Kamis, 10 Desember 2015

Teori Belajar



A.       LATAR BELAKANG
Dalam perkembangan manusia, manusia akan selalu tumbuh seiring dengan umur manusia yang terus bertambah. Sehingga dalam proses tersebut, manusia harus selalu terus belajar. Belajar bukan berarti hanya dimaknai dengan membawa buku ke sekolah atau biasa kita kenal dengan lembaga pendidikan formal. Akan tetapi lebih dari itu, belajar merupakan sesuatu yang harus terus dilakukan dimanapun manusia itu berada. Pada kenyataannya, belajar tidak ada batas ruang dan waktu. Belajar dapat dilakukan di jalan, toko, rumah, dan sebgainya. Dengan seseorang belajar, maka dengan itu tujuan kepada perubahan kearah kualitas yang lebih baik mampu ditunjukkan sebagai manusia.
Dalam psikologi, belajar merupakan hal yang harus diperhatikan. Manusia memiliki emosional, dengan emosiponal pada diri seseorang akan lebih menentukan bagaimana manusia bergaul dengan orang lain, bagaimana seseorang menyikapi suatu permasalahan, dan bagaimana seseorang menempatkan sikapnya pada tempat yang sesuai atau tidak. Maka dari itu, konsep belajar dalam ruang psikologi akan memiliki pemahaman pengertian belajar yang berbeda dengan pengertian belajar pada bidang keilmuan yang lain.
Rumusaan masalah:
1.      Apa pengertian belajar dalam psikologi?
2.      Apa saja bagian dari prinsip-prinsip belajar?
3.      Ada berapa teori-teori dalam belajar?













B.        PENGERTIAN BELAJAR
Clifford T. Morgan (1961:187) Learning is any relatively permanent change in behavior that is result of a past experience. Definisi ini mengandung arti bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam perilaku subjek yang belajar, sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman di masa lalu.[1]
Moh. Surya (1985) mendefinisikan” belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu  untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan”.[2]
Orientasi belajar dalam pendekatan dan penyembuhan ganguan jiwa didasarkan atas teori-teori belajar, antara lain prinsip-prinsip kondisioning klasik, kondisioning operan, dan belajar sosial. Salah satu asumsi model belajar untuk memahami gangguan jiwa adalah bahwa gangguan jiwa merupakan respons yang tidak cocok (inapropriate) yang terbentuk melalui proses belajar dan dapat bertahan karena adanya penguat yang mempertahankannya. Neurosis adalah “an inapropriate response affecting your life”.
Dalam interviu, tidak perlu digali peristiwa-peristiwa di masa lampau dan konflik-konflik yang tidak disadari seperti halnya dalam pendekatan psikoanalisis. Pendekatan belajar tidak melihat adanya peran semua itu. Yang penting untuk memahami dan menyembuhkan sesuatu sistom adalah keadaan masa kini yang langsung mencetuskan sistom tersebut. suatu sistom hanya diperhatikan kuantitasnya, apakah berlebihan (excess) atau kekurangan (deficit). Contoh sistom defisit misalnya anak yang “malas belajar” atau kasus R yang “tidak mau peduli terhadap lingkungan keluarga”. Contoh sistom excess adalah anak yang dikeluhkan ibunya sebagai anak “nakal” dan “sering memukul adiknya”.
 Untuk semua keluhan-keluhan itu, yang dilihat adalah perilaku nyata yang dinyatakan seobjektif dan seteliti mungkin. Misalnya pada keluhan anak yang sering memukul adiknya, maka yang diteliti adalah berapa kali anak memukul tiap hari selama suatu periode tertentu, siapa yang dipukul, bagaimana intensitasnya, dan seterusnya. Biasanya observasi ini dinyatakan dalam suatu grafik . untuk keluhan “anak malas belajar” yang dicatat adalah apa saja kegiatan yang dinamakan belajar, misalnya menghadapi buku, menulis, membaca, dan sebagainya.
Selanjutnya dilakukan pencatatan mengenai bagaimana “malas belajar” itu selama seminggu. Langkah berikutnya adalah menentukan variabel tergantung serta variabel bebas, dalam proses terjadinya respons “malas” dan “sering memukul” itu. Pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab adalah mengapa kedua respons itu bertahan sedemikian lama? Apakah ada hal-hal yang memperkuat perilaku itu (reinforcement) hingga berlangsung terus dan mengganggu lingkungannya? Apakah ada stimulus yang secara langsung menimbulkannya?
Terapi dengan pendekatan belajar dinamakan behavior therapy. Terapi pada psikoanalisis disebut dengan insight therapy. Perbedaan antara insight therapy dan behavior therapy adalah: insigt therapy (dinamakan juga psikoterapi tradisional) yang dipelopori oleh Freud pada dasarnya masih mempertahankan model penyakit yang diterapkan pada keadaan mental. Pusat perhatian terapis adalah ke masa lalu yang dianggap sebagai sumber permulaan terjadinya gangguan. Konflik-konflik di masa lalu yang tidak disadari itu harus disandarkan agar terjadi penayembuhan. Behavior therapy memusatkan perhatian pada tingkah laku yang dapat diobsevasi dan tidak mencari determinan-determinan di dalam diri individu, melainkan mencari determinan-determinan luar dari suatu tingkah laku patologis. The here and now is what maintains the behavior , not the lack of insight.
Teknik-teknik dalam behavior therapy sangat bermacam-macam, sama seperti jenis sistom yang ada. Tidak seperti insight therapy yang menggunakan teknik seragam untuk semua jenis gangguan. Ini disebabkan karena dalam psikoterapi tradisional tujuannya adalah mencapai insight, dan bukan suatu proses belajar gaya conditioning.
C.        PRINSIP-PRINSIP BELAJAR
a.       Prinsip Efek Kepuasan
Prinsip ini biasa disebut dengan law of effect yang diterjemahkan secara bebas menjadi prinsip efek kepuasan. Berdasarkan prinsip ini hasil belajar akan diperkuat apabila menghasilkan rasa senang atau puas. Dan sebaliknya hasil belajar akan diperlemah apabila menghasilkan perasaan tidak senang.
b.      Prinsip Pengulangan
Prinsip ini disebut sebagai Hukum Pengulangan atau Law of Exercise. Prinsip ini mengandung arti bahwa hasil belajar dapat lebih sempurna apabila sering diulang, sering dilatih. Hubungan antara rangsangan (stimulus) dengan reaksi (response) akan diperkuat apabila sering diadakan pengulangan. Lebih lanjut dari prinsip itu ialah bahwa proses belajar yang telah ada semua hilang dan secara berangsur tidak dimiliki lagi. Lupa merupakan salah satu gejala hilangnya hasil belajar karena tidak dilakukan pengulangan atau latihan-latihan kembali.
c.       Prinsip Kesiapan
Prinsip yang asli disebut law of readiness ini menyatakan bahwa melalui proses belajar individu akan memperoleh tingkah laku baru apabila ia telah siap belajar. Kesiapan tersebut berkenaan dengan kematangan fisik, dan kesiapan psikologis. Berdasarkan prinsip ini, dari segi kesiapan fisik belajar maka efektif apabila individu telah mampu mengkoordinasikan anggota tubuhnya untuk melakukan berbagai kegiatan. Misalnya, individu akan dapat belajar menulis apabila ia mampu mengkoordinasikan mata, tangan dan perhatiannya.
Kesiapan psikologis menyangkut kemampuan individu untuk memahami situasi belajar yang dihadapi, serta kemampuan mengabaikan segala hal yang tidak ada kaitannya dengan kegiatan belajar yang dihadapinya, serta memusatkan perhatian pada obyek yang dipelajari. Ini berarti bahwa individu yang siap belajar, telah menunjukkan dorongannya yang untuk melalui belajar dan memiliki tujuan yang jelas.
d.      Prinsip Kesan Pertama
Hasil belajar yang diperoleh melalui kesan pertama akan sulit digoyahkan. Ini bahwa proses belajar-pembelajaran pertama yang keliru dan membentuk kebiasaan buruk , akan mewarnai belajar berikutnya, yang secara beruntun akan menghasilkan yang buruk pula. Prinsip ini disebut law of primary atau kesan awal.
Lebih lanjut dari prinsip itu ialah bahwa penyiapan situasi belajar yang baik diharapkan akan memberikan kesan awal yang baik pula. Oleh karena itu, pada awal mula belajar, perlu dibentuk kebiasaan yang baik dan memberi makna baik pada belajar berikutnya. Upaya mengubah kesan awal yang kurang baik, lebih sulit dari menyiapkan situasi belajar yang baik. 


e.       Prinsip Makna yang Dalam
Hasil belajar dapat merupakan penghayatan makna dalam satu atau yang dangkal saja. Hasil-hasil yang diharapkan tentu saja adalah bermakna secara mendalam. Prinsip-prinsip ini disebut prinsip “makna yang dalam” atau “prinsip intensitas”. Berdasarkan prinsip ini, belajar akan memberi  makna yang dalam apabila yang diupayakan melalui kegiatan yang bersemangat. Pengalaman yang statis dan penyajian yang juga disebut sebagai law of intensity.
Untuk menciptakan situasi belajar yang menarik diperlukan alat-alat bantu pandang-dengar (audiovisual atau alat peraga) dan teknik penyajian yang menarik. Teknik diskusi dan demonstrasi akan lebih efektif digunakan untuk merangsang kegiatan kelas yang hidup.
f.        Prinsip Bahan Baru
Prinsip ini biasanya sebagai Law of recenty, yang mengandung arti bahwa bahan yang baru dipelajari, akan lebih mudah diingat. Sedang bahan yang telah lama dipelajari, akan terhalang oleh bahan baru sehingga terbenam ke alam bawah sadar.
Prinsip ini berkenaan dengan konsep rintangan atau inhibisi dalam belajar. Individu akan mengalami kesulitan mengingat bahan-bahan yang lama, apabila terus menerus dijejali bahan baru secara sporadis, sementra bahan lama  tidak pernah diulang kembali sehingga terlupakan.
g.       Prinsip Gabungan
Sebagai perluasan dari prinsip efek kepuasan dan prinsip pengulangan, ditetapkanlah prinsip yang biasanya disebut prinsip kaitan antar efek dan pengulangan. Prinsip ini menunjukkan perlunya ada keterikatan bahan yang dipelajari dengan situasi belajar yang memberikan kepuasan dan latihan yang erat kaitannya dengan kehidupan individu yang belajar akan meningkatkan hasil belajar.[3]





D.       TEORI-TEORI BELAJAR
Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan dengan stimulus respon dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya. Proses yang menunujukkan hubungan yang terus-menerus antara respons yang muncul serta rangsangan yang diberikan dinamakan suatu proses belajar (Tan, 1981:91)
Untuk lebih memperjelas pengertian kita mengenai proses belajar yang merupakan hasil penyelidikan para ahli psikologi. Berikut ini, kita perlu mengenal beberapa teori belajar. Teorin belajar yang dimaksud ialah: (1) teori conditioning, (2) teori connectionism, dan (3) teori psikologi Gestalt.[4]
a.       Teori Conditioning
Bentuk paling sederhana  dalam beljar adalah conditioning. Karena conditioning sanagat sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya, para ahli sering mengambilnya sebagai contohuntuk menjelaskan dasar-dasar dari semua proses belajar. Meskipun demikian, kegunaan conditioning sebagai contoh bagi belajar, masih menjdi bhan perdebatan (Walker, 1967).
1)      Conditioning Klasik (Classical Conditioning)
Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang kesanggupan untuk berespons terhadap stimulus tertentu dapat dipindahkan pada stimulus lain.
Percobaan mengenai anjing yang mengeluarkan air liur oleh pavlov, sering kali dikutip karena dianggap sebagai salah satu bentuk percobaan conditioning formal yang pertama.
Prinsip dasar dari model conditioning klasik adalah sebuah unconditioned stimulus (US), unconditioned response (UR), dan conditioned stimulus (CS). US merupakan objek dalam lingkungan organisme yang secara otomatis diperoleh tanpa harus mempelajarinya terlebih dahulu atau bisa dikatakan sebagai suatu proses yang nyata (UR). Conditioning klasik timbul ketika stimulus netral sebelumnya (CS) mampu menimbulkan respons yang nyata atau terlihat dengan sendirinya.
Menurut Alexis S. Tan, penelitian menunjukkan bahwa sebuah faktor mempengaruhi conditioning klasik ini. Salah satunya adalah frekuensi pemasangan antara US dan CS. Lebih sering pemasangan itu dilaksanakan, lebih kuat pulalah pengaruh penyesuaian itu. Juga, proses belajar yang maksimum terjadi jika CS mendahului US beberapa waktu, misalnya satu setengah detik (Tan, 19981:92).
Menurut teori conditioning, belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan respons. Untuk menjadikan seseorang itu belajar, kita harus memberikan syarat-syarat tertentu. Yang terpenting dalam belajar, menurut teori conditioning, ialah adanya latihan-latihan yang kontinu. Yang diutamakan dalam teori ini ialah hal belajar yang terjadi secara otomatis.
Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain merupkan hasil dari conditioning. Yakni hasil dari latihan-latihan atau kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya dalam kehidupannya.
Kelemahan conditioning klasik, antara lain, adalah sebagai berikut (Purwanto,1995):
a)        Teori ini menganggap bahwa belajar adalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya.
b)         Peranan latihan atau kebiasaan terlalu ditonjolkan; sedangkan kita tahu dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak semata-mata bergantung pada pengaruh dari luar. Aku atau kepribadiannya sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan serta reaksi apa yang akan dilakukannya.
c)        Teori conditioning memang tepat kalau ita hubungkan dengan kehidupan binatang. Namun, pada manusia, teori ini hanya dapat kita terima dalam hal-hal belajar tertentu saja; umpamanya dalam belajar mengenali skills (kecekatan-kecekatan) tertentu dan mengenai pembiasan pada anak-anak kecil.
2)      Conditioning Operan (Operan conditioning)
Istilah conditioning operan (operant conditioning) diciptakan oleh Skinner dan memiliki arti umum conditioning prilaku. Istilah “operan” disini berarti operasi (opertion) yang pengaruhnya mengakibatkan organisme melakukan suatu perbuatan pada lingkungannya. Misalnya perilaku motor yang biasanya merupakan perbuatan yang dilakukan secara sadar (Hardy & Heyes,1985; Reber, 1988). [5]
Tidak seperti dalam respondent conditioning (yang responsnya didatangkan oleh stimulus tertentu), respons dalam conditioning operan terjadi tanpa didahului stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu,akan tetapi tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning.
Penelitian conditioning operan dimulai pada awal abad inidengan sejumlah eksperimen oleh Thorndike (1898). Ia yang banyak dipengaruhi oleh teori evaluasi darwin, mencoba menunjukkan bahwa proses belajar pada hewan merupakan proses yang terus-menerus, sama seperti proses belajar pada manusia.
Meskipun Thorndike yang menjadi pelopor dalam pengkajian bagaimana rasa puas mendorong pembelajaran, Skinner-lah yang menyelidiki kerja terinci “hukum efek” (Sylfa & Lunt, 1986). B.F. Skinner dianggap sebagai Bapak conditioning operan. Walaupun hasil karyanya didasarkan pada hukum efek pengaturan dalam hukum efek tersebut (Hardy & Heyes, 1985: 42).
Seperti yang sudah disinggung diatas, conditioning operan adalah nama yang digunakan oleh Skinner (1938) untuk suatu prosedur yang menyebabkaan individu bisa mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian ganjaran yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif bebas. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksible ketimbang conditioning klasik.
Kelemahan dari teori conditioning operan adalah sebagai berikut (Syah, 1995: 108).
a)      Proses belajar dapat diamati secara langsung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar, kecualai sebagai gejalanya.
b)      Proses belajar bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan robot, padahal setiap individu memiliki self-direction (kemampuan mengarahkan diri) dan self control (pengendalian diri) yang bersifat kognitif, sehingga ia bsa menolak untuk merespons jika ia tidak menghendaki. Misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.
c)      Proses belajar manusia yang dianalogikan dengan prilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan.

b.      Teori Psikologi Gestalt
Teori belajar menurut psikologi Gestalt sering kali disebut insight full learning atau field theory. Ada pula istilah lain yang sebetulnya identik dengan teori ini, yaitu organismic, pattern, holistic, integration, configuration, dan closure.[6]Wolfgang Kohler adalah pendiri aliran psikologi Gestalt ini.
Jiwa manusia, dalam aliran ini, adalah suatu keseluruhan yang berstruktur atau merupakan suatu sistem, bukan hanya terdiri atas sejumlah bagian atau unsur yang satu sama lain yang terpisah, yang tidak mempunyai hubungan fungsional. Manusia adalah individu yang  merupakan berbentuk jasmani-rohani. Sebagai individu, manusia itu bereaksi, atau lebih tepatnya berinteraksi, dengan dunia luar, engan kepribadiannya, dan dengan cara yang unik pula. Sebagai pribadi, manusia tidak secara langsung  bereaksi  terhadap suatu perangsang, dan tidak pula reaksinya itu dilakukan secara trial and error seperti dikatakan oleh penganut teori conditioning. Interaksi manusia terhadap dunia luar bergantung pada cara ia menerima stimulusdan bagaimana serta apa motif-motif yang ada padanya. Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan. Ia memilih cara bagaimana ia berinteraksi, stimulus mana yang diterimanyadan mana yang ditolaknya.
Atas dasar itu, maka belajar, dalam pandangan psikologi Gestalt, bukan sekedar proses asosiasi antara stimulus-respons yang kian lama kian kuat disebabkan adanya berbagai latihan atau ulangan-ulangan. Menurut aliran ini, belajar itu terjadi apabila terdapat  pengertian (insight). Pengertian ini muncul jika seseorang setelah beberapa saat  mencoba memahami suatu problem, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara unsur-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut-pautnya, untuk kemudian dimengeti maknanya.
Prinsip-prinsip belajar berikut ini lebih merupakan rangkuman atau kesimpulan dari teori psikologi Gestalt:
a.       Belajar dimulai dari suatu keseluruhan, kemudian baru menuju bagian-bagian. Dari hal-hal yang sangat kompleks menuju hal-hal yang palinh sederhana.
b.      Keseluruhan memberi makna pada bagian-bagian. Bgian-bagian terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan tersebut.
c.       Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Sesorang belajar jika ia dapat bertindak dan berbuat sesuai dengan yang dipelajarinya.
d.      Belajar akan berhasil bila tercapai kematangan untuk memperoleh pengertian. Pengertian adalah kemampuan hubungan antara berbagai faktor dalam situasi yang problematis.
e.       Belajar akan berhasil jika ada tujuan yang berarti bagi individu.
f.        Dalam proses belajar itu, individu selalu merupakan organisme yang aktif, bukan bejana yang harus diisi oleh orang lain.













E.     KESIMPULAN
c.       Ada berbagai teori yang mengungkapkan akan makna belajar, salah satunya adalah pendapat yang dikemukanan oleh Clifford T. Morgan (1961:187) Learning is any relatively permanent change in behavior that is result of a past experience. Definisi ini mengandung arti bahwa belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam perilaku subjek yang belajar, sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman di masa lalu. Prinsip-prinsip belajar adalah prinsip kepuasan. Berdasarkan prinsip ini hasil belajar akan diperkuat apabila menghasilkan rasa senang atau puas. Dan sebaliknya hasil belajar akan diperlemah apabila menghasilkan perasaan tidak senang. Selanjutnya adalah prinsip pengulangan, kesiapan, kesan pertama, makna yang dalam, bahan baru, dan prinsip gabungan. Teori belajar terdiri dari teori condisioning dan teori psikologi Gestalt, yang masing-masing memiliki cabang.





















DAFTAR PUSTAKA
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum dalam Lintas Sejarah. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Yasin, Mohammad. 2009.Psikologi Perkembangan. Kediri:STAIN Kediri Press.















[1] Mohammada Yasin, Psikologi Perkembangan(Kediri:STAIN Kediri Press, 2009), 64.
[2] Ibid, 70.
[3] Mohammad Yasin, 65-68.
[4] Alex Sobur, Psikologi Umum dalam Lintas Sejarah(Bandung: CV. Pustaka Setia, 2003), 223.
[5] Alex Sobur, 227.
[6] Alex Sobur, 232.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar