A.
LATAR
BELAKANG
Dalam perkembangan manusia, manusia akan selalu tumbuh
seiring dengan umur manusia yang terus bertambah. Sehingga dalam proses
tersebut, manusia harus selalu terus belajar. Belajar bukan berarti hanya
dimaknai dengan membawa buku ke sekolah atau biasa kita kenal dengan lembaga
pendidikan formal. Akan tetapi lebih dari itu, belajar merupakan sesuatu yang
harus terus dilakukan dimanapun manusia itu berada. Pada kenyataannya, belajar
tidak ada batas ruang dan waktu. Belajar dapat dilakukan di jalan, toko, rumah,
dan sebgainya. Dengan seseorang belajar, maka dengan itu tujuan kepada
perubahan kearah kualitas yang lebih baik mampu ditunjukkan sebagai manusia.
Dalam psikologi, belajar merupakan hal yang harus
diperhatikan. Manusia memiliki emosional, dengan emosiponal pada diri seseorang
akan lebih menentukan bagaimana manusia bergaul dengan orang lain, bagaimana
seseorang menyikapi suatu permasalahan, dan bagaimana seseorang menempatkan
sikapnya pada tempat yang sesuai atau tidak. Maka dari itu, konsep belajar
dalam ruang psikologi akan memiliki pemahaman pengertian belajar yang berbeda
dengan pengertian belajar pada bidang keilmuan yang lain.
Rumusaan masalah:
1.
Apa
pengertian belajar dalam psikologi?
2.
Apa
saja bagian dari prinsip-prinsip belajar?
3.
Ada
berapa teori-teori dalam belajar?
B.
PENGERTIAN
BELAJAR
Clifford T. Morgan (1961:187) Learning is
any relatively permanent change in behavior that is result of a past experience.
Definisi ini mengandung arti bahwa belajar adalah perubahan yang relatif
menetap dalam perilaku subjek yang belajar, sebagai hasil dari
pengalaman-pengalaman di masa lalu.[1]
Moh. Surya (1985) mendefinisikan” belajar ialah
suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu
sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan”.[2]
Orientasi belajar dalam pendekatan dan
penyembuhan ganguan jiwa didasarkan atas teori-teori belajar, antara lain
prinsip-prinsip kondisioning klasik, kondisioning operan, dan belajar sosial.
Salah satu asumsi model belajar untuk memahami gangguan jiwa adalah bahwa
gangguan jiwa merupakan respons yang tidak cocok (inapropriate) yang
terbentuk melalui proses belajar dan dapat bertahan karena adanya penguat yang
mempertahankannya. Neurosis adalah “an inapropriate response affecting your
life”.
Dalam interviu, tidak perlu digali
peristiwa-peristiwa di masa lampau dan konflik-konflik yang tidak disadari
seperti halnya dalam pendekatan psikoanalisis. Pendekatan belajar tidak melihat
adanya peran semua itu. Yang penting untuk memahami dan menyembuhkan sesuatu
sistom adalah keadaan masa kini yang langsung mencetuskan sistom tersebut.
suatu sistom hanya diperhatikan kuantitasnya, apakah berlebihan (excess)
atau kekurangan (deficit). Contoh sistom defisit misalnya anak yang
“malas belajar” atau kasus R yang “tidak mau peduli terhadap lingkungan
keluarga”. Contoh sistom excess adalah anak yang dikeluhkan ibunya
sebagai anak “nakal” dan “sering memukul adiknya”.
Untuk
semua keluhan-keluhan itu, yang dilihat adalah perilaku nyata yang dinyatakan
seobjektif dan seteliti mungkin. Misalnya pada keluhan anak yang sering memukul
adiknya, maka yang diteliti adalah berapa kali anak memukul tiap hari selama
suatu periode tertentu, siapa yang dipukul, bagaimana intensitasnya, dan
seterusnya. Biasanya observasi ini dinyatakan dalam suatu grafik . untuk
keluhan “anak malas belajar” yang dicatat adalah apa saja kegiatan yang
dinamakan belajar, misalnya menghadapi buku, menulis, membaca, dan sebagainya.
Selanjutnya
dilakukan pencatatan mengenai bagaimana “malas belajar” itu selama seminggu.
Langkah berikutnya adalah menentukan variabel tergantung serta variabel bebas,
dalam proses terjadinya respons “malas” dan “sering memukul” itu.
Pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab adalah mengapa kedua respons itu
bertahan sedemikian lama? Apakah ada hal-hal yang memperkuat perilaku itu (reinforcement)
hingga berlangsung terus dan mengganggu lingkungannya? Apakah ada stimulus yang
secara langsung menimbulkannya?
Terapi
dengan pendekatan belajar dinamakan behavior therapy. Terapi pada
psikoanalisis disebut dengan insight therapy. Perbedaan antara insight
therapy dan behavior therapy adalah: insigt therapy
(dinamakan juga psikoterapi tradisional) yang dipelopori oleh Freud pada
dasarnya masih mempertahankan model penyakit yang diterapkan pada keadaan
mental. Pusat perhatian terapis adalah ke masa lalu yang dianggap sebagai
sumber permulaan terjadinya gangguan. Konflik-konflik di masa lalu yang tidak
disadari itu harus disandarkan agar terjadi penayembuhan.
Behavior therapy memusatkan perhatian pada tingkah laku yang dapat
diobsevasi dan tidak mencari determinan-determinan di dalam diri individu,
melainkan mencari determinan-determinan luar dari suatu tingkah laku patologis.
The here and now is what maintains the behavior , not the lack of insight.
Teknik-teknik dalam behavior therapy
sangat bermacam-macam, sama seperti jenis sistom yang ada. Tidak seperti insight
therapy yang menggunakan teknik seragam untuk semua jenis gangguan. Ini
disebabkan karena dalam psikoterapi tradisional tujuannya adalah mencapai insight,
dan bukan suatu proses belajar gaya conditioning.
C.
PRINSIP-PRINSIP
BELAJAR
a.
Prinsip
Efek Kepuasan
Prinsip
ini biasa disebut dengan law of effect yang diterjemahkan secara bebas
menjadi prinsip efek kepuasan. Berdasarkan prinsip ini hasil belajar akan
diperkuat apabila menghasilkan rasa senang atau puas. Dan sebaliknya hasil
belajar akan diperlemah apabila menghasilkan perasaan tidak senang.
b.
Prinsip
Pengulangan
Prinsip
ini disebut sebagai Hukum Pengulangan atau Law of Exercise.
Prinsip ini mengandung arti bahwa
hasil belajar dapat lebih sempurna apabila sering diulang, sering dilatih.
Hubungan antara rangsangan (stimulus) dengan reaksi (response)
akan diperkuat apabila sering diadakan pengulangan. Lebih lanjut dari prinsip
itu ialah bahwa proses belajar yang telah ada semua hilang dan secara berangsur
tidak dimiliki lagi. Lupa merupakan salah satu gejala hilangnya hasil belajar karena
tidak dilakukan pengulangan atau latihan-latihan kembali.
c.
Prinsip
Kesiapan
Prinsip
yang asli disebut law of readiness ini menyatakan bahwa melalui proses
belajar individu akan memperoleh tingkah laku baru apabila ia telah siap
belajar. Kesiapan tersebut berkenaan dengan kematangan fisik, dan kesiapan
psikologis. Berdasarkan prinsip ini, dari segi kesiapan fisik belajar maka
efektif apabila individu telah mampu mengkoordinasikan anggota tubuhnya untuk
melakukan berbagai kegiatan. Misalnya, individu akan dapat belajar menulis
apabila ia mampu mengkoordinasikan mata, tangan dan perhatiannya.
Kesiapan
psikologis menyangkut kemampuan individu untuk memahami situasi belajar yang
dihadapi, serta kemampuan mengabaikan segala hal yang tidak ada kaitannya
dengan kegiatan belajar yang dihadapinya, serta memusatkan perhatian pada obyek
yang dipelajari. Ini berarti bahwa individu yang siap belajar, telah
menunjukkan dorongannya yang untuk melalui belajar dan memiliki tujuan yang
jelas.
d.
Prinsip
Kesan Pertama
Hasil
belajar yang diperoleh melalui kesan pertama akan sulit digoyahkan. Ini bahwa
proses belajar-pembelajaran pertama yang keliru dan membentuk kebiasaan buruk ,
akan mewarnai belajar berikutnya, yang secara beruntun akan menghasilkan yang
buruk pula. Prinsip ini disebut law of primary atau kesan awal.
Lebih
lanjut dari prinsip itu ialah bahwa penyiapan situasi belajar yang baik
diharapkan akan memberikan kesan awal yang baik pula. Oleh karena itu, pada
awal mula belajar, perlu dibentuk kebiasaan yang baik dan memberi makna baik
pada belajar berikutnya. Upaya mengubah kesan awal yang kurang baik, lebih
sulit dari menyiapkan situasi belajar yang baik.
e.
Prinsip
Makna yang Dalam
Hasil
belajar dapat merupakan penghayatan makna dalam satu atau yang dangkal saja.
Hasil-hasil yang diharapkan tentu saja adalah bermakna secara mendalam.
Prinsip-prinsip ini disebut prinsip “makna yang dalam” atau “prinsip
intensitas”. Berdasarkan prinsip ini, belajar akan memberi makna yang dalam apabila yang diupayakan
melalui kegiatan yang bersemangat. Pengalaman yang statis dan penyajian yang
juga disebut sebagai law of intensity.
Untuk
menciptakan situasi belajar yang menarik diperlukan alat-alat bantu
pandang-dengar (audiovisual atau alat peraga) dan teknik penyajian yang
menarik. Teknik diskusi dan demonstrasi akan lebih efektif digunakan untuk
merangsang kegiatan kelas yang hidup.
f.
Prinsip
Bahan Baru
Prinsip
ini biasanya sebagai Law of recenty, yang mengandung arti bahwa bahan yang baru
dipelajari, akan lebih mudah diingat. Sedang bahan yang telah lama dipelajari,
akan terhalang oleh bahan baru sehingga terbenam ke alam bawah sadar.
Prinsip
ini berkenaan dengan konsep rintangan atau inhibisi dalam belajar. Individu
akan mengalami kesulitan mengingat bahan-bahan yang lama, apabila terus menerus
dijejali bahan baru secara sporadis, sementra bahan lama tidak pernah diulang kembali sehingga
terlupakan.
g.
Prinsip
Gabungan
Sebagai
perluasan dari prinsip efek kepuasan dan prinsip pengulangan, ditetapkanlah
prinsip yang biasanya disebut prinsip kaitan antar efek dan pengulangan.
Prinsip ini menunjukkan perlunya ada keterikatan bahan yang dipelajari dengan
situasi belajar yang memberikan kepuasan dan latihan yang erat kaitannya dengan
kehidupan individu yang belajar akan meningkatkan hasil belajar.[3]
D. TEORI-TEORI BELAJAR
Dalam psikologi, teori belajar selalu dihubungkan
dengan stimulus respon dan teori-teori tingkah laku yang menjelaskan respons
makhluk hidup dihubungkan dengan stimulus yang didapat dalam lingkungannya.
Proses yang menunujukkan hubungan yang terus-menerus antara respons yang muncul
serta rangsangan yang diberikan dinamakan suatu proses belajar (Tan, 1981:91)
Untuk lebih memperjelas pengertian kita
mengenai proses belajar yang merupakan hasil penyelidikan para ahli psikologi.
Berikut ini, kita perlu mengenal beberapa teori belajar. Teorin belajar yang
dimaksud ialah: (1) teori conditioning, (2) teori connectionism,
dan (3) teori psikologi Gestalt.[4]
a.
Teori Conditioning
Bentuk
paling sederhana dalam beljar adalah conditioning.
Karena conditioning sanagat sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya, para
ahli sering mengambilnya sebagai contohuntuk menjelaskan dasar-dasar dari semua
proses belajar. Meskipun demikian, kegunaan conditioning sebagai contoh bagi
belajar, masih menjdi bhan perdebatan (Walker, 1967).
1)
Conditioning
Klasik (Classical Conditioning)
Conditioning
adalah suatu bentuk belajar yang kesanggupan untuk berespons terhadap stimulus
tertentu dapat dipindahkan pada stimulus lain.
Percobaan mengenai anjing yang mengeluarkan air
liur oleh pavlov, sering kali dikutip karena dianggap sebagai salah satu bentuk
percobaan conditioning formal yang pertama.
Prinsip
dasar dari model conditioning klasik adalah sebuah unconditioned stimulus
(US), unconditioned response (UR), dan conditioned stimulus (CS).
US merupakan objek dalam lingkungan organisme yang secara otomatis diperoleh
tanpa harus mempelajarinya terlebih dahulu atau bisa dikatakan sebagai suatu
proses yang nyata (UR). Conditioning klasik timbul ketika stimulus netral
sebelumnya (CS) mampu menimbulkan respons yang nyata atau terlihat dengan
sendirinya.
Menurut
Alexis S. Tan, penelitian menunjukkan bahwa sebuah faktor mempengaruhi
conditioning klasik ini. Salah satunya adalah frekuensi pemasangan antara US
dan CS. Lebih sering pemasangan itu dilaksanakan, lebih kuat pulalah pengaruh
penyesuaian itu. Juga, proses belajar yang maksimum terjadi jika CS mendahului
US beberapa waktu, misalnya satu setengah detik (Tan, 19981:92).
Menurut
teori conditioning, belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena
adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan respons.
Untuk menjadikan seseorang itu belajar, kita harus memberikan syarat-syarat
tertentu. Yang terpenting dalam belajar, menurut teori conditioning, ialah
adanya latihan-latihan yang kontinu. Yang diutamakan dalam teori ini ialah hal
belajar yang terjadi secara otomatis.
Penganut
teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain merupkan
hasil dari conditioning. Yakni hasil dari latihan-latihan atau kebiasaan
mereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang
dialaminya dalam kehidupannya.
Kelemahan
conditioning klasik, antara lain, adalah sebagai berikut (Purwanto,1995):
a)
Teori
ini menganggap bahwa belajar adalah terjadi secara otomatis; keaktifan dan
penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya.
b)
Peranan latihan atau kebiasaan terlalu
ditonjolkan; sedangkan kita tahu dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia
tidak semata-mata bergantung pada pengaruh dari luar. Aku atau kepribadiannya
sendiri memegang peranan dalam memilih dan menentukan perbuatan serta reaksi
apa yang akan dilakukannya.
c)
Teori
conditioning memang tepat kalau ita hubungkan dengan kehidupan binatang. Namun, pada manusia, teori ini
hanya dapat kita terima dalam hal-hal belajar tertentu saja; umpamanya dalam
belajar mengenali skills (kecekatan-kecekatan) tertentu dan mengenai
pembiasan pada anak-anak kecil.
2)
Conditioning
Operan (Operan conditioning)
Istilah
conditioning operan (operant conditioning) diciptakan oleh Skinner dan
memiliki arti umum conditioning
prilaku. Istilah “operan” disini berarti operasi (opertion) yang
pengaruhnya mengakibatkan organisme melakukan suatu perbuatan pada
lingkungannya. Misalnya perilaku motor yang biasanya merupakan perbuatan yang
dilakukan secara sadar (Hardy & Heyes,1985; Reber, 1988). [5]
Tidak
seperti dalam respondent conditioning (yang responsnya didatangkan oleh
stimulus tertentu), respons dalam conditioning operan terjadi tanpa didahului
stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer
itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan
timbulnya sejumlah respons tertentu,akan tetapi tidak sengaja diadakan sebagai
pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning.
Penelitian
conditioning operan dimulai pada awal abad inidengan sejumlah eksperimen oleh
Thorndike (1898). Ia yang banyak dipengaruhi oleh teori evaluasi darwin,
mencoba menunjukkan bahwa proses belajar pada hewan merupakan proses yang
terus-menerus, sama seperti proses belajar pada manusia.
Meskipun
Thorndike yang menjadi pelopor dalam pengkajian bagaimana rasa puas mendorong
pembelajaran, Skinner-lah yang menyelidiki kerja terinci “hukum efek” (Sylfa
& Lunt, 1986). B.F. Skinner dianggap sebagai Bapak conditioning operan.
Walaupun hasil karyanya didasarkan pada hukum efek pengaturan dalam hukum efek
tersebut (Hardy & Heyes, 1985: 42).
Seperti
yang sudah disinggung diatas, conditioning operan adalah nama yang digunakan
oleh Skinner (1938) untuk suatu prosedur yang menyebabkaan individu bisa
mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian ganjaran yang bijaksana
dalam lingkungan yang relatif bebas. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh
lebih fleksible ketimbang conditioning klasik.
Kelemahan
dari teori conditioning operan adalah sebagai berikut (Syah, 1995: 108).
a)
Proses
belajar dapat diamati secara langsung, padahal belajar adalah proses kegiatan
mental yang tidak dapat disaksikan dari luar, kecualai sebagai gejalanya.
b)
Proses
belajar bersifat otomatis-mekanis sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan
robot, padahal setiap individu memiliki self-direction (kemampuan
mengarahkan diri) dan self control (pengendalian diri) yang bersifat
kognitif, sehingga ia bsa menolak untuk merespons jika ia tidak menghendaki.
Misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.
c)
Proses
belajar manusia yang dianalogikan dengan prilaku hewan itu sangat sulit
diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara
manusia dan hewan.
b.
Teori
Psikologi Gestalt
Teori
belajar menurut psikologi Gestalt sering kali disebut insight full learning
atau field theory. Ada pula istilah lain yang sebetulnya identik dengan
teori ini, yaitu organismic, pattern, holistic, integration, configuration,
dan closure.[6]Wolfgang
Kohler adalah pendiri aliran psikologi Gestalt ini.
Jiwa
manusia, dalam aliran ini, adalah
suatu keseluruhan yang berstruktur atau merupakan suatu sistem, bukan hanya
terdiri atas sejumlah bagian atau unsur yang satu sama lain yang terpisah, yang
tidak mempunyai hubungan fungsional. Manusia adalah individu yang merupakan berbentuk jasmani-rohani. Sebagai
individu, manusia itu bereaksi, atau lebih tepatnya berinteraksi, dengan dunia
luar, engan kepribadiannya, dan dengan cara yang unik pula. Sebagai pribadi,
manusia tidak secara langsung
bereaksi terhadap suatu perangsang,
dan tidak pula reaksinya itu dilakukan secara trial and error seperti
dikatakan oleh penganut teori conditioning. Interaksi manusia terhadap
dunia luar bergantung pada cara ia menerima stimulusdan bagaimana serta apa
motif-motif yang ada padanya. Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan.
Ia memilih cara bagaimana ia berinteraksi, stimulus mana yang diterimanyadan
mana yang ditolaknya.
Atas
dasar itu, maka belajar, dalam pandangan psikologi Gestalt, bukan sekedar
proses asosiasi antara stimulus-respons yang kian lama kian kuat disebabkan
adanya berbagai latihan atau ulangan-ulangan. Menurut aliran ini, belajar itu
terjadi apabila terdapat pengertian (insight).
Pengertian ini muncul jika seseorang setelah beberapa saat mencoba memahami suatu problem, tiba-tiba
muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara unsur-unsur yang satu
dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut-pautnya, untuk kemudian dimengeti
maknanya.
Prinsip-prinsip
belajar berikut ini lebih merupakan rangkuman atau kesimpulan dari teori
psikologi Gestalt:
a.
Belajar
dimulai dari suatu keseluruhan, kemudian baru menuju bagian-bagian. Dari
hal-hal yang sangat kompleks menuju hal-hal yang palinh sederhana.
b.
Keseluruhan
memberi makna pada bagian-bagian. Bgian-bagian terjadi dalam suatu keseluruhan.
Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan tersebut.
c.
Belajar
adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Sesorang belajar jika ia dapat
bertindak dan berbuat sesuai dengan yang dipelajarinya.
d.
Belajar
akan berhasil bila tercapai kematangan untuk memperoleh pengertian. Pengertian
adalah kemampuan hubungan antara berbagai faktor dalam situasi yang
problematis.
e.
Belajar
akan berhasil jika ada tujuan yang berarti bagi individu.
f.
Dalam
proses belajar itu, individu selalu merupakan organisme yang aktif, bukan
bejana yang harus diisi oleh orang lain.
E.
KESIMPULAN
c.
Ada
berbagai teori yang mengungkapkan akan makna belajar, salah satunya adalah
pendapat yang dikemukanan oleh Clifford T. Morgan (1961:187) Learning is
any relatively permanent change in behavior that is result of a past experience.
Definisi ini mengandung arti bahwa belajar adalah perubahan yang relatif
menetap dalam perilaku subjek yang belajar, sebagai hasil dari
pengalaman-pengalaman di masa lalu. Prinsip-prinsip
belajar adalah prinsip kepuasan. Berdasarkan prinsip ini hasil belajar akan
diperkuat apabila menghasilkan rasa senang atau puas. Dan sebaliknya hasil
belajar akan diperlemah apabila menghasilkan perasaan tidak senang. Selanjutnya adalah prinsip pengulangan, kesiapan,
kesan pertama, makna yang dalam, bahan baru, dan prinsip gabungan. Teori
belajar terdiri dari teori condisioning dan teori psikologi
Gestalt, yang masing-masing memiliki cabang.
DAFTAR PUSTAKA
Sobur,
Alex. 2003. Psikologi Umum dalam Lintas
Sejarah. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Yasin,
Mohammad. 2009.Psikologi Perkembangan.
Kediri:STAIN Kediri Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar