Kamis, 10 Desember 2015

Pentingnya Membangun Karakter dan Tanggung Jawabnya



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Dewasa ini,  karakter telah menjadi pembicaan yang sangat hangat dikalangan masyarakat.  Jika suatu bangsa atau manusia tidak memiliki karakter apa yang akan terjadi dengan bangsa atau manusia tersebut. Baik buruk suatu bangsa atau manusia ditentukan atau dipengaruhi oleh bangunan karakter generasinya. Karakter yang kuat akan menjadikan sebuah bangsa menjadi kuat pula. Karena dengan karakter, kita dapat membedakan dari semua perilaku manusia. Dengan karakter manusia yang positif , akan dapat mengurangi berbagai perilaku generasi muda, memberikan arahan bagaimana mereka merengkuh masa depan. Karena itulah begitu pentingnya membangun karakter manusia agar menjadi lebih baik.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pentingnya membangun karakter dan tanggung jawabnya?
2.      Bagaimana metode membangun karakter?
3.      Bagaimana target pendidikan karakter?
4.      Bagaimana model pendidikan karakter


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pentingnya Membangun Karakter dan Tanggung Jawabnya
Karakter memberikan gambaran tentang suatu bangsa, sebagai penanda, penciri sekaligus pembeda suatu bangsa dengan bangsa yang lainnya. Karakter memberikan arahan tentang bagaimana bangsa itu menapaki dan melewati suatu jaman dan mengantarkannya pada suatu derajat tertentu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter yang mampu membangun sebuah peradaban besar yang kemudian mempengaruhi perkembangan dunia. Michael H. Hart penulis buku 100 tokoh berpengaruh di dunia menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling berpengaruh  sepanjang sejarah kemanusiaan, karena mampu mengubah subuah wajah karakter  masyarakat dari realitas masyarakat yang sangat tidak beradab. Realitas itu kemudian diubah dengan cara yang sangat indah dan cerdas melalui keteladanan dan dibangun dengan karakter masyarakatnya.
Membangun karakter bangsa menjadi tanggung jawab bersama semua pihak dan komponen dari bangsa ini untuk ikut terlibat menyingsingkan lengan baju membangun karakter yang kuat dan khas. Semua potensi bangsa haruslah bangkit dan bersatu padu untuk melakukan sebuah gerakan dan tindakan dalam membangun karakter bangsa agar negeri ini bangkit dan meraih cita-cita besarnya sehingga mampu sejajar dengan bangsa-bangsa besar lain di dunia dan mampu memberikan kontribusi bahkan menjadi pusat peradaban.[1] Semua itu tentu haruslah bermula dari semangat, visi, dan keteladanan yang dimunculkan dalam diri para pemimpinnya, demikianlah yang pernah dialami oleh negara-negara besar lainnya. Dari sinilah kemudian semua unsur masyarakat harus terlibat membangun karakter generasi, antara lain:
1.      Keluarga harus ikut terlibat membangun karakter generasinya melalui kepedulian dan keteladana orang tua dengan cara memperkenalkannya sejak dini dan mendampingi generasi. Keluarga adalah pembentuk paling signifikan dalam diri seseorang.
2.      Kalangan pelaku lembaga pendidikan dimanapun tingkat dan stratanya  khususnya sejak pendidikan dasar,
3.      Organisatoris: mempraktikkannya dan memberikan contoh teladan terbaik. Belajar dari model masyarakat kita yang  patron klien yaitu masyarakat yang sangat tergantung pada patron yang ada diatasnya.

B.     Metode Membangun Karakter
1.      Melalui keteladanan.
Dari sekian banyak metode membangun dan menanamkan kerakter, metode inilah yang paling kuat. Karena keteladanan memberikan gambaran secara nyata bagaimana seseorang harus bertindak. Keteladanan berarti kesediaan setiap orang untuk menjadi contoh dan miniatur yang sesungguhnya dari sebuah perilaku. Keteladanan harus bermula dari diri sendiri.
2.      Melalui simulasi praktik (experiential learning )
Dalam proses belajar, setiap informasi akan diterima dan diproses melalui beberapa jalur dalam otak dengan tingkat penerimaan yang beragam. Terdapat enam jalur menuju otak, antara lain melalui apa yang dilihat, didengar, dikecap, disentuh, dicium, dan dilakukan.
3.      Menggunakan metode ikon dan afirmasi (menempel dan menggantunng). Memperkenalkan sebuah sikap positif dapat pula dilakukan dengan memprovokasi semua jalur menuju otak kita khususnya dari apa yang kita lihat melalui tulisan atau gambar yang menjelaskan tentang sebuah sikap positif tertentu.
4.      Menggunakan metode Repeat Power
Yaitu dengan mengucapkan secara berulang-ulang sifat atau nilai positif yang ingin dibangun. Metode ini dapat pula disebut dengan metode Dzikir Karakter.
Metode Repeat Power adalah salah satu cara untuk mencapai sukses dengan menanamkan sebuah pesan positif pada diri kita secara terus menerus tentang apa yang ingin kita raih.
5.      Metode 99 Sifat Utama.
Metode ini adalah melakukan penguatan komitmen nilai-nilai atau sikap positif dengan mendasrkan pada 99 sifat utama (Asma’ul Husna) secara bergantian kemudian menuliskan komitmen perilaku aplikatif yang sesuai dengan sifat tersebut yang akan dipraktikkan pada hari itu.
6.      Membangun Kesepakatan Nilai Keunggulan.
Baik secara pribadi atau kelembagaan menetapkan sebuah komitmen bersama untuk membangun nilai-nilai positif yang akan menjadi budaya sikap atau budaya kerja yang akan ditampilkan dan menjadi karakter bersama.
7.      Melalui Penggunaan Metafora
Yaitu dengan menggunakan metode pengungkapan cerita yang diambil dari kisah-kisah nyata ataupun kisah yang inspiratif lainnya yang disampaikan secara rutin kepada setiap orang dalam  institusi tersebut dan menyampaikan kisah motivasi inspiratif tersebut dapat pula selalu diikutsertakan pada setiap proses pembelajaran atau sesi penyampaian motivasi pagi sebelum memulai pekerjaan.

C.     Target Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter harus ditekankan dalam pendidikan di indonesia sebagai upaya untuk mengatasi berbagai masalah yang berkembang. Berikut ini beberapa masalah yang dihadapi bangsa ini.
1.      Kemiskinan dan Keterbelakangan
Kemiskinan dan keterbelakangan merupakan suatu kondisi yang menyebabkan negara kita kian tertinggal jauh dengan negara lain. Generasi kita banyak menganggur dan kurang pendidikan sehingga pada situasi lanjut menyebabkan kerusakan moral dan krisis eksistensi diri. Di tingkat dunia, Indonesia menjadi negara pengutang  atau debit nomor 6, peringkat human rourches ke 112 dari 127 negara, dan pengangguran terbuka mencapai 12 juta.[2] Ketika angka pengangguran meningkat, sekolah selalu menuai badai tudingan masyarakat dan dunia kerja karena tidak mampu melahirkan lulusan yang bermutu.
2.      Konflik dan Kekerasan bernuansa SARA
Sifat majemuk dari bangsa Indonesia, disamping sebagai kebanggaan hendaknya pula disadari potensi konflik. Hal tersebut tidak boleh dikesampingkan dalam upaya menuju suatu integritas nasional Indonesia yang kukuh. Konflik merupakan salah satu esensi dari kehidupan dan perkembangan manusia yang mempunyai karakteristik beragam.
Satu hal yang harus diperhatikan ialah begitu mudahn terbakarnya isu-isu yang berkaitn dengan SARA sebenarnya tidak dilatarbelakangi perbedaan diantara segmen-segmen dalam masyarakat yang berhybungan dengan SARA, tetapi karena kesenjangan ekonomi, politik, maupun budaya.
3.      Dominasi budaya membodohi akibat pengaruh media terutama budaya menonton televisi
Pada perkembangan dewasa ini, pengaruh media terhadap anak semakin besar, teknologi semakin canggih, dan intensitasnya semakin tinggi. Padahal, orang tua tidak mempunyai cukup waktu untuk memerhatikan, mendampingi, dan mengawasi anak. Kebanyakan anak lebih lama menghabiskan waktu dengan menonton televisi dari pada melakukan aktivitas lain.
Berikut beberapa fakta tentang domonasi budaya membodohi akibat pengaruh tayangan media terutama budaya menonton televisi.
a.       Berpengaruh terhadap perkembangan otak anak
b.      Mendorong anak menjadi konsumtif
c.       Berpengaruh terhadap sifat
d.      Mengurangi semangat belajar
e.       Membentuk pola pikir sederhana
f.        Mengurangi konsentrasi
g.       Mengurangi kreativitas
h.      Menngkatkan kemungkinan obesitas
i.        Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
j.        Matang secara seksual lebih cepat
4.      Adanya korupsi yang meluas dan masih menggerogoti bangsa ini
Dalam konteks tantangan diatas, pendidikan karakter semakin penting dan semakin genting untuk kita implementasikan. Membangun karakter harus dilakukann secara komprehensif integral, tidak hanya melalui pendidika formal, tetapi juga melalui pendidikan informal dan non formal. Selain itu, tidak hanya menjadi tanggung jawab parsial dunia pendidikan. Tetapi menjadi tanggung jawab bersama antar pemerintah, masyarakat, kelurga, dan sekolah.
Para pemimpin di level pemerintahan dituntut memberikan teladan dalam pendidikan karakter, para pemimpin harus menampilkan perilaku terbaik dengan memenuhi ajaran Rasulullah  bahwa pemimpin yang terbaik adalah yang terbaik pelayanannya terhadap masyarakat. Pemimpin seperti ini tentu akan disibukkan dengan permasalahan rakyatnya, bukan persoalan pribadi atau golongannya. Pemimpin seperti ini senantiasa akan menampilkan kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Pada gilirannya nanti, kita saksikan rakyat memuliakan dan mengikuti karakter pemimpinnya.
5.      Kerusakan lingkungan alam akibat ulah manusia menjadi masalah serius di Indonesia
Salah satu kerusakan lingkungan alam akibat ulah manusia yang mudah sekali kita jumpai adalah kebakaran hutan. Ditinjau dari kategori bencana, bila dikelompokkan ke dalam bencana alam lainnya, seperti banjir, gempa bumi, dan angin puting beliung. Kebakaran hutan termasuk bencana yang menimbulkan bencana secara tidak langsung. Tinjauan ini didasari dari proses terjadinya bencana alam yang dapat di bedakan menjadi tiga proses, yaitu proses geologi, biologi, dan perubahan iklim.
Padahal, efeknya menyebabkan gangguan kesehatan bagi makhluk hidup yang menikmati asap tersebut. Generasi masa mendatang akan menyebabkan kerusakan ini terjadi sudah dari generasi sebelumnya.
Pendidikan karakter untuk menjaga lingkumgan hidup haruslah menyentuh sampai pada usia dini. Lembaga-lembaga pendidikan perlu memberikan pengajaran yang langsung untuk mengikuti pola pikir peserta didik agar dapat menjaga lingkungan.[3]     

D.    Model Pendidikan Karekter
Sesuai apa yang dinyatakan  oleh Elkind and Sweet (2004) praktik persekolahan  di Amerika Serikat pendidikan karakter dilaksanakan dengan pendekatan holistik (holistic approach). Artinya seluruh warga sekolah mulai dari guru, karyawan dan para murid harus terlibat dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan karakter. Hal yang paling penting disini adalah bahwa pengembangan karakter harus terintegrasi kedalam setiap aspek kehidupan sekolah. Pendekatn semacam ini disebut juga reformasi sekolah menyeluruh.
Berikut ini beberapa gambaran bagaimana penerapan model holistik dalam pendidikan karakter tersebut:
1.      Segala sesuatu yang ada di sekolah terorganisasikan di seputar hubungan antar siswa dan antara siswa dan guru beserta staf dan komunitas disekitarnya.
2.      Sekolah merupakan komunitas yang peduli (caring community) dimana terdapat ikatan yang kuat dan menghubungkan siswa dengan guru, staf, dan sekolah.
3.      Pembelajaran sosial dan pembelajaran emosi juga dikembangkan sebagaimana pembelajaran akademik.
4.      Kooperasi dan kolaborasi antar siswa lebih ditekankan pengembangannya dari pada kompetisi.
5.      Nilai-nilai seperti fairness, saling menghormati, dan kejujuran adalah bagian dari pembelajaran setiap hari, baik di dalam maupun di luar kelas.
Pada pelaksanaan pendidikan karakter, sekolah-sekolah dapat berkomitmen untuk mengembangkan pendidikan karakter dengan cara: 
1.      Menekan pentingnya nilai-nilai adab yang dikembangkan oleh orang dewasa sebagai model dalam kelas, yang akan di contoh oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Membantu siswa dalam memperjelas nilai-nila yang seharusnya mereka miliki, membangun ikatan personal serta tanggung jawab di antara mereka.
3.      Menggunakan kurikulum tradisional sebagai wahana untuk mengajarkan nilai-nilai dan menguji pertanyaan-pertanyaan terkait  konteks moral.
4.      Meningkatkan dan mempertajam refleksi moral peserta didik melalui diskusi, debat, curah pendapat, dan jurnal-jurnal.
5.      Meningkatkan penerapan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari melalui pelayanan komponen sekolah  terhadap masyarakat serta sebagai bentuk strategi pelibatan dalam masyarakat lainnya.
6.      Mendukung pengembangan guru dalam dimensi pengembangan moral dalam pelaksanaan dialog antar guru dalm konteks moral selama pelaksanaan tugasnya.
Di lain pihak, Schulman dan Mekler (1990) dalam publikasinya berjudul Bringing up A Moral Child menekankan bahwa yang penting dalam pendidikan moral adalah membuat anak agar berperilaku santun dan baik (good) dan berlaku adil (just), pengembangan good and just  adalah yang paling utama.[4] Dan dengan teknik pembelajaran tertentu pendidik dapat memengaruhi tingkat kedewasaan moral peserta didik. Tetapi karena perkembangan kedewasaan moral itu juga di tentukan oleh batas-batas yang diberikan oleh perkembangan psikologis, tidak masuk akal kalau kita mengajak peserta didik dari tingkat TK berdiskusi dilema moral.
Menurut David (2011) pelaksanaan pendidikan karakter memang umumnya mengacu pada teoro Lickona tentang pendidikan karakter. Implementasinya di lapangan (dalam kurikulum) dititikberatkan pada:
1.      Pembelajaran mental (berbasis otak) yang terdiri dari pengingatan fakta, secara konsisten menyimpan data terpilih tertentu dalam otak, seperti halnya cara kita menyimpan data di komputer.
2.      Pembelajaran jasmani melalui pengalaman langsung (hands-on experience), melibatkan seluruh panca indra, melibatkan hampir seluruh sistim saraf
3.      Pembelajaran emosi dan subliminal (dibawah ambang persepsi sadar), melibatkan siswa untuk berpraktek langsung tentang bagaimana jikamerasa gembira, takut, sedih, sayang atau cinta, peduli, euforia, dan merasa gembira yang meluap-luap (exultation).


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

Karakter memberikan arahan tentang bagaimana bangsa itu menapaki dan melewati suatu jaman dan mengantarkannya pada suatu derajat tertentu dan membangun karakter bangsa menjadi tanggung jawab bersama semua pihak dan komponen dari bangsa ini untuk ikut terlibat menyingsingkan lengan baju membangun karakter yang kuat dan khas. Semua potensi bangsa harusah bangkit dan bersatu padu untuk melakukan sebuah gerakan dan tindakan dalam membangun karakter bangsa agar negeri ini bangkit dan meraih cita-cita besarnya sehingga mampu sejajar dengan bangsa-bangsa besar lain di dunia dan mampu menberikan kontribusi bahkan menjadi pusat peradaban.
            Dalam membentuk sebuah karakter orang tua juga dilibatkan dalam pendidikan moral, dan ada beberapa jalan bagi seorang guru yang dapat dicoba untuk membantu keterlibatan orang tua di rumah . keberhasian dalam proses pendidikan antara lain dipengaruhi oleh ketetapan seorang guru dalam memilih dan mengaplikasikan metode-metode penanaman karakter. Para orang tua memerlukan informasi cerita yang berkaitan dengan semua cara dimana mereka dapat memengaruhi kesehatan, kebahagiaan, rasa percaya diri, dan karakter anak mereka. Para orang tua merupakan orang-orang yang berkuasa tapi sebagian besar dengan menyedihkan, meremehkan pentingnya mereka bagi anak-anak.







Daftar Pustaka
Muwafik Saleh. Membangun Karakter dengan Hati Nurani. Erlangga, Jakarta 2012
Novan Ardi Wiyani. Membumikan Pendidikan Karakter di SD. AR-RUZZ MEDIA, Jogjakarta 2013
Muchlas Samani dan Hariyanyo. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. PT REMAJA ROSDAKARYA, Bandung 2011


[1] Muwafik Saleh. Membangun Karakter dengan Hati Nurani. Erlangga, Jakarta 2012, hlm: 10
[2] Novan Ardi Wiyani. Membumikan Pendidikan Karakter di SD. AR-RUZZ MEDIA, Jogjakarta 2013, hlm: 55
[3] Novan Ardi Wiyani. Membumikan Pendidikan Karakter di SD. AR-RUZZ MEDIA, Jogjakarta 2013, hlm:69
[4] Muchlas Samani dan Hariyanyo. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. PT REMAJA ROSDAKARYA, Bandung 2011, hlm:141

Tidak ada komentar:

Posting Komentar