BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dewasa ini, karakter telah menjadi pembicaan yang sangat
hangat dikalangan masyarakat. Jika suatu
bangsa atau manusia tidak memiliki karakter apa yang akan terjadi dengan bangsa
atau manusia tersebut. Baik buruk suatu bangsa atau manusia ditentukan atau dipengaruhi
oleh bangunan karakter generasinya. Karakter yang kuat akan menjadikan sebuah
bangsa menjadi kuat pula. Karena dengan karakter, kita dapat membedakan dari
semua perilaku manusia. Dengan karakter manusia yang positif , akan dapat
mengurangi berbagai perilaku generasi muda, memberikan arahan bagaimana mereka
merengkuh masa depan. Karena itulah begitu pentingnya membangun karakter
manusia agar menjadi lebih baik.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pentingnya membangun karakter dan tanggung
jawabnya?
2.
Bagaimana metode membangun karakter?
3.
Bagaimana target pendidikan karakter?
4.
Bagaimana model pendidikan karakter
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pentingnya
Membangun Karakter dan Tanggung Jawabnya
Karakter
memberikan gambaran tentang suatu bangsa, sebagai penanda, penciri sekaligus
pembeda suatu bangsa dengan bangsa yang lainnya. Karakter memberikan arahan
tentang bagaimana bangsa itu menapaki dan melewati suatu jaman dan
mengantarkannya pada suatu derajat tertentu. Bangsa yang besar adalah bangsa
yang memiliki karakter yang mampu membangun sebuah peradaban besar yang
kemudian mempengaruhi perkembangan dunia. Michael H. Hart penulis buku 100
tokoh berpengaruh di dunia menempatkan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia paling
berpengaruh sepanjang sejarah
kemanusiaan, karena mampu mengubah subuah wajah karakter masyarakat dari realitas masyarakat yang
sangat tidak beradab. Realitas itu kemudian diubah dengan cara yang sangat
indah dan cerdas melalui keteladanan dan dibangun dengan karakter
masyarakatnya.
Membangun
karakter bangsa menjadi tanggung jawab bersama semua pihak dan komponen dari
bangsa ini untuk ikut terlibat menyingsingkan lengan baju membangun karakter
yang kuat dan khas. Semua potensi bangsa haruslah bangkit dan bersatu padu
untuk melakukan sebuah gerakan dan tindakan dalam membangun karakter bangsa
agar negeri ini bangkit dan meraih cita-cita besarnya sehingga mampu sejajar
dengan bangsa-bangsa besar lain di dunia dan mampu memberikan kontribusi bahkan
menjadi pusat peradaban.[1]
Semua itu tentu haruslah bermula dari semangat, visi, dan keteladanan yang
dimunculkan dalam diri para pemimpinnya, demikianlah yang pernah dialami oleh
negara-negara besar lainnya. Dari sinilah kemudian semua unsur masyarakat harus
terlibat membangun karakter generasi, antara lain:
1.
Keluarga
harus ikut terlibat membangun karakter generasinya melalui kepedulian dan
keteladana orang tua dengan cara memperkenalkannya sejak dini dan mendampingi
generasi. Keluarga adalah pembentuk paling signifikan dalam diri seseorang.
2.
Kalangan
pelaku lembaga pendidikan dimanapun tingkat dan stratanya khususnya sejak pendidikan dasar,
3.
Organisatoris:
mempraktikkannya dan memberikan contoh teladan terbaik. Belajar dari model
masyarakat kita yang patron klien yaitu
masyarakat yang sangat tergantung pada patron yang ada diatasnya.
B.
Metode
Membangun Karakter
1.
Melalui
keteladanan.
Dari
sekian banyak metode membangun dan menanamkan kerakter, metode inilah yang
paling kuat. Karena keteladanan memberikan gambaran secara nyata bagaimana
seseorang harus bertindak. Keteladanan berarti kesediaan setiap orang untuk
menjadi contoh dan miniatur yang sesungguhnya dari sebuah perilaku. Keteladanan
harus bermula dari diri sendiri.
2.
Melalui
simulasi praktik (experiential learning )
Dalam
proses belajar, setiap informasi akan diterima dan diproses melalui beberapa
jalur dalam otak dengan tingkat penerimaan yang beragam. Terdapat enam jalur
menuju otak, antara lain melalui apa yang dilihat, didengar, dikecap, disentuh,
dicium, dan dilakukan.
3.
Menggunakan
metode ikon dan afirmasi (menempel dan menggantunng). Memperkenalkan sebuah
sikap positif dapat pula dilakukan dengan memprovokasi semua jalur menuju otak
kita khususnya dari apa yang kita lihat melalui tulisan atau gambar yang
menjelaskan tentang sebuah sikap positif tertentu.
4.
Menggunakan
metode Repeat Power
Yaitu
dengan mengucapkan secara berulang-ulang sifat atau nilai positif yang ingin
dibangun. Metode ini dapat pula disebut dengan metode Dzikir Karakter.
Metode
Repeat Power adalah salah satu cara untuk mencapai sukses dengan menanamkan
sebuah pesan positif pada diri kita secara terus menerus tentang apa yang ingin
kita raih.
5.
Metode
99 Sifat Utama.
Metode
ini adalah melakukan penguatan komitmen nilai-nilai atau sikap positif dengan
mendasrkan pada 99 sifat utama (Asma’ul Husna) secara bergantian kemudian
menuliskan komitmen perilaku aplikatif yang sesuai dengan sifat tersebut yang
akan dipraktikkan pada hari itu.
6.
Membangun
Kesepakatan Nilai Keunggulan.
Baik secara
pribadi atau kelembagaan menetapkan sebuah komitmen bersama untuk membangun
nilai-nilai positif yang akan menjadi budaya sikap atau budaya kerja yang akan
ditampilkan dan menjadi karakter bersama.
7.
Melalui
Penggunaan Metafora
Yaitu
dengan menggunakan metode pengungkapan cerita yang diambil dari kisah-kisah
nyata ataupun kisah yang inspiratif lainnya yang disampaikan secara rutin
kepada setiap orang dalam institusi
tersebut dan menyampaikan kisah motivasi inspiratif tersebut dapat pula selalu
diikutsertakan pada setiap proses pembelajaran atau sesi penyampaian motivasi
pagi sebelum memulai pekerjaan.
C.
Target
Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter harus ditekankan dalam
pendidikan di indonesia sebagai upaya untuk mengatasi berbagai masalah yang
berkembang. Berikut ini beberapa masalah yang dihadapi bangsa ini.
1.
Kemiskinan
dan Keterbelakangan
Kemiskinan
dan keterbelakangan merupakan suatu kondisi yang menyebabkan negara kita kian
tertinggal jauh dengan negara lain. Generasi kita banyak menganggur dan kurang
pendidikan sehingga pada situasi lanjut menyebabkan kerusakan moral dan krisis
eksistensi diri. Di tingkat dunia, Indonesia menjadi negara pengutang atau debit nomor 6, peringkat human rourches
ke 112 dari 127 negara, dan pengangguran terbuka mencapai 12 juta.[2]
Ketika angka pengangguran meningkat, sekolah selalu menuai badai tudingan
masyarakat dan dunia kerja karena tidak mampu melahirkan lulusan yang bermutu.
2.
Konflik
dan Kekerasan bernuansa SARA
Sifat
majemuk dari bangsa Indonesia, disamping sebagai kebanggaan hendaknya pula
disadari potensi konflik. Hal tersebut tidak boleh dikesampingkan dalam upaya
menuju suatu integritas nasional Indonesia yang kukuh. Konflik merupakan salah
satu esensi dari kehidupan dan perkembangan manusia yang mempunyai
karakteristik beragam.
Satu hal
yang harus diperhatikan ialah begitu mudahn terbakarnya isu-isu yang berkaitn
dengan SARA sebenarnya tidak dilatarbelakangi perbedaan diantara segmen-segmen
dalam masyarakat yang berhybungan dengan SARA, tetapi karena kesenjangan
ekonomi, politik, maupun budaya.
3.
Dominasi
budaya membodohi akibat pengaruh media terutama budaya menonton televisi
Pada
perkembangan dewasa ini, pengaruh media terhadap anak semakin besar, teknologi
semakin canggih, dan intensitasnya semakin tinggi. Padahal, orang tua tidak
mempunyai cukup waktu untuk memerhatikan, mendampingi, dan mengawasi anak.
Kebanyakan anak lebih lama menghabiskan waktu dengan menonton televisi dari
pada melakukan aktivitas lain.
Berikut
beberapa fakta tentang domonasi budaya membodohi akibat pengaruh tayangan media
terutama budaya menonton televisi.
a.
Berpengaruh
terhadap perkembangan otak anak
b.
Mendorong
anak menjadi konsumtif
c.
Berpengaruh
terhadap sifat
d.
Mengurangi
semangat belajar
e.
Membentuk
pola pikir sederhana
f.
Mengurangi
konsentrasi
g.
Mengurangi
kreativitas
h.
Menngkatkan
kemungkinan obesitas
i.
Merenggangkan
hubungan antar anggota keluarga
j.
Matang
secara seksual lebih cepat
4.
Adanya
korupsi yang meluas dan masih menggerogoti bangsa ini
Dalam
konteks tantangan diatas, pendidikan karakter semakin penting dan semakin
genting untuk kita implementasikan. Membangun karakter harus dilakukann secara
komprehensif integral, tidak hanya melalui pendidika formal, tetapi juga
melalui pendidikan informal dan non formal. Selain itu, tidak hanya menjadi
tanggung jawab parsial dunia pendidikan. Tetapi menjadi tanggung jawab bersama
antar pemerintah, masyarakat, kelurga, dan sekolah.
Para
pemimpin di level pemerintahan dituntut memberikan teladan dalam pendidikan
karakter, para pemimpin harus menampilkan perilaku terbaik dengan memenuhi
ajaran Rasulullah bahwa pemimpin yang
terbaik adalah yang terbaik pelayanannya terhadap masyarakat. Pemimpin seperti
ini tentu akan disibukkan dengan permasalahan rakyatnya, bukan persoalan
pribadi atau golongannya. Pemimpin seperti ini senantiasa akan menampilkan
kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Pada gilirannya nanti, kita saksikan
rakyat memuliakan dan mengikuti karakter pemimpinnya.
5.
Kerusakan
lingkungan alam akibat ulah manusia menjadi masalah serius di Indonesia
Salah
satu kerusakan lingkungan alam akibat ulah manusia yang mudah sekali kita
jumpai adalah kebakaran hutan. Ditinjau dari kategori bencana, bila
dikelompokkan ke dalam bencana alam lainnya, seperti banjir, gempa bumi, dan
angin puting beliung. Kebakaran hutan termasuk bencana yang menimbulkan bencana
secara tidak langsung. Tinjauan ini didasari dari proses terjadinya bencana
alam yang dapat di bedakan menjadi tiga proses, yaitu proses geologi, biologi,
dan perubahan iklim.
Padahal,
efeknya menyebabkan gangguan kesehatan bagi makhluk hidup yang menikmati asap
tersebut. Generasi masa mendatang akan menyebabkan kerusakan ini terjadi sudah
dari generasi sebelumnya.
Pendidikan
karakter untuk menjaga lingkumgan hidup haruslah menyentuh sampai pada usia
dini. Lembaga-lembaga pendidikan perlu memberikan pengajaran yang langsung
untuk mengikuti pola pikir peserta didik agar dapat menjaga lingkungan.[3]
D.
Model
Pendidikan Karekter
Sesuai apa yang dinyatakan oleh Elkind and Sweet (2004) praktik persekolahan di Amerika Serikat pendidikan karakter
dilaksanakan dengan pendekatan holistik (holistic approach). Artinya
seluruh warga sekolah mulai dari guru, karyawan dan para murid harus terlibat
dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan karakter. Hal yang paling
penting disini adalah bahwa pengembangan karakter harus terintegrasi kedalam
setiap aspek kehidupan sekolah. Pendekatn semacam ini disebut juga reformasi
sekolah menyeluruh.
Berikut ini beberapa gambaran bagaimana
penerapan model holistik dalam pendidikan karakter tersebut:
1.
Segala
sesuatu yang ada di sekolah terorganisasikan di seputar hubungan antar siswa
dan antara siswa dan guru beserta staf dan komunitas disekitarnya.
2.
Sekolah
merupakan komunitas yang peduli (caring community) dimana terdapat ikatan yang
kuat dan menghubungkan siswa dengan guru, staf, dan sekolah.
3.
Pembelajaran
sosial dan pembelajaran emosi juga dikembangkan sebagaimana pembelajaran
akademik.
4.
Kooperasi
dan kolaborasi antar siswa lebih ditekankan pengembangannya dari pada
kompetisi.
5.
Nilai-nilai
seperti fairness, saling menghormati, dan kejujuran adalah bagian dari
pembelajaran setiap hari, baik di dalam maupun di luar kelas.
Pada
pelaksanaan pendidikan karakter, sekolah-sekolah dapat berkomitmen untuk
mengembangkan pendidikan karakter dengan cara:
1.
Menekan
pentingnya nilai-nilai adab yang dikembangkan oleh orang dewasa sebagai model
dalam kelas, yang akan di contoh oleh peserta didik dalam kehidupan
sehari-hari.
2.
Membantu
siswa dalam memperjelas nilai-nila yang seharusnya mereka miliki, membangun
ikatan personal serta tanggung jawab di antara mereka.
3.
Menggunakan
kurikulum tradisional sebagai wahana untuk mengajarkan nilai-nilai dan menguji
pertanyaan-pertanyaan terkait konteks
moral.
4.
Meningkatkan
dan mempertajam refleksi moral peserta didik melalui diskusi, debat, curah
pendapat, dan jurnal-jurnal.
5.
Meningkatkan
penerapan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari melalui pelayanan komponen
sekolah terhadap masyarakat serta
sebagai bentuk strategi pelibatan dalam masyarakat lainnya.
6.
Mendukung
pengembangan guru dalam dimensi pengembangan moral dalam pelaksanaan dialog
antar guru dalm konteks moral selama pelaksanaan tugasnya.
Di lain
pihak, Schulman dan Mekler (1990) dalam publikasinya berjudul Bringing up A
Moral Child menekankan bahwa yang penting dalam pendidikan moral adalah
membuat anak agar berperilaku santun dan baik (good) dan berlaku adil (just),
pengembangan good and just adalah
yang paling utama.[4]
Dan dengan teknik pembelajaran tertentu pendidik dapat memengaruhi tingkat
kedewasaan moral peserta didik. Tetapi karena perkembangan kedewasaan moral itu
juga di tentukan oleh batas-batas yang diberikan oleh perkembangan psikologis,
tidak masuk akal kalau kita mengajak peserta didik dari tingkat TK berdiskusi
dilema moral.
Menurut
David (2011) pelaksanaan pendidikan karakter memang umumnya mengacu pada teoro
Lickona tentang pendidikan karakter. Implementasinya di lapangan (dalam
kurikulum) dititikberatkan pada:
1.
Pembelajaran
mental (berbasis otak) yang terdiri dari pengingatan fakta, secara konsisten
menyimpan data terpilih tertentu dalam otak, seperti halnya cara kita menyimpan
data di komputer.
2.
Pembelajaran
jasmani melalui pengalaman langsung (hands-on experience), melibatkan
seluruh panca indra, melibatkan hampir seluruh sistim saraf
3.
Pembelajaran
emosi dan subliminal (dibawah ambang persepsi sadar), melibatkan siswa untuk
berpraktek langsung tentang bagaimana jikamerasa gembira, takut, sedih, sayang
atau cinta, peduli, euforia, dan merasa gembira yang meluap-luap (exultation).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Karakter
memberikan arahan tentang bagaimana bangsa itu menapaki dan melewati suatu
jaman dan mengantarkannya pada suatu derajat tertentu dan membangun karakter
bangsa menjadi tanggung jawab bersama semua pihak dan komponen dari bangsa ini
untuk ikut terlibat menyingsingkan lengan baju membangun karakter yang kuat dan
khas. Semua potensi bangsa harusah bangkit dan bersatu padu untuk melakukan
sebuah gerakan dan tindakan dalam membangun karakter bangsa agar negeri ini
bangkit dan meraih cita-cita besarnya sehingga mampu sejajar dengan
bangsa-bangsa besar lain di dunia dan mampu menberikan kontribusi bahkan
menjadi pusat peradaban.
Dalam membentuk sebuah karakter
orang tua juga dilibatkan dalam pendidikan moral, dan ada beberapa jalan bagi
seorang guru yang dapat dicoba untuk membantu keterlibatan orang tua di rumah .
keberhasian dalam proses pendidikan antara lain dipengaruhi oleh ketetapan
seorang guru dalam memilih dan mengaplikasikan metode-metode penanaman
karakter. Para orang tua memerlukan informasi cerita yang berkaitan dengan
semua cara dimana mereka dapat memengaruhi kesehatan, kebahagiaan, rasa percaya
diri, dan karakter anak mereka. Para orang tua merupakan orang-orang yang
berkuasa tapi sebagian besar dengan menyedihkan, meremehkan pentingnya mereka
bagi anak-anak.
Daftar
Pustaka
Muwafik
Saleh. Membangun Karakter dengan Hati Nurani. Erlangga, Jakarta 2012
Novan
Ardi Wiyani. Membumikan Pendidikan Karakter di SD. AR-RUZZ MEDIA, Jogjakarta
2013
Muchlas
Samani dan Hariyanyo. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. PT REMAJA
ROSDAKARYA, Bandung 2011
[1] Muwafik Saleh. Membangun Karakter dengan Hati Nurani. Erlangga,
Jakarta 2012, hlm: 10
[2] Novan Ardi Wiyani. Membumikan Pendidikan Karakter di SD. AR-RUZZ
MEDIA, Jogjakarta 2013, hlm: 55
[3] Novan Ardi Wiyani. Membumikan Pendidikan Karakter di SD. AR-RUZZ
MEDIA, Jogjakarta 2013, hlm:69
[4] Muchlas Samani dan Hariyanyo. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. PT
REMAJA ROSDAKARYA, Bandung 2011, hlm:141
Tidak ada komentar:
Posting Komentar