- Klien sanggup menjadi pribadi yang diinginkan.
- Klien menjadi lebih fleksibel dalam persepsinya dan tidak lagi keras pada diri sendiri.
- Klien sanggup mengadopsi tujuan-tujuan yang lebih realistik.
- Klien mampu bersikap lebih dewasa.
- Klien sanggup mengubah perilaku ketidakmampuan menyesuaikan dirinya.
- Klien lebih sanggup menerima keberadaan orang lain apa adanya.
- Klien lebih terbuka kepada bukti dari luar atau dalam dirinya.
- Klien berubah dalam karakteristik kepribadian dasarnya dengan cara-cara yang konstruktif.
Peran konselor adalah
fasilitator dan reflektor. Disebut fasilitator karena konselor memfasilitasi
atau mengakomodasi konseli mencapai pemahaman diri. Disebut reflektor karena
konselor mengklarifikasi dan memantulkan kembali kepada klien perasaan dan
sikap yang diekspresikannya terhadap konselor sebagai representasi orang lain.
Di titik ini, konselor Client-centred tidak berusaha mengarah kepada
pemediasian “dunia batin” konseli melainkan lebih fokus ke penyediaan sebuah
iklim yang di dalamnya konseli dimampukan membawa perubahan dalam dirinya.
Label lain pendekatan
Rogerian, “teori-diri” (self-theory) juga sering digunakan di luar
label-label tradisional di atas. Kemungkinan penamaan ini lahir dari
penitikberatan Roger kepada peningkata dan pengembangan diri, kapasitas
kedirian, aktualisasi diri dan persepsi diri. Apa pun penyebutannya, teori yang
digagas Rogers tetap terus memberikan pengaruh besar di bidang konseling.
Di luar perubahan
pelabelannya, tulisan Rogers yang lebih memasyarakat juga telah meningkatkan
Citra konselor dan konseling 40 tahun belakangan. Kontribusi kerja kerasnya
yang menakjubkan bagi profesi konseling di wilayah konseling pribadi maupun
kelompok menciptakan satu gelombang yang sepenuhnya baru bagi para konselor person-centred,,
yang pada gilirannya menyisakan sebuah efek positif dan kekal bagi semua bidang
kesehatan mental dan profesi penolong.
D. TUJUAN
KONSELING
Tujuan konseling berfokus pribadi adalah menawarkan kondisi yang akan
memampukan terjadinya penyembuhan keterpecahan nurani dan memulai kembali
secara utuh dengan pengalaman dan proses penghargaan yang ada sejak lahir.
Bertumpu pada alasan tunggal, namun sulit dijangkau bahwa menawarkan rasa
hormat, pemahaman mendalam dan kehadiran yang tulus dan terbuka kepada klien
akan menciptakan iklim keamanan dan kepercayaan tak bersyarat. Secara bertahap,
klien akan semakin membutuhkan perlindungan terhadap pengalaman yang mengancam
lapisan yang dibangunnya. Perasaan, pikiran dan persepsi yang sebelumnya telah
ditransformasikan atau dibuang jauh-jauh dapat dipegang dalam kesadaran dan
dinilai ulang, mengizinkan penyerapan pengalaman yang lebih memuaskan ke dalam
diri.
Tujuan konseling berfokus pribadi mengandung paradoksal (seolah-olah
berentangan) yang nyata. Tiada keluaran khusus yang diraih konselor, namun ada
rasa perubahan positif yang sangat jelas. Penyelesaian paradoksal itu terletak
pada pemahaman berfokus pribadi bahwa kehadiran orang lain yang terbuka, tidak
mengancam dan tertarik bisa memfasilitasi pertumbuhan dan kesejahteraan kita.
Bersama klien, oleh karena itu seorang konselor perlu berupaya keras untuk menjadi
dengan cara tertentu, ketimbang melakukan atau meraih sesuatu. Konselor
bukanlah hakim dalam proses klien, menilai dan mengarahkan peristiwa.
Alih-alih, konselor memfasilitasi relasi di mana klien tetap menjadi ahli
pengalaman mereka sendiri.
E.
RELASI
KONSELOR DAN KLIEN
Relasi antara konselor dan klien adalah pusat dari terapi berfokus
pribadi. Rogers menyatakan bahwa tiga kondisi inti harus ada dalam diri
konselor, yaitu kongruensi, penerimaan positif tanpa bersyarat dan empati.
Selanjutnya jika proses terapeutik akan dibuka, klien secara sadar atau tidak
sadar perlu merasakan adanya kualitas tersebut. Memiliki faktor-faktor tersebut
untuk keberhasilan terapi menjadi klaim jelas dalam konseling berfokus pribadi.
KONDISI INTI
Teori berfokus pribadi telah menulis secara pajang lebar tentang
kondisi inti untuk menjelaskan sifat alaminya dan menjelaskan efektivitasnya.
Secara tradisional tiga syarat utama itu dikutip, namun kehadiran
terapis juga didiskusikan sebagai kualitas yang penting dan terkadang dikenal
sebagai syarat keempat.
KONGRUENSI
Kongruensi mencakup kesadaran dan keterbukaan konselor dan memiliki dua
dimensi. Dimensi pertama, konselor harus utuh dan menjadi diri mereka sendiri
dalam relasi terapeutik, selalu waspada pada kehadiran dan gerakan pikiran,
perasaan dan persepsi. Kehangatan, kekosongan, kebosanan, ketakutan, sukacita,
kegairahan, keprihatinan, kecemburuan, kemarahan, keingintahuan dan sebagainya
bisa datang dan pergi, namun secara internal seharusnya tidak ada kepura-puraan
atau penyembunyian secara sadar. Dimensi kedua, kehadiran yang tulus ini
seharusnya menyentuh klien. Merekayasa keterasingan, menyajikan wajah
profesional atau menghindari pentingnya kejujuran yang diperlukan atau yang
sesuai dengan klien akan menghambat pertumbuhan relasi.
EMPATI
Inti empati yang praktis adalah mendengarkan dengan seksama dunia
internal orang lain. Melibatkan pribadi utuh, termasuk pemahaman kognitif, dan
respons tubuh, emosional dan intuitif. Yang penting terkait dengan empati
adalah menjadi sadar dengan keadaan internal seseorang “seolah-olah” konselor
adalah klien, namun tanpa pernah kehilangan kesadaran internal konselor
sendiri. Dengan cara ini, kongruensi dan empati menjadi proses yang paralel.
Mengomunikasikan empati adalah penting bagi klien agar tahu bahwa ia
dipahami, dan bagi konselor untuk mengecek pemahamannya. Respons empati sering
kali meliputi penyampaian kata-kata verbal apa yang didengar dan dirasakan,
namun ekspresi wajah, nada suara, gerak-gerik dan kehadiran yang diam dan
membisu bisa mempunyai arti dalam pemahaman konselor.
Pengalaman bisa didekati pada tahap yang berbeda dan begitu pula dengan
kongruensi, apa yang harus dikatakan dan kapan mengatakannya adalah isu utama.
Merespons dengan aspek situasi permukaan ketika klien mengalami perasaan yang
sangat mendalam, atau sebaliknya, justru akan mengguncang proses eksplorasi
kena tidak cukup dekat dengan pengalaman klien. Jika tepat menentukan tingkat
respons empati, maka konselor dapat membangun rasa aman. Tinggal “bersama”
klien dan kadang-kadang menangani hal-hal yang bisa dirasakan, namun tak
benar-benar sepenuhnya terbentuk di alam kesadaran klien disebut sebagai tinggal
dengan tepian kesadaran. Hal itu membantu klien mengungkap aspek baru
tentang dirinya, tanpa harus mencabut mereka dari wilayah atau perasaan di mana
mereka terlibat di dalamnya.
PENERIMAAN
POSITIF TANPA BERSYARAT
Agar terapi berhasil, konselor harus bisa memiliki sebentuk rasa suka
atau hormat kepada klien. Penerimaan positif tanpa bersyarat itu harus ada
ketika konselor menerima klien tanpa membuat klien harus bertindak agar disukai
konselor (kebalikan dari persyaratan untuk dihargai yang dibebankan). Dalam
praktik, konselor tidak boleh menghakimi penampilan, pikiran, tindakan dan
perasaan klien, dan melewatkan visi akan hasil yang baik atau buruk pada
terapi. Namun, penerimaan semacam itu bukanlah bentuk dari penghambatan steril
atau keleluasaan yang bermakna baik di pihak konselor. Yang diperlukan adalah
minat yang dalam yang tak meminta seseorang untuk mendistorsi dirinya agar
diterima.
Konselor mungkin bersikap hangat pada klien. Kadang-kadang sebaliknya.
Perasaan negatif atau positif yang kuat di pihak konselor dapat merusak proses terapeutik.
Utamanya, perasaan itu bisa menghambat empati dengan cara menutup kemampuan
untuk menerima klien tanpa distorsi. Ketika itu terjadi, konselor perlu
menggunakan supervisi untuk menentukan akar perasaan itu dan menemukan cara
untuk membongkar pada kapasitas empatinya.
Perasaan negatif biasanya mengganggu konselor lebih daripada perasaan
positif, meskipun menariknya jika kita membiarkan diri kita berempati pada
orang lain, maka akan sulit untuk tidak merasa positif terhadapnya. Selain itu,
proses empati itu sendiri memberikan rasa hormat yang besar.
F. PROSES
PERKEMBANGAN (AKUISIS)
Dalam konseling Person-Centered, terdapat
istilah yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum mendalami lebih jauh
tentang pendekatan konseling ini. Dua istilah tersebut yaitu self dan self-concept.
Self dapat dilihat sebagai self organismik yang mendasari dan riil, diri
kita yang sejati. Self-concept adalah persepsi seseorang tantang dirinya
yang tidak selalu berkorespondensi dengan self yang mengalami atau self
organismiknya. Jadi idealnya, kecenderungan mengaktualisasikan itu mengacu pada
aktualisasi-diri yang aspek self dan self-concept-nya sinonim
atau selaras. Akan tetapi jika self dan self-concept tidak
selaras, keinginan untuk mengaktualisasikan self-concept mungkin
bertentangan dengan kebutuhan yang lebih dalam untuk mengaktualisasikan
self-organismik.
PERKEMBANGAN
AWAL SELF-CONCEPT (KONSEPSI-DIRI)
Self-concept adalah self
seperti yang apersepsi dan nilai-nilai yang dilekatkan pada persepsi tersebut.
Awalnya, self-concept mungkin banyak terdiri dari pengalaman sendiri,
kejadian-kejadian di medan fenomenal yang didiskriminasikan oleh individu
sebagai “I”, “me”, atau “self”, meskipun secara praverbal. Ketika
seorang anak berinteraksi dengan lingkungannya, semakin banyak pengalaman
disimbolisasikan dalam kesadaran sebagai self-experience
(pengalaman-diri). Melalui interaksi dengan signifikan others—individu
yang sangat penting dan memiliki pengaruh besar bagi perasaan, pengembangan
norma sosial, nilai dan citra-diri—yang memperlakukan mereka sebagai self
yang terpisah, mereka mengembangkan sebuah self-concept yang memasukkan
persepsi mereka tentang dirinya dan nilai-nilai positif dan negatif yang
bervariasi, yang dilekatkan pada persepsi-diri tersebut.
KONDISI
YANG BERHARGA (CONDITIONS OF WORTH)
Conditions of worth ialah
nilai-nilai yang ada dalam diri seseorang yang didasarkan pada evaluasi orang
lain dan bukan pada proses organismic valuing individu itu sendiri.
Konsep conditions of worth penting karena konsep itu berarti bahwa orang
mengembangkan proses valuing yang kedua. Yang pertama adalah proses organismic
valuing yang benar-benar merefleksikan kecenderungan mengaktualisasikan.
Yang kedua adalah proses conditions of worth, yang didasarkan pada
internalisasi atau “introjeksi” dari “evaluasi” orang lain, yang tidak
benar-benar merefleksikan kecenderungan mengaktualisasikan tetapi mungkin
justru menghalanginya.
EFEK CONDITIONS
OF WORTH PADA SELF-CONCEPT
Orang berbeda-beda dalam hal seberapa jauh
mereka menginternalisasikan conditions of worth. Hal tersebut sangat
bergantung pada dua hal: anggapan positif tanpa syarat yang ditawarkan oleh
signifikan others dan derajat pemahaman empati dan kongruensi yang
diperlihatkan kepada mereka. Bagi sebagian orang, self-concept mereka akan
berkembang sedemikian rupa untuk memungkinkan banyak pengalaman mereka untuk
dipersepsi secara akurat.
Conditions of worth menjadi
sebab dilakukannya evaluasi-evaluasi yang diinternalisasikan tentang bagaimana
orang-orang seharusnya, dan juga evaluasi-evaluasi yang diinternalisasikan
tentang bagaimana orang-orang seharusnya merasakan tentang dirinya jika mereka
memersepsi bahwa mereka yang seperti seharusnya. Akibatnya, karena orang-orang
terlalu banyak mengintroyeksikan conditions of worth, mereka justru
dijauhkan dari pengalaman-pengalaman mereka sehingga tingkat self-regard (harga
diri)-nya juga turun dan mereka tidak mampu menghargai dirinya sepenuhnya.
G.
STUDI
KASUS
KLIEN
Saya pertama kali bertemu Grace pada musim gugur 1995,
ketika ia datang menemui saya di praktik dokter bedah tempat saya bekerja paruh
waktu. Kesan pertama saya adalah ada kecemasan di matanya saat saya bertemu
dengannya di ruang tunggu. Ia menunduk saat kami berjalan menuju ruang
konseling, namun begitu duduk, ia mulai bicara tentang ‘dilema yang mengerikan’
yang sedang dihadapinya. Pada usia 51 tahun ia sedang mempertimbangkan untuk
meninggalkan suaminya dan merasakan ketegangan yang terus menerus saat ia
memikirkan problem itu di benaknya selama beberapa bulan. Sekarang ia merasa
depresi dan sangat lelah.
TERAPI
Sesi pertama saya gunakan untuk mendengarkannya secermat
mungkin, berusaha berempati dengan Grace dan menyampaikan pemahaman saya.
Meskipun pilihannya tampak jelas (tinggal atau pergi), kesuntukan dan
kebingungan internal Grace ini berlangsung dengan kuat. Dia ingin pergi karena
tak lagi merasa ada harapan untuk menyatukan perbedaan dalam perkawinan mereka.
Yang awalnya merasa disisihkan dan kadang-kadang diremehkan di tahun-tahun
pertama pernikahan mereka secara perlahan menjadi rasa permusuhan dari
suaminya. Dua putri Grace, Jane dan Lindsay, memberinya tujuan untuk tetap
tinggal sambil membesarkan mereka, namun kedua putrinya telah pergi setelah
setahun sebelumnya. Setelah itu, perasaan kosong dan kepahitan terhadap suaminya,
David, menggerogotinya. Namun, bersamaan dengan itu ada perasaan bahwa jika ia
pergi itu berarti dirinya egois. Meskipun Jane dan Lindsey telah mandiri, Grace
masih merasa bahwa meninggalkan suaminya berarti menghancurkan keluarganya.
Sebagai ibu dan istri ia merasa bertanggung jawab mempertahankan hubungan
keluarga yang baik. Ia juga merasa bahwa David akan bingung dan terluka.
Perasaan empati
dan menerima mengemuka di dalam diri saya saat kami menjalani sesi-sesi
selanjutnya. Terasa penting memahami situasi Grace seutuhnya. Merespons bagian
Grace yang ingin pergi atau sebaliknya dan hanya mempertahankan keluarganya dan
tak menyakiti David akan membuka bahaya bahwa penerimaan saya tampaknya
bersyarat. Bahkan, akan menciptakan kesan bahwa ia hanya dipahami sebagian dan
bahwa saya hanya akan reseptif pada hal-hal yang sesuai dengan pikiran saya
tentang yang seharusnya dilakukan Grace.
Setelah beberapa minggu, kecemasan Grace mereda saat ia
merasa tak lagi kebingungan dan mulai merasa bias membuat beberapa keputusan
rumit. Pada awal sesi ketujuh, ia menyatakan bahwa ia telah membulatkan tekad.
Ia akan tetap bersama David apapun yang terjadi dan mencoba memperbaiki relasi
mereka. Ia telah mencoba bicara dengannya tentang kesenjangan di antara mereka
dan suaminya berkata bahwa sejak kepergian Jane dan Lindsay, rumah terasa
kosong dan kehidupan begitu sepi. Saya merasakan adanya kecemasan, tak bias
membayangkan bagaimana Grace akan mendapatkan kebahagiaan dengan David seperti
dulu. Dengan tetap mempertahankan hal tersebut, saya mencoba hingga akhir sesi
untuk tetap bersama Grace mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan di masa depan.
Meskipun respons saya berubah-ubah dan tetap, respons
tersebut selalu disertai perasaan tidak nyaman. Saya mendiskusikannya dengan
penyelia saya dan meskipun saya punya komitmen dengan Grace untuk menemukan
cara terbaik, saya kembali mendapati fakta bahwa saya punya visi tentang hasil
yang baik untuk Grace. Saya juga melihat kemiripan pengalaman Grace dengan
kehidupan saya, yang saya bicarakan dengan penyelia saya dan jelas bahwa
perasaan saya merupakan bagian dari intensitas yang saya alami dengan Grace.
Jika diri saya tidak mempengaruhi respons saya, memberikan ungkapan kongruen
pada perasaan kecemasan mungkin bias membantu. Pada saat itu, tetap sadar,
tidak bicara tentang kecemasan, terasa seperti pilihan yang baik.
Saat kami bertemu
lagi, Grace mulai merinci keputusannya. David ‘tidak baik’ seminggu ini, namun
ia pikir suaminya sedang berusaha keras. Mereka bahkan berjalan bersama-sama di
suatu sore (pertama kalinya setelah bertahun-tahun). Saya berempati dengan
mengatakan ‘itulah….maksud saya….David tidak baik namun….dan juga anda telah
melakukan sesuatu yang terasa seperti mulai membuatnya lebih baik….sesuatu yang
anda ingat anda nikmati sebelumnya?’ Grace mulai mengangguk dan mulai bicara
tentang ketidakbaikan David. Ketegangan mulai terasa, saat ia menggambarkan
David menuduhnya tidak berusaha mengatasi problem dan menjadi penyebab
ketidakbahagiaan. ‘awalnya, ia tampak menyimak, namun kemudian ia menuduh saya
menyalahkan dia untuk hal-hal yang tidak benar. Jika saya mencintainya, saya
tidak akan pergi sepanjang waktu….Saya melihat ia tertekan, dengan kerja dan
sebagainya….anak-anaknya telah pergi juga. Mungkin jika kami bias bicara….namun
ia hanya berteriak dan akhirnya membanting pintu dan keluar rumah. Yang bias
saya lakukan hanyalah menangis. Ia benar-benar tidak bicara apapun kepada saya
sejak itu. Sungguh menyenangkan kami bisa pergi jalan-jalan….saya benar-benar
tidak tahu bagaimana itu bisa terulang kembali?’
Sekali lagi, Grace
bicara tentang yang bisa dilakukannya untuk membuat David merasa lebih baik dan
kali ini saya merasakan ada nada datar dan Grace tampak sedikit tidak jelas dan
menjauh. Berbeda dengan kecemasan yang saya rasakan sebelumnya, saya cukup
yakin akan perubahan yang saya alami dengan mengambil risiko menyuarakan
perasaan itu. ‘Grace…saya sadar…eemm…saat anda bicara…saya merasakan nada
datar…dan sepertinya saya merasa anda sedikit menjauh.’
Penting dijelaskan
bahwa itu adalah perasaan saya: bukan respons empatik. Alih-alih, saya ingin
memberikan suara kongruen kepada respons di dalam diri saya pada relasi kami
saat itu.
Grace menunduk dan
berhenti sejenak. Ketika ia bicara lagi, suaranya sedikit serak dan tenggorokan
saya tercekat. ‘saya benar-benar ingin hal itu berhasil, namun kadang-kadang
terasa tidak ada harapan. Dan bagian terburuknya adalah kami telah bersama
begitu lama. Sendirian…saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan. Selalu ada orang di sekitar saya. Tahun-tahun itu…tidak
semuanya buruk…(jeda)…mungkin jika saya pergi ketika lebih muda…namun saya
selalu berpikir semuanya akan baik-baik saja…’ Ia bicara sambil meneteskan air
mata dan saya merasa Grace sedang menyentuh kesedihan yang selama bertahun-tahun
dipendamnya, dan rasa takut menatap masa depan tanpa David.
Membiarkan
kesedihan dan ketakutan muncul disertai perubahan dalam parameter cara Grace
berpikir tentang dirinya dan dilema untuk tetap tinggal/pergi. Ia merasa itu
membuka pertanyaan apakah ia bisa membayangkan dirinya hidup sendiri dan sejauh
mana harga dirinya muncul jika bersama orang lain. Misalnya, sebagai putri
sulung dari empat bersaudara, ia sudah harus bertanggung jawab pada
adik-adiknya saat masih kecil, sehingga mendapatkan pujian dari ibunya.
Terapi kami mendekati akhir beberapa minggu kemudian.
Grace mulai merasa bahwa ingin mencoba berpisah dengan David dan ia
memanfaatkan kesempatan untuk menjaga rumah teman di utara Inggris yang akan
pergi ke luar negeri. Kami berdua sadar tiadanya dukungan yang mungkin
dirasakannya ketika ia harus pergi dan konselor yang bisa dikontaknya jika
perlu.
Sebulan atau dua bulan kemudian, Grace menulis kepada
saya bahwa hidup terpisah dengan David membuatnya mulai menemukan minat baru
dan merasa lebih tenang. Pada saat yang sama ia mengatasi kesepian
kadang-kadang merasa kesakitan yang mendalam ketika membayangkan masa depan.
Sementara ini, paling tidak, ia memilih untuk tidak kembali memilih konseling.
H.
KESIMPULAN
Konseling person-centred
(awalnya bernama Client-centred) adalah teori lain yang sama penting dan
berpengaruhnya di dalam sejarah. Teori ini awalnya dikembangkan dan diusulkan
oleh Carl R. Rogers sebagai reaksi terhadap apa yang dianggapnya keterbatasan
sekaligus pemaksaan psikoanalisis. Karena besarnya pengaruh Rogers, pendekatan
ini sering disebut konseling Rogerian.
Pendekatan Rogerian
menitikberatkan kemampuan dan tanggung jawab klien untuk mengenali cara
pengidentifikasian dan cara menghadapi realitas secara lebih akurat. Semakin
baik klen mengkal dirinya, semakin besar kemampuan mereka mengidentifikasi
perilaku yang paling cepat untuk dirinya. Rogers menekankan pentingnya konselor
untuk bersikpa hangat, tidak berpura-pura, empati dan memberikan perhatian.
Tujuan konseling
berfokus pribadi adalah menawarkan kondisi yang akan memampukan terjadinya
penyembuhan keterpecahan nurani dan memulai kembali secara utuh dengan
pengalaman dan proses penghargaan yang ada sejak lahir.
Konselor bukanlah
hakim dalam proses klien, menilai dan mengarahkan peristiwa. Alih-alih,
konselor memfasilitasi relasi di mana klien tetap menjadi ahli pengalaman
mereka sendiri.
Relasi antara
konselor dan klien adalah pusat terapi berfokus pribadi. Rogers menyatakan
bahwa tiga kondisi inti harus ada dalam diri konselor, yaitu kongruensi,
penerimaan positif tanpa bersyarat dan empati. Selanjutnya jika
proses terapeutik akan dibuka, klien secara sadar atau tidak sadar perlu
merasakan adanya kualitas tersebut. Memiliki faktor-faktor tersebut untuk
keberhasilan terapi menjadi klaim jelas dalam konseling berfokus pribadi.
I.
DAFTAR
PUSTAKA
Gibson,
Robert L. dan Marianne H. Mitchell. Bimbingan dan Konseling. Terj. Yudi
Santoso. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Jones,
Richard Nelson. Teori dan Praktik Konseling dan Terapi. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar. 2011.
McLeod,
John. Pengantar Konseling: Teori dan Studi Kasus. Terj. A. K. Anwar.
Jakarta: Kencana Prenada, 2006.
Palmer,
Stephen. Konseling dan Psikoterapi. Terj. Haris H. Setiadjid.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar